Menu Tutup

 Asal Usul Pengetahuan

Empirisme

Metode Empiris dan penelitian empiris, Konsep sentral dalam ilmu pengetahuan dan metode ilmiah adalah bahwa semua bukti harus empiris, atau berbasis empiris, yaitu, bergantung pada bukti-bukti yang diamati oleh indera. Hal ini dibedakan dari penggunaan filosofis empirisme oleh penggunaan kata sifat “empiris” atau adverbia yang “empiris”. Empiris yang digunakan bersama dengan baik alam dan ilmu-ilmu sosial , dan mengacu pada penggunaan kerja hipotesis yang dapat diuji menggunakan pengamatan atau percobaan. Dalam arti kata, laporan ilmiah untuk tunduk dan berasal dari pengalaman kami atau observasi.

Dalam arti kedua “empiris” dalam ilmu dan statistik mungkin identik dengan “eksperimental”. Dalam hal ini, hasil pengamatan empiris adalah eksperimental. Istilah semi-empiris yang kadang-kadang digunakan untuk menggambarkan metode teoritis yang menggunakan dasar aksioma , hukum ilmiah didirikan, dan hasil eksperimen sebelumnya dalam rangka untuk terlibat dalam pembentukan model beralasan dan penyelidikan teoritis.

Tokoh-Tokoh Empirisme

  1. Francis Bacon
  2. Thomas Hobes
  3. John Locke
  4. David Hume.

Rasionalisme

Rasionalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa sumber pengatahuan satu-satunya yang benar adalah rasio (akal budi), Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (resen) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengatahun dan mengetes pengatahuan. Jika empiresme mengatakan bahwa pengatahuan diperoleh dengan alam mengalami objek empiris, maka rasionalisme mengejarkan bahwa pengatahuan di peroleh dengan cara berfikir alat dalam berfikir itu ialah kaidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika.

Pengetahuan rasional atau pengetahuan yang bersumber dari akal (rasio) adalah suatu pengetahuan yang dihasilkan dari proses belajar dan mengajar, diskusi ilmiah, pengkajian buku, pengajaran seorang guru, dan sekolah.

Tokoh-Tokoh Rasionalisme

  1. Blaise Pascal
  2. Cristian Wolf
  3. Rene Descartes
  4. Baruch Spinoza
  5. G.W Leibnitz.

Intuisionisme

intuisi merupakan suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Unsur utama bagi pengetahuan adalah kemungkinan adanya suatu bentuk penghayatan langsung (intuitif), di samping pengalaman oleh indera.

Secara epistemologis, pengetahuan intuitif berasal dari intuisi yang diperoleh melalui pengamatan langsung, tidak mengenai objek lahir melainkan mengenai kebenaran dan hakikat sesuatu objek.

Metode intuisi sebenarnya tidak bisa dibuktikan secara rasional maupun empiris. Akan tetapi, hasil dari kebenaran intuisi tersebut dapat dibuktikan secara rasional sekaligus empiris. Artinya, banyak orang yang memperoleh pengetahuan yang mendalam secara intuitif yang kemudian terbukti benar.

Oleh karena itu, Bergson mengatakan bahwa intuisi sebenarnya bersifat intelektual dan sekaligus supra-intelektual, dimana pengetahuan supra-intelektual tersebut akan dapat mencapai pengetahuan dan kesadaran diri pada hal-hal yang paling vital, elan vital. Sementara bagi Nietzsche intuisi merupakan inteligensi yang paling tinggi, dan bagi Maslow intuisi merupakan pengalaman puncak (peak experience).

Tokoh-Tokoh Intuisionisme

  1. Imanuel Kant
  2. Luitzen Egbertus Jan Brouwer
  3. Arend Heyting
  4. Sir Michael Anthony Eardly Dummett.

Kritisisme

Kant membedakan pengetahuan ke dalam empat bagian, sebagai berikut::

  1. Yang analitis a priori
  2. Yang sintetis a priori
  3. Yang analitis a posteriori
  4. Yang sintetis a posteriori.

Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang tidak tergantung pada adanya pengalaman atau, yang ada sebelum pengalaman. Sedangkan pengetahuan a posteriori terjadi sebagai akibat pengalaman. Pengetahuan yan analitis merupakan hasil analisa dan pengetahuan sintetis merupakan hasil keadaan yang mempersatukan dua hal yang biasanya terpisah Pengetahuan yang analitis a priori adalah pengetahuan yang dihasilkan oleh analisa terhadap unsur-unsur yang a priori. Pengetahuan sintetis a priori dihasilkan oleh penyelidikan akal terhadap bentuk-bentuk pengalamannya sendiri dan penggabungan unsur-unsur yang tidak saling bertumpu.

