Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang mengangkat senjata di medan tempur, tetapi juga oleh mereka yang bertarung melalui gagasan, pena, dan diplomasi. Salah satu figur sentral dalam narasi ini adalah Abdurrahman Baswedan, atau yang lebih populer dikenal sebagai A.R. Baswedan. Lahir di Surabaya pada 9 September 1908, A.R. Baswedan adalah sosok multidimensi: ia adalah jurnalis yang tajam, diplomat yang ulung, sastrawan, dan pejuang kemerdekaan yang konsisten.
Namanya mungkin kembali hangat diperbincangkan publik belakangan ini karena hubungannya sebagai kakek dari Anies Baswedan dan Novel Baswedan, namun rekam jejak sejarah A.R. Baswedan berdiri tegak di atas jasanya sendiri. Puncak pengakuan negara atas kontribusinya adalah penganugerahan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2018 (Sekretariat Kabinet RI, 2018). Artikel ini akan menelusuri perjalanan hidup A.R. Baswedan, mulai dari masa kecilnya di Kampung Ampel, gebrakan politiknya melalui Sumpah Pemuda Keturunan Arab, hingga misi diplomatiknya yang dramatis di Mesir.
Masa Kecil dan Pembentukan Karakter
A.R. Baswedan lahir dan tumbuh di kawasan Ampel, Surabaya, sebuah lingkungan yang kental dengan budaya komunitas keturunan Arab. Ia lahir dari pasangan Awad Baswedan dan Khadijah. Meskipun lahir di lingkungan yang memegang teguh tradisi, pemikiran A.R. Baswedan tumbuh melampaui sekat-sekat konservatisme lingkungannya.
Pendidikannya dimulai di Madrasah Al-Khairiyah, yang berada di dekat Masjid Ampel. Namun, titik balik intelektualnya terjadi ketika ia belajar di Madrasah Al-Irsyad, Jakarta. Di sana, ia bertemu dengan Syekh Ahmad Surkati, seorang tokoh pembaharu Islam yang mengajarkan prinsip kesetaraan manusia. Surkati mengajarkan bahwa dalam Islam, tidak ada perbedaan kasta antara golongan Sayyid (keturunan Nabi) dan non-Sayyid, sebuah pandangan yang sangat progresif dan kontroversial di kalangan komunitas Arab saat itu (Tirto.id, 2019). Pemikiran egalitarian inilah yang kelak menjadi fondasi sikap nasionalisme dan demokrasi A.R. Baswedan.
Selain pendidikan formal agama, A.R. Baswedan dikenal sebagai seorang otodidak yang tekun. Ia melahap berbagai buku sastra dan politik, serta belajar bahasa Belanda secara mandiri. Kemampuan berbahasanya—Arab, Inggris, dan Belanda—menjadi modal vital dalam karier jurnalistik dan diplomatiknya di kemudian hari (Kompas.com, 2021).
Jurnalisme sebagai Senjata Perjuangan
Sebelum terjun sepenuhnya ke panggung politik praktis, A.R. Baswedan memilih jalan jurnalisme sebagai medan juangnya. Ia bukan sekadar wartawan pelapor berita, melainkan jurnalis opini yang tulisan-tulisannya tajam, kritis, dan membangkitkan kesadaran. Karier jurnalistiknya tercatat di berbagai surat kabar berpengaruh pada masa Hindia Belanda.
Menariknya, A.R. Baswedan pernah bekerja di harian Sin Tit Po, sebuah koran peranakan Tionghoa yang pro-nasionalis. Hal ini menunjukkan keluwesan pergaulan dan pandangan inklusifnya yang melintasi batas etnis sejak muda. Selain itu, ia juga pernah menjadi redaktur di Soeara Oemoem, surat kabar milik dr. Soetomo, pendiri Budi Utomo (Historia.id, 2014).
