5 Kemuliaan di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Apa Saja?

47

Terdapat sejumlah keterangan dari dalil-dalil syariat tentang keutamaan dan kemuliaan 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan. Serta kemuliaan beribadah di dalamnya.

Motivasi Nabi – shallallaahu ‘alaihi wa sallam

Dari Aisyah – radliyallaahu ‘anha – berkata: “Rasulullah – shallallaahu ‘alaihi wa sallam – bila memasuki sepuluh hari — yakni sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan — mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari Muslim)

Dari Aisyah – radliyallaahu ‘anha – berkata: “Pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan, Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wasallam – lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya.” (HR. Muslim)

I’tikaf Istimewa

Pada dasarnya, i’ikaf dianjurkan pada setiap waktu. Tidak terbatas hanya pada bulan Ramadhan saja. Namun i’tikaf di 10 terakhir bulan Ramadhan adalah i’tikaf yang istimewa. Karena secara khusus Nabi saw menganjurkannya. Dan bahkan diteruskan oleh para ummahat al-mu’minin setelah beliau wafat.

Dari Abu Sa’id al-Khudri – radliyallaahu ‘anhu -: Rasulullah – shallallaahu ‘alaihi wa sallam – bersabda: “Siapa yang ingin beri’tikaf denganku, maka lakukanlah pada sepuluh terakhir.” (HR. Bukhari)

Dari Aisyah – radliallahu ‘anha –: Bahwa Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – melakukan I’tikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadlan, hingga Allah ‘azza wajalla mewafatkannya. Setelah itu, isteri-isternya pun melakukan I’tikaf.” (HR. Muslim)

Potensi Lailah al-Qadar

Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wasallam – menginformasikan bahwa 10 hari terakhir Ramadhan adalah hari-hari yang sangat berpotensi akan datangnyya lailah al-qadar (malam al-qadar).

Dari Aisyah – radhiyallahu ‘anha -: Rasulullah – shallallaahu ‘alaihi wa sallam – bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan.” (HR. Bukhari Muslim)

Malam Nuzul al-Qur’an

Sepuluh malam terakhir Ramadhan juga dimuliakan dengan diturunkannya al-Qur’an. Sebab al-Qur’an diturunkan pada malam “lailatul qadar.”

Namun bukan berarti maksud turunnya al-Qur’an pada salah satu malam di 10 hari terakhir Ramadhan, bertentangan dengan turunnya al-Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan. Namun maksudnya adalah bahwa al-Qur’an melalui beberapa proses penurunan. Di mana diturunkannya pertama kali secara utuh di langit dunia pada malam “lailatul qadar.” Lalu diturunkan pertama kalinya kepada Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wasallam – pada hari ke 17 dari bulan Ramadhan.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: al-Qur’an diturunkan pada malam al-Qadar di bulan Ramadhan, ke langit dunia secara keseluruhan. Kemudian diturunkan (kepada Nabi Muhammad – shallallaahu ‘alaihi wa sallam -) secara berangsur-angsur. (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir)

Malam Mubarok

Di dalam al-Qur’an, Allah swt juga mensifati malam “lailatul qadar” yang berada pada salah satu malam di antara 10 malam terakhir Ramadhan dengan malam yang penuh keberkahan. Di mana makna barokah itu sendiri adalah limpahan kebaikan yang sangat banyak.

Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Quran) pada suatu malam yang diberkahi … (QS. Ad-Dukhan: 3)

Imam ath-Thahir Ibnu Asyur (w. 1393 H) berkata dalam tafsirnya, at-Tahrir wa at-Tanwir, saat menafsirkan QS. Ad-Dukhan ayat 3:

Allah swt berfirman: Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan (4) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (5) (QS. Al-Qadar: 4-5). Dan inilah termasuk makna keberkahan malam tersebut. Dan sungguhnya, berapa banyak keberkahan yang diberikan kepada kaum muslimin dalam agama mereka. Dan bisa jadi keberkahan itu juga melipti urusan yang baik dari urusan-urusan dunia mereka. (Muhammad ath-Thahir Ibnu Asyur, at-Tahrir wa at-Tanwir, hlm. 25/277-278.)

Sumber:
Isnan Ansory, Lc., M.Ag., I’tikaf, Qiyam al-Lail, Shalat ’Ied dan Zakat al-Fithr di Tengah Wabah, Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2020.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini