Menu Tutup

Alquran Mengajak Untuk Berfilsafat

Bangsa Arab ialah tempat dimana Alquran diturunkan, sebelum Islam datang orang-orang Arab tidak mengenal pemikiran filsafat. Malah mereka tidak mengenal kata filsafat itu, karena filsafat bukanlah kata yang berasal dari bahasa Arab, tetapi berasal dari Yunani. Ilmu ini mereka kenal sesudah orang-orang Islam menerjemahkan buku-buku filsafat Yunani kedalam bahasa Arab.

Doktor Jamil Saliba dalam bukunya Tarikh al-Falsafah al- ‘Arabiyah mengatakan bahwa Arab Jahiliah telah memiliki pengetahuan falak, Ilmu alam, Ilmu kedokteran experimental yang bercampur aduk dengan Ilmu magik dan azimat, serta dongeng tentang jin dan syaitan, mereka pintar berpuisi dan prosa, dan syair-syair zuhud yang mengandung unsur akhlak dan kejiwaan, tetapi semua ini tidak tersusun dalam satu aliran filsafat yang sempurna dan sistematis. Pemikiran filsafat belumlah mereka miliki kecuali setelah datangnya Islam.

Bangsa Arab yang cara berfikirnya sangat fanatik kepada leluhur mereka, oleh karena itu, Islam datang memerdekakan dan mencerahkan rasio (akal) mereka dari belenggu yang mengikatnya dan membebaskan dari pengaruh taklid yang memperbudak mereka. Akal itu dipersilahkan untuk memberikan keputusan dengan Ilmu dan kebenarannya sendiri, disamping harus tunduk hanya kepada Allah Yang Maha Esa semata dan patuh kepada peraturan syariat agama-Nya. Islam tidak merintangi dinamika akal, dan tidak membatasi kemajuan berfikir mereka yang terus meningkat.

Dengan kemajuan berfikir itu, Alquran mengajak dan mendorong untuk berfikir dan menyelidiki serta membahas segala hal yang wujud (ada). Dengan demikian akal akan sampai kepada pembuktian adanya pencipta dan sekalian ciptaan-Nya. Dan ini adalah merupakan inti dari pembahasan pemikiran falsafi. Banyak kandungan ayat-ayat al-Qur’an yang mendorong akal untuk berfikir falsafi, seperti Firman Allah Ta’ala :

Artinya: “Maka ambillah pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan (pikiran)”. (QS: al- Hasyr 2).

 Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal”. (QS: Ali ‘Imran 190).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang mendorong umat Islam untuk berfilsafat, baik yang berhubungan dengan segala ciptaan Allah, alam, dan manusia maupun persoalan-persoalan rasio, atau akal dan etika, masalah-masalah yang merupakan tema dasar dari pengkajian filosof-filosof dari masa ke masa sepanjang sejarah pemikiran filsafat. Maka pengkajian yang mendalam antara orang-orang Islam tentang ayat-ayat Alquran yang berhubungan dengan segala ciptaan Allah, alam dan manusia, membawa mereka untuk lebih mendalami masalah filsafat, dalam artian dengan datangnya Islam maka Alquran meletakkan fondasi dasar untruk berfikir falsafi bagi orang-orang Arab khususnya dan bagi orang-orang Islam umumnya. Ayat-ayat mutasyabihat baik dulu hingga kini dan untuk selamanya merupakan pendorong untuk berfikir dan mengajak manusia menggunakan akalnya, atau dengan kata lain membantu manusia dalam meniti jalan filosofis.

Referensi:

Hanafi, A, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1979).

Nasution, Harun, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, Cet. II, 1978).

Syihab, Quraisy dkk, Sejarah dan Ulum Al Qur’an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999).