Dedikasinya pada perjuangan terbukti dari kerelaannya meninggalkan kenyamanan materi. A.R. Baswedan pernah bekerja di harian Matahari di Semarang dengan gaji yang sangat besar pada masa itu, yakni 120 gulden (setara dengan kuintal beras). Namun, ia rela meninggalkan pekerjaan mapan tersebut demi mengurus Partai Arab Indonesia (PAI) dan berjuang lewat jalur pergerakan dengan pendapatan yang jauh lebih kecil dan tidak menentu (Universitas Islam An Nur Lampung, 2023). Bagi Baswedan, pena bukan alat pencari nafkah semata, melainkan instrumen untuk menyadarkan kaumnya dan bangsanya.
Sumpah Pemuda Keturunan Arab 1934: Sebuah Tonggak Sejarah
Salah satu warisan terbesar A.R. Baswedan bagi integrasi bangsa Indonesia adalah peran kuncinya dalam peristiwa “Sumpah Pemuda Keturunan Arab”. Pada masa kolonial, pemerintah Hindia Belanda menerapkan politik segregasi rasial yang membagi penduduk menjadi tiga golongan: Eropa, Timur Asing (termasuk Arab dan Tionghoa), dan Pribumi. Politik ini menciptakan tembok pemisah yang tebal, membuat keturunan Arab sering kali merasa terasing dari pergerakan nasional Indonesia.
A.R. Baswedan merasa gelisah dengan kondisi ini. Ia melihat bahwa tanah air bagi peranakan Arab yang lahir di Nusantara adalah Indonesia, bukan Hadramaut (Yaman). Pada 1 Agustus 1934, harian Matahari memuat tulisan A.R. Baswedan yang menggemparkan, disertai fotonya mengenakan blangkon (tutup kepala adat Jawa). Dalam tulisan itu, ia menyerukan agar keturunan Arab bersatu membantu perjuangan Indonesia (Historia.id, 2014).
Gagasan ini dikristalisasi pada tanggal 4 Oktober 1934 di Semarang. A.R. Baswedan mengumpulkan para pemuda peranakan Arab dan mendeklarasikan sumpah yang menegaskan bahwa tanah air mereka adalah Indonesia. Prinsip yang dipegang adalah ius soli—di mana seseorang dilahirkan, di situlah tanah airnya. Peristiwa ini kemudian melahirkan Persatuan Arab Indonesia (PAI), yang kemudian bertransformasi menjadi Partai Arab Indonesia.
Langkah ini bukanlah hal yang mudah. A.R. Baswedan mendapat tentangan keras dari kalangan tua yang masih berorientasi ke negeri leluhur dan menganggap integrasi total dengan “pribumi” sebagai hal yang tabu. Namun, A.R. Baswedan bergeming. Ia menegaskan, “Arab Indonesia dibesarkan dengan gado-gado, bukan dengan kurma. Dengan kesejukan hawa gunung, bukan dengan panasnya padang pasir” (Scribd/Kampung Arab Surabaya, 2012). Deklarasi ini meruntuhkan tembok eksklusivitas dan membawa gerbong besar komunitas keturunan Arab melebur sepenuhnya ke dalam arus utama perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Menuju Kemerdekaan: BPUPKI dan Persiapan Negara
Menjelang kekalahan Jepang, peran A.R. Baswedan semakin strategis di tingkat nasional. Ia ditunjuk sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Di lembaga ini, ia duduk bersama para pendiri bangsa lainnya seperti Soekarno, Hatta, dan Yamin, untuk merumuskan dasar negara dan Undang-Undang Dasar 1945.
Keterlibatannya dalam BPUPKI menegaskan bahwa A.R. Baswedan bukan lagi sekadar pemimpin golongan, melainkan seorang nation builder (pembangun bangsa). Ia turut menyumbangkan pemikiran dalam penyusunan konstitusi, memastikan bahwa negara Indonesia yang baru lahir adalah negara yang menaungi semua golongan tanpa diskriminasi rasial (Pojok Satu, 2023).
Misi Diplomatik “Penyelundupan” Pengakuan Kedaulatan
Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, tantangan terbesar Republik Indonesia adalah mendapatkan pengakuan internasional. Tanpa pengakuan de jure dari negara lain, kemerdekaan Indonesia dianggap belum sah secara hukum internasional dan rentan dihancurkan kembali oleh Belanda.
