Adab Berhias dalam Islam

Tubuh dan raut muka kita adalah karunia Allah. Sebagai anugrah Allah wajib disyukuri, tidak boleh diingkari dengan cara menjadikannya sebagai alat untuk ber- buat maksiat. Cara mensyuurinya adalah dengan cara merawatnya dan menjadikan- nya sebagai sarana beribadah. Tidak boleh dieksploitasi untuk memuaskan syahwat lawan jenis secara tidak sah. Atau sengaja agar dinikmati oleh orang lain yang tidak syah, yaitu selain suami atau istrinya. Karena itu merawat tubuh dan menghiasinya agar tetap indah, menarik dan menyenangkan bagi orang yang syah yaitu suami/ istrinya merupakan kebaikan. Dalam konteks inilah berhias itu dianjurkan.

Berhias bukanlah dipandang dari segi dandanan muka, tetapi pakaian juga ter- masuk sesuatu yang bisa dikatakan alat untuk berhias. Pakaian kita yang sederhana bisa menjadi pakaian yang mempunyai nilai keindahan yang tinggi apabila kita beri hiasan agar kita terlihat cantik memakainya. Bagi wanita yang menghias rambut atau lainnya di salon-salon kecantikan, sedang yang menanganinya adalah kaum laki-laki. Hal itu jelas dilarang, karena bukan saja bertemu dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, tetapi lebih dari itu, sudah pasti itu haram.

Jika kita ingin berhias terdapat rambu-rambu, agar tidak melanggar syari’at yang sudah ditetapkan oleh Allah:

  1. Niat yang lurus, berhias hanya untuk beribadah yang diorientasikan sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah Allah Bukan nuntuk menarik nafsu lawan jenis yang tidak sah.
  2. Dalam berhias tidak diperbolehkan menggunakan bahan-bahan yang dilarang agama, yaitu najis dan yang
  3. Tidak boleh menggunakan hiasan yang menggunakan simbol non muslim
  4. Tidak berlebih-lebihan
  5. Tidak Boleh berhias seperti orang jahiliah
  6. Berhias menurut kelaziman dan kepatutan dengan memperhatikan jenis kelamin
  7. Berhias bukan untuk berfoya-foya