Raja’: Pengertian, Ciri-ciri, Cara membiasakan, Hikmah dan Keutamaannya

Raja': Pengertian, Ciri-ciri, Cara membiasakan, Hikmah dan Keutamaannya
Raja’: Pengertian, Ciri-ciri, Cara membiasakan, Hikmah dan Keutamaannya

Pengertian Rajā

Secara bahasa rajā’ berasal dari kata rajaa yarjuu rajā ajā’ an, yang berarti mengharap dan pengharapan. Apabila dikatakan rajā’ahu maka artinya ammalahu: dia mengharapkannya. Jika dirunut dari makna bahasa, maka asal makna rajā’ adalah menginginkan atau menantikan sesuatu yang disenangi.

Menginginkan kebaikan yang ada di sisi Allah berupa keutamaan, ihsan dan kebaikan dunia akhirat. Raja’ adalah sikap mengharap rida, rahmat, dan pertolongan Allah Swt. serta yakin hal itu dapat diraih.

Mengharap atau harapan menurut Al-Gazali adalah kegembiraan hati karena menanti harapan yang kita senangi dan kita idam-idamkan. Harapan yang kita nantikan harus disertai dengan ikhtiar, doa dan tawakkal.

Harapan yang tidak disertai usaha dan doa dapat menjadikan seseorang menghayal atau berangan-angan. Khayalan atau angan- angan kosong disebut Gurur. Orang yang hanya berikhtiar tanpa doa maka sesungguhnya ia adalah orang yang sombong, sedang orang yang hanya berdoa tanpa disertai dengan ikhtiar, ia adalah orang yang pemalas. Setelah berikhtiar dan berdoa maka kita bertawakkal kepada Allah Swt.

Jika mengharap ridha, rahmat, serta pertolongan Allah Swt., kita harus memenuhi ketentuan Allah Swt. jika kita tidak pernah melakukan salat ataupun ibadah-ibadah lainnya jangan harap akan meraih ridha, rahmat, atau pertolongan Allah Swt. Sementara orang yang sudah tidak punya harapa disebut orang yang putus asa, dan ini sangat berbahaya.

Sayidina Ali bin Abi Thalib, r.a. berkata, ”Sesungguhnya orang alim yang benar ialah yang tidak membuat orang-orang putus asa terhadap rahmat Allah dan tidak membuat orang merasa aman dari hukuman Allah.”

Oleh karena itu, para ulama adalah pewaris para nabi. Ulama adalah dokter-dokter hati yang memberikan nasihat yang mendatangkan harapan (raja’) bagi setiap orang sakit.

Allah rida terhadap mereka dan mereka pun    rida kepada-Nya. (QS. Al-Bayyinah [98] : 8)

Ciri-Ciri sifat Rajā

  1. Optimis

Optimis memungkinkan seseorang melewati setiap tahapan kehidupan dengan lebih indah dan membuat suasana hati lebih terang. Rasa optimis dapat menghilangkan penderitaan batin seseorang dan harapannya dapat timbul kembali. Tidak ada faktor yang mampu mengurangi beban permasalahan dalam kehidupan ini, sebagaimana daya dan kekuatan yang terkandung dalam rasa optimisme.

Rona kebahagiaan akan tampak diwajah orang yang optimis, tidak saja ketika ia menikmati kepuasan hidup, juga sepanjang hidupnya baik dalam situasi positif maupun negatif

Dalam berusaha mencapai cita-cita tidak jarang kita menemui kesulitan, hambatan, bahkan tantangan, namun satu yang perlu kita yakini bahwa Allah Swt. akan memberikan jalan keluar dari kesulitan tersebut.

Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Al-Insyirāh [94] : 5-6)

Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.(QS. At-Talāq [65] : 7)

Orang yang sakitpun harus mempunyai perasaan optimis akan mudah sembuh dan memiliki semangat hidup. Keyakinan akan sembuh dan semangat untuk hidup akan memberikan sugesti tersendiri sehingga membantu proses penyembuhan.

Rasa putus asa hampir selalu menghinggapi jiwa manusia. Kenyataan dalam hidup ini, kadang mengharuskan seseorang berhadapan dengan kesulitan, kemelut, frustasi, serta kegagalan. Namun, sebagai orang yang beriman dan bermental kuat, kita harus mempunyai perlawanan untuk mengalahkan rasa frustasi, mengatasi kesulitan, kemelut, gelisah dan kemudian bangkit dari kegagalan.

…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.(Q.S. Yūsuf [12] Ayat 87)

Orang bijak mengatakan,”Kemasyhuran tidak terletak pada kenyataan bahwa kita tidak pernah jatuh, tetapi kita bangkit lagi setelah jatuh.” Artinya untuk meraih kesuksesan, kemasyhuran dan lain sebagainya harus didahului oleh sebuah proses yang terkadang cukup panjang yang mengharuskan seseorang harus jatuh bangun.

Percaya kepada diri sendiri adalah sikap yang sangat penting dalam mencapai usaha atau cita-cita. Pada dasarnya cita-cita akan mudah diraih jika kita yakin mampu meraihnya. Akan tetapi, sangat disayangkan jika dalam pikiran kita selalu membayangkan kegagalan, ragu-ragu, dan rasa takut. Ibarat orang yang akan bertanding, kalah sebelum berperang. Sebagaimana kata bijak:

Percaya pada diri sendiri adalah kunci kesuksesan

Agar keyakinan menjadi kuat, perlu disertai dengan semangat percaya diri dengan membuang rasa takut dan ragu. Menghargai dan percaya diri sangat diperlukan agar dapat menemukan jati diri yang seutuhnya sehingga usaha meraih cita-cita dapat berhasil.

Mari kita renungkan ungkapan orang yang selalu optimis dan percaya kepada diri sendiri berikut ini.

“ Aku percaya kepada diri dan kemampuanku karena aku tahu bahwa sebutir kepercayaan diri lebih besar nilainya daripada sekarung bakat yang tertidur. Yakin dan percaya kepada Allah dan percaya diri menciptakan mukjizat di atas dunia.”

  1. Dinamis

Dinamis adalah sikap untuk terus berkembang, berpikr cerdas, penuh kreasi, dan rajin beradaptasi dengan lingkungan. Orang yang dinamis tidak akan mudah merasa puas dengan prestasi- prestasi yang ia peroleh, tetapi akan berusaha terus menerus untuk meningkatkan kualitas diri.

Allah Swt. mengajarkan kepada kita apabila selesai menyelesaikan suatu urusan atau tugas maka bergegaslah untuk merencanakan program-program berikutnya. Itulah ajaran dinamis, seperti yang terkandung dalam QS. Al-Insyirāh [94] : 7-8 dan Al-Jumu’ah [62] : 10 berikut:

Maka  apabila  engkau  telah  selesai  (sesuatu   urusan), tetaplah    bekerja    keras     (untuk     urusan     yang     lain). (.S. Al-Insyirāh [94] : 7- 8)

Apabila  salat  telah   dilaksanakan,   maka   bertebaranlah kamu    di    muka    bumi    dan    carilah    karunia     Allah. (QS. Al-Jumu’ah [62] : 10)

Kita tidak bisa berdiam diri berpangku tangan tanpa mempunyai inisiatif untuk melakukan hal-hal yang positif. Imam Syafi’i pernah mengingatkan kepada kita dengan nasihat berikut.

Harimau harus keluar dari gua jika ingin makan. Air yang bergerak akan lebih bersih, bening, dan jauh dari berbagai penyakit.

Demikian pula batu yang bergerak akan menghasilkan suara dan percikan api yang akan berguna bagi manusia. Orang yang dinamis akan bekerja keras dalam melakukan usaha baik yang berhubungan dengan aspek duniawi maupun ukhrawi.

Orang yang dinamis akan jauh dari sifat malas, berpangku tangan menunggu bintang jatuh atau hujan emas. Ia akan selalu berusaha dan bertindak sehingga tampak inovatif dan kreatif. Nabi Muhammad Saw. mengajarkan doa kepada kita agar terlindung dari sifat negatif termasuk sifat bermalas-malasan. Doa itu sebagai berikut

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan, rasa takut, aku berlindung kepada-Mu dari kondisi lemah dan malas. aku berlindung kepada-Mu dari rasa takut, dan kikir, aku berlindung kepada-Mu dari hutang dan jajahan orang lain. (HR. Abu Daud)

Tiap hasil yang besar adalah gabungan dari hasil yang kecil, sedikit demi sedikit lama menjadi bukit. Apalah artinya satu lidi jika tidak bergabung dengan kumpulan lidi yang lain dan menjadi sebuah sapu yang sangat bermanfaat untuk kebersihan. Dan sebagaimana pepatah arab berikut.

Setetes demi setetes maka jadilah lautan itu

Rasulullah saw. menegaskan dalam sabdanya berikut

Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang dikerjakan terus-menerus, walaupun hanya sedikit (HR. Ahmad)

Sikap dinamis menuntut kreatifitas dan mengisi waktu luang dengan kegiatan positif, menciptakan kreasi baru serta tidak mebiasakan diri berperilaku statis dan konsumtif.

Perhatikan juga enam resep sehingga kita bisa berakhalkul karimah, menghindari akhla madzmumah seta mempunyai sikap dinamis, seperti yang disampaikan KH. Mawardi Labbay El Sulthani berikut:

  1. Mengingat keutamaan, menahan marah, dan menyadari terpujinya sifat pemaaf, seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an dan sunnah
  2. Mengingat pedihnya siksa Allah Swt. serta sadar kekuasaan Allah Swt. lebih besar daripada kekuasaan diri kita. Sadar bahwa kita juga sedang mengharap ampunan Allah supaya di hari akhir nanti tidak mendapat siksa.
  3. Ingatlah, akibat dari permusuhan, iri, dan dengki yang dapat menyebabkan pertikaian
  4. Bercerminlah supaya kita melihat rupa yang jelek, tak ubahnya seperti seekor anjing yang buta yang sedang kehausan
  5. Melakukan semua hal yang dapat menyembuhkan dendam dan Renungkan kenapa takut dipandang rendah di hadapan manusia, tetapi tidak takut dipandang rendah oleh Allah Swt. dan Rasulullah Saw. dihari kiamat.
  6. Renungkanlah, apakah marah itu disebabkan oleh sesuatu yang pantas kita marah atau tidak? Ceritakanlah, pengalaman kita kepada orang lain, apakah menurut ukuran orang lain kasus yang kita hadapi pantas dilakukan dengan rasa marah atau tidak sehingga mengakibatkan kita menyesal dikemudian hari?