Pada tahun 1947, Presiden Soekarno mengutus sebuah delegasi diplomatik ke Timur Tengah yang dipimpin oleh H. Agus Salim, dengan A.R. Baswedan sebagai Menteri Muda Penerangan. Misi ini bertujuan untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Mesir dan Liga Arab. Misi ini sukses besar; Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI secara de jure dan de facto (Detik News, 2018).
Namun, tantangan sesungguhnya adalah membawa dokumen pengakuan tersebut pulang ke tanah air. Situasi saat itu sangat genting karena Belanda melakukan blokade ketat terhadap akses masuk ke Indonesia. Dalam perjalanan pulang, A.R. Baswedan harus memutar otak agar dokumen maha penting itu tidak disita oleh petugas Belanda.
Kisah kepulangan ini sangat heroik dan mendebarkan. Saat tiba di bandara Kemayoran atau pelabuhan (tergantung rute yang diambil saat itu yang diawasi ketat), A.R. Baswedan menyembunyikan dokumen pengakuan kedaulatan dari Mesir itu di dalam kaus kakinya, di balik sepatu yang ia kenakan. Dengan ketenangan yang luar biasa, ia berhasil melewati pemeriksaan tentara Belanda. Dokumen yang “diselundupkan” di kaki A.R. Baswedan itulah yang kemudian menjadi bukti sah di mata dunia bahwa Republik Indonesia adalah negara yang berdaulat (YDSF, 2021). Tindakan berani ini menyelamatkan diplomasi Indonesia di masa kritis.
Kesederhanaan dan Akhir Hayat
Setelah masa revolusi fisik usai, A.R. Baswedan tetap aktif di dunia politik. Ia bergabung dengan Partai Masyumi, sebuah partai Islam terbesar pada masanya, dan menjadi anggota Konstituante hasil Pemilu 1955. Meskipun pernah menjabat sebagai menteri dan tokoh penting partai, kehidupan pribadi A.R. Baswedan sangat jauh dari kemewahan.
Banyak sumber mencatat bahwa hingga akhir hayatnya, A.R. Baswedan tidak memiliki rumah pribadi. Ia tinggal di rumah pinjaman di kompleks Taman Yuwono, Yogyakarta. Mobil yang ia miliki pun merupakan hadiah dari sahabatnya, Wakil Presiden Adam Malik, karena A.R. Baswedan tidak mampu membelinya sendiri (Republika, 2023). Kesederhanaan ini menjadi teladan langka di tengah godaan kekuasaan.
Di masa tuanya, A.R. Baswedan lebih banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan dakwah dan kepenulisan. Ia aktif di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). A.R. Baswedan wafat pada 16 Maret 1986 di Jakarta dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, berdampingan dengan para pejuang kemerdekaan lainnya (Wikipedia, 2023).
Penutup: Warisan Sang Pahlawan
A.R. Baswedan meninggalkan warisan yang melampaui zamannya. Ia adalah simbol keberhasilan integrasi etnis dalam tubuh bangsa Indonesia. Melalui Sumpah Pemuda Keturunan Arab, ia mengajarkan bahwa nasionalisme tidak ditentukan oleh darah yang mengalir di tubuh, melainkan oleh komitmen hati dan perbuatan nyata untuk tanah air.
Jasanya dalam dunia pers meletakkan dasar jurnalisme yang berpihak pada kebenaran dan perjuangan, bukan pada keuntungan materi. Sementara itu, keberaniannya dalam misi diplomatik ke Mesir memastikan bahwa “bayi” Republik Indonesia dapat bertahan hidup di tengah kepungan kolonialisme.
Pada tahun 2018, negara secara resmi melunasi hutang kehormatannya dengan menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada A.R. Baswedan. Namun, lebih dari sekadar gelar, kisah hidupnya adalah cermin bagi generasi masa kini tentang arti pengorbanan, inklusivitas, dan integritas seorang negarawan sejati. Seperti yang pernah ia katakan, di mana kita lahir dan meminum airnya, di situlah tanah air yang wajib kita bela.