Misal, 7 – 2 = 5 merupakan contoh pengetahuan semacam itu. Pengetahuan sintetis a posteriori diperoleh setelah adanya pengalaman.
Dengan filsafatnya, ia bermaksud memugar sifat obyektivitas dunia dan ilmu pengetahuan. Agar maksud tersebut terlaksana orang harus menghindarkan diri dari sifat sepihak. Menurut Kant ilmu pengetahuan adalah bersyarat pada: a) bersiafat umum dan bersifat perlu mutlak dan b) memberi pengetahuan yang baru. Kant bermaksud mengadakan penelitian yang kritis terhadap rasio murni dan realita.

Kant yang mengajarkan tentang daya pengenalan mengemukakan bahwa daya pengenalan roh adalah bertingkat, dari tingkatan terendah pengamatan inderawi, menuju ke tingkat menengah akal (Verstand) dan yang tertinggi rasio atau buddhi (Vernunft).

Immanuel Kant menganggap Empirisme (pengalaman) itu bersifat relative bila tanpa ada landasan teorinya. contohnya adalah kamu selama ini tahu air yang dimasak sampai mendidih pasti akan panas, itu kita dapat dari pengalaman kita di rumah kita di Indonesia ini, namun lain cerita bila kita memasak air sampai mendidih di daerah kutub yang suhunya di bawah 0̊ C, maka air itu tidak akan panas karena terkena suhu dingin daerah kutub, karena pada teorinya suhu air malah akan menjadi dingin.

dan contoh lainnya adalah pada gravitasi, gravitasi hanya dapat di buktikan di bumi saja, tetapi tidak dapat diterapkan di bulan. Jadi sudah terbukti bahwa pengalaman itu bersifat relatif, tidak bisa kita simpulkan atau kita iyakan begitu saja tanpa dibuktikan dengan sebuah akal dan teori. Dan oleh karena itu Ilmu pengetahuan atau Science haruslah bersifat berkembang, tidak absolute atau mutlak dan tidak bertahan lama karena akan melalui perubahan yang mengikuti perkembangan zaman yang terus maju. (mungkin Sir Issac Newton bila hidup kembali bakal merevisi teori Gravitasinya kembali) Pengalaman juga bersifat data-data Inderawi.

Makanya Immanuel Kant mengkritik Empirisme, data Inderawi sendiri harus dibuktikan atau dicek dengan azas prinsipal abstrak yang dibagi menjadi 4 oleh Immanuel Kant, antara lain:

  1. Kuantitas (hitung-hitungan) mengandung kesatuan, kejamakan dan keutuhan.
  2. Kualitas (Baik dan buruk) realitas, negasi dan pembatasan.
  3. Relasi (hubungan) mengandung substansi, kausalitas dan timbal balik.
  4. Modalitas mengandung kemungkinan, peneguhan dan keperluan.

Data-data inderawi harus dibuktikan dulu dengan azas prinsipal abstrak yang dibagi menjadi 4 tadi, baru dapat diputuskan, itulah proses Kritisisme Rasionalis Jerman yang di ajarkan Immanuel Kant.

Tokoh- Tokoh Kritisisme

  1. Henry Bergson
  2. Luitzen Egbertus Jan Brouwer
  3. Arend Heyting
  4. Sir Michael Anthony Eardly Dummett.

DAFTAR PUSTAKA

  • S.M.N. Al-Attas, 1984,  Konsep Pendidikan Islam, terj. Haidar Bagir, Bandung: Mizan, Cet. I
  • A Van Peurson 1980Orientasi di Alam Filsafat Jakarta, PT Gramedia.
  • Ahmad Saebani, 2009 Filsafat Ilmu, bandung;CV Pustaka Setia,
  • Lorens bagus. 1996 Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.
  • Harun Hadiwijono. 1993 Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Cet. IX; Yogyakarta: Kanisius,

Baca Juga: