Hadapi Era Revolusi Industri 4.0, Prof. Sirozi Tekankan Pentingnya Penguasaan Teknologi Digital dan Pendidikan Karakter

JATI AGUNG – Prof. Dr. H. M. Sirozi, Ph.D, Koordinator Kopertais (Koordinasi Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta) Wilayah VII menjadi narasumber dalam acara Pembinaan Dosen dalam meningkatkan mutu pembelajaran yang diadakan oleh IAI An Nur Lampung, Jati Agung, (10/2). Acara ini dihadiri seluruh civitas akademika IAI An Nur.

Dr. H. Andi warisno, M.MPd. rektor IAI An Nur dalam sambutannya mengatakan, acara tersebut diadakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kampus yang dipimpinnya, “Untuk kemajuan IAI An Nur, saya harap seluruh peserta yang hadir bisa menyimak dan mengamalkan apa yang nantinya disampaikan oleh pemateri, khususnya bagi para dosen.”

Dr. H. Andi Warisno, M.MPd. (Rektor IAI An Nur Lampung)

Dalam uraiannya di hadapan civitas akademika IAI An Nur, Prof. Sirozi menjelaskan era yang saat ini sedang dihadapi oleh manusia, yakni era revolusi industri 4.0, yang menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Menghadapi tantangan tersebut, pengajaran di perguruan tinggi pun dituntut untuk berubah, termasuk dalam menghasilkan dosen berkualitas bagi generasi masa depan.

“Saya mengajak bapak/ibu berkontemplasi sedikit. Sekarang kita berada di industri 4.0. yang disebut juga era disrupsi. Secara umum disrupsi adalah suatu kondisi terjadinya kekacauan, situasi yang tidak terkendali. Banyak hal yang tercerabut dari akarnya, seperti anak ayam yang kehilangan induknya,” ungkap Prof. Sirozi yang juga merupakan rektor UIN Raden Fatah Palembang ini.

Menurutnya, ini adalah era dimana sesuatu sulit dikendalikan, sulit dikontrol. Fenomena hoax misalnya. Hal ini tidak mungkin terjadi pada masa silam. Dan kita tidak bisa memprediksi masa datang.

Persoalannya adalah, perubahan terjadi begitu cepat, cepat dan menyeluruh, menyentuh hamper semua aspek kehidupan, situasi politik, ekonomi, bahkan suasana batin sekali pun. Pada intinya di era ini banyak proses yang tidak bisa diprediksi.

Dalam konteks pendidikan di perguruan tinggi, Prof. Sirozi menjelaskan, “Di era ini kita memberikan perhatian yang besar kepada sumber daya manusia. Untuk menentukan apakah kita menjadi bagian yang tercerabut atau menjadi aktor yang ikut memainkan peran dalam perbuahan tersebut. termasuk di perguruan tinggi. Bahwa kita harus punya fasilitas fisik di perguruan tinggi adalah benar, namun sumber daya manusia yang mejadikan kita kokoh dan mampu memainkan peran penting di era industry 4.0 ini.”

Prof Sirozi mencontohkon fakta di beberapa perguruan tinggi ternama di dunia, “Kalau kita berkunjung ke universitas-universitas terbaik di dunia, kebanyakan gedungnya tua-tua. Tetapi mengapa mereka bisa menjadi kiblat bagi pengetahuan dunia? Karena, banyak ilmuan, periset, dan penemu yang ada disana. Setiap doktor di Malaysia misalnya, paling tidak selama enam bulan itu harus punya satu publikasi ilmiah, itu di Malaysia.”

Persoalan pendidikan di  Indonesia adalah membangun budaya akademik. Untuk itu perguruan tinggi memerlukan pengajar yang benar-benar memenuhi kualifikasi sebagai pendidik. Persoalan di  Indonesia menurut Prof. Sirozi adalah proses rekrutmen dosen tidak jauh beda dengan proses rekrutmen tenaga administratif.

Prof. Sirozi mengatakan, “Di  era ini, profesi apapun harus akrab dengan teknologi digital. Karena disrupsi tadi bisa mengubah iklim dalam dunia akademik. Termasuk dosen sebagai pengajar. Jadi skill teknologi digital harus terus diupgrade, agar tidak tertinggal.”

Menurutnya, sumber daya urgen dan penting adalah kreativitas dan inovasi, tanpa kreativitas dan inovasi, akan cepat tergilas oleh perkembangan zaman. Seorang pendidik akan bingung menghadapi situasi yang terjadi. Inovasi saja sebenarnya tidak cukup, tetapi juga integritas. Saat ini manusia hidup dimana orang sangat sulit mendapat kepercayaan, oleh karena itu dibutuhkan bukti keintegritasan tersebut. Dalam hal ini, Prof. Sirozi menyatakan

“Kalau seorang pengajar hanya sebatas transfer ilmu, teknologi sudah sangat lebih dari cukup untuk memberikannya. Maka kita harus bisa memberikan sesuatu  yang tidak bisa diberikan oleh teknologi. Pendidikan itu bukan hanya transfer of knowledge, tetapi juga transfer of value.  Guru harus bisa menjadi role model bagi murid, guru harus bisa menanamkan nilai-nilai kebaikan, menjadi suri tauladan manusia yang berintegeritas kepada muridnya.” Ungkapnya.

(tomi/red)