DAFTAR PUSTAKA
Buku & Jurnal Ilmiah:
-
Olenka, E., & Suparwoto. (n.d.). Perjuangan AR Baswedan Pada Masa Pergerakan Sampai Pasca Kemerdekaan Indonesia Tahun 1934-1947. AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya. Diakses dari https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/8743/8750
-
Rahman, S. A. (2007). Diplomasi RI di Mesir dan Negara-Negara Arab pada Tahun 1947. Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia, Vol. 9. Diakses dari https://scholarhub.ui.ac.id/cgi/viewcontent.cgi?article=1501&context=wacana
Artikel Daring & Berita:
-
An-Nur.ac.id. (2023, 5 Juni). Abdurrahman Baswedan: Pahlawan Nasional Indonesia. Universitas Islam An Nur Lampung. Diakses dari https://an-nur.ac.id/abdurrahman-baswedan-pahlawan-nasional-indonesia/
-
Detik News. (2018, 8 November). AR Baswedan dan Diplomasi Agar Kemerdekaan RI Diakui. Diakses dari https://news.detik.com/berita/d-4293641/ar-baswedan-dan-diplomasi-agar-kemerdekaan-ri-diakui
-
Historia.id. (2014, 26 September). AR Baswedan Merajut Keindonesiaan. Diakses dari https://www.historia.id/article/ar-baswedan-merajut-keindonesiaan-p4yj6
-
Kemenag.go.id. (2025, 29 Oktober). Sumpah Pemuda Keturunan Arab 1934, Sebuah Tonggak Persatuan Bangsa. Kementerian Agama Republik Indonesia. Diakses dari https://kemenag.go.id/opini/sumpah-pemuda-keturunan-arab-1934-sebuah-tonggak-persatuan-bangsa-P99L9
-
Kompas.com. (2021, 22 Juni). Abdurrahman Baswedan: Kehidupan, Kiprah, dan Akhir Hidup. Diakses dari https://www.kompas.com/stori/read/2021/06/22/173000979/abdurrahman-baswedan–kehidupan-kiprah-dan-akhir-hidup
-
Pojoksatu.id. (2023, 20 Mei). Profil Pahlawan Nasional AR Baswedan, Kakek Dua Figur Publik Anies dan Novel. Diakses dari https://www.pojoksatu.id/nasional/1081760299/profil-pahlawan-nasional-ar-baswedan-kakek-dua-figur-publik-anies-dan-novel
-
Republika.co.id. (2023, 2 Juli). Siapa Abdurrahman Baswedan, Kakek Anies yang Didapuk Jadi Pahlawan Nasional. Diakses dari https://khazanah.republika.co.id/berita/rx5xt4320/siapa-abdurrahman-baswedan-kakek-anies-yang-didapuk-jadi-pahlawan-nasional
-
Suara Sumbar. (2023, 28 Desember). Kiprah Kakek Anies Baswedan, AR Baswedan: Jurnalis Bergelar Pahlawan Nasional Kemerdekaan. Diakses dari https://sumbar.suara.com/read/2023/12/28/170022/kiprah-kakek-anies-baswedan-ar-baswedan-jurnalis-bergelar-pahlawan-nasional-kemerdekaan
-
Tempo.co. (2021, 14 Agustus). AR Baswedan, Tokoh Keturunan Arab yang Berjuang untuk Kemerdekaan RI. Diakses dari https://www.tempo.co/politik/ar-baswedan-tokoh-keturunan-arab-yang-berjuang-untuk-kemerdekaan-ri-484634
-
Tirto.id. (2019, 30 Mei). Sejarah Pemikiran A.R. Baswedan: Dalam Islam, Semua Manusia Setara. Diakses dari https://tirto.id/sejarah-pemikiran-ar-baswedan-dalam-islam-semua-manusia-setara-d9gG
-
Wikipedia Bahasa Indonesia. (n.d.). Abdurrahman Baswedan. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Abdurrahman_Baswedan
-
YDSF.org. (n.d.). Kisah Perjalanan Hidup Pahlawan Nasional, AR. Baswedan. Yayasan Dana Sosial Al Falah. Diakses dari https://ydsf.org/berita/kisah-perjalanan-hidup-pahlawan-nasional-ar-baswedan-ydsf-GhMZ.html