Sejarah telah membuktikan bahwa Rasulullah saw. sering diejek, dilempari, dan diancam akan dibunuh, tetapi beliau tetap tabah dan tenang menghadapi semuanya. Bahkan, beliau selalu menjawab ejekan dengan doa kebaikan untuk yang mengejek.

Ya Allah berilah ampun untuk kaumku karena mereka tidak mengerti. (HR. Bukhari)

Cara Membiasakan Sifat Raja

Sifat raja’ adalah sikap mengharap ridha, rahmat, dan pertolongan Allah Swt. dengan keyakinan bahwa hal tersebut dapat diraih.

Untuk membiasakan diri memiliki sifat raja’, berikut beberapa langkah yang dapat diambil:

  1. Meningkatkan Pemahaman tentang Agama. Pelajari dan pahami ajaran Islam melalui Al-Qur’an dan Hadis. Pengetahuan yang mendalam akan menumbuhkan keyakinan dan harapan kepada Allah Swt.
  2. Melakukan Muhasabah atas Nikmat Allah. Renungkan dan syukuri berbagai nikmat yang telah Allah berikan. Kesadaran ini akan menumbuhkan rasa optimis dan harapan kepada-Nya.
  3. Meningkatkan Kualitas Ibadah. Laksanakan ibadah dengan khusyuk dan konsisten. Ibadah yang berkualitas akan memperkuat hubungan dengan Allah dan menumbuhkan sifat raja’.
  4. Berprasangka Baik kepada Allah. Selalu berpikir positif bahwa Allah akan memberikan yang terbaik. Sikap ini akan menumbuhkan harapan dan keyakinan kepada-Nya.
  5. Menghindari Putus Asa. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, karena putus asa adalah sifat yang tidak disukai dalam Islam. Tetaplah berharap dan berusaha dalam kebaikan.
  6. Membaca Kisah Orang Saleh. Pelajari kisah para nabi, sahabat, dan ulama yang memiliki sifat raja’. Kisah-kisah mereka dapat menjadi inspirasi dan motivasi dalam menumbuhkan harapan kepada Allah.

Dengan menerapkan langkah-langkah di atas secara konsisten, insya Allah sifat raja’ akan tumbuh dan menjadi bagian dari kepribadian kita.

Hikmah dan Keutamaan raja

Hikmah Raja’

  • Meningkatkan Semangat dalam Beribadah. Sifat raja’ mendorong seorang mukmin untuk lebih giat dalam melaksanakan ibadah dan amal kebaikan. Dengan harapan akan rahmat dan ampunan Allah, seseorang akan termotivasi untuk terus berbuat baik dan menjauhi kemaksiatan.
  • Menumbuhkan Optimisme. Raja’ membantu seseorang untuk tetap optimis dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan hidup. Dengan keyakinan bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang, seorang mukmin akan selalu berharap pada pertolongan dan rahmat-Nya, sehingga tidak mudah putus asa.
  • Menciptakan Ketenangan Batin. Harapan kepada Allah memberikan ketenangan dalam jiwa, karena seseorang yakin bahwa segala sesuatu berada dalam kendali-Nya dan bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.
  • Menghindarkan dari Putus Asa. Raja’ menjaga seorang mukmin dari perasaan putus asa, terutama setelah melakukan dosa. Dengan harapan akan ampunan Allah, seseorang akan terdorong untuk bertobat dan memperbaiki diri, alih-alih terjerumus dalam keputusasaan yang dilarang dalam Islam.

Keutamaan Raja’

  • Mendapatkan Ampunan Allah. Allah SWT berfirman dalam hadis qudsi bahwa Dia sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Jika seorang hamba berbaik sangka dan berharap kepada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan menerima tobatnya.
  • Dimasukkan ke dalam Surga. Orang yang memiliki raja’ dan beramal saleh dengan ikhlas akan mendapatkan balasan surga dari Allah. Harapan yang disertai dengan amal kebaikan menjadi jalan menuju ridha Allah dan surga-Nya.
  • Terhindar dari Siksa Neraka. Dengan raja’, seorang mukmin akan selalu berusaha menjauhi perbuatan dosa dan maksiat, karena ia berharap mendapatkan rahmat Allah dan terhindar dari siksa-Nya.
  • Mendapatkan Pertolongan Allah. Seseorang yang selalu berharap kepada Allah akan senantiasa mendapatkan pertolongan dan bimbingan-Nya dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup.
Menu Utama