Bagaimana Cara Kita Memandang Bencana?

36

[otw_shortcode_dropcap label=”B” background_color_class=”otw-green-background” size=”large” border_color_class=”otw-no-border-color”][/otw_shortcode_dropcap]encana, apapun bentuknya, sesungguhnya merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada manusia. Berbagai peristiwa yang menimpa manusia pada hakikatnya merupakan ujian dan cobaan atas keimanan dan perilaku yang telah dilakukan oleh manusia.

Sistem keimanan yang diajarkan dalam Islam bertumpu pada keyakinan bahwa Allah merupakan Zat Yang Maha Raḥmah (kasih dan sayang). Allah sendiri menetapkan bagi diri-Nya sifat raḥmah. Allah berfirman:

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [Q.S. al-An’ām (6): 54].

Begitu pula sebaliknya, orang beriman dan bertakwa selalu mengakui bahwa apa yang diberikan oleh Allah kepada mereka adalah “kebaikan”. Allah berfirman:

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa [Q.S. alNaḥl (16): 30]

Sifat raḥmah Allah akan membentuk sebuah sikap yang merupakan tujuan puncak dalam Islam, yakni kebaikan dan keadilan [Q.S. Ali ‘Imrān (3): 18; al-A’rāf (7): 29; al-Syūrā (42): 17].

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana [Q.S. ‘Ali ‘Imrān (3): 18].

Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)” [Q.S. al-Naḥl (16): 29].

Dalam menjalani kehidupan, manusia selalu berhadapan dengan sesuatu yang menimpa dirinya. Sesuatu yang menimpa ini disebut dengan muṣībah. Konsekuensi dari ajaran tauhid, peristiwa yang menimpa manusia tersebut bukanlah sebuah persoalan, karena manusia hidup pasti akan diuji dengan berbagai persoalan.

Muṣībah tidak lain adalah ujian dan cobaan kepada manusia baik berupa ḥasanāt (sesuatu yang baik) ataukah sayyi’āt (sesuatu yang tidak baik). Namun, hal yang menjadi persoalan adalah bagaimana manusia menghadapi ujian dan cobaan (persoalan) itu sendiri.

Dengan kata lain, permasalahan manusia terletak pada bagaimana dirinya menghadapi persoalan, bukan pada persoalan itu sendiri.

Peristiwa yang merupakan musibah merupakan ketetapan dan ketentuan Allah (takdir). Takdir di sini dimaknai dengan sebuah ketetapan dan ketentuan Allah yang telah terjadi di hadapan kita.

Hanya Allah saja yang mengetahui ketetapan dan ketentuanNya, manusia hanya dapat mengetahuinya ketika ketetapan dan ketentuan tersebut terjadi.

Adapun ketika ketetapan dan ketentuan yang akan terjadi manusia juga tidak mengetahuinya, hanya Allah saja yang Maha Tahu. D

engan demikian, manusia wajib memohon kepada Allah dan berusaha untuk mensikapinya dengan penuh kesabaran dalam rangka merubah keadaan yang dihadapinya menjadi lebih baik. Allah menegaskan,

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkanNya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui [Q.S. al-Anfāl (8): 53].

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia [Q.S. al-Ra’du (13): 11].

Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa ketentuan dan ketetapan Allah mengenai peristiwa yang dihadapi manusia didasarkan pada kebaikan dan keadilan Allah, supaya manusia mengingat dan kembali pada ketetapan Allah. Karena Allah Maha Baik dan Adil, maka ketentu-an dan ketetapan Allah tidak akan ditujukan untuk menyengsarakan manusia, sebagaimana firman Allah,

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri [Q.S. Yūnus (10): 44].

Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku [Q.S. Qaf (50): 29].

Penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa Allah adalah Maha Baik dan Adil. Ke-Maha Baik-an dan ke-Maha Adil-an Allah selalu mengiringi setiap peristiwa yang terjadi. Oleh karena itu dalam sebuah hadis Nabi Saw disebutkan:

Dari Abi Said dan Abi Hurairah (diriwayatkan) bahwa keduanya mendengar Rasulullah Saw bersabda: tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit, kelelahan, penyakit, kesedihan, hingga kegundahan yang dirasakannya kecuali Allah akan menghapus kesalahannya [H.R. Muslim].

Dengan memperhatikan uraian di atas, dapat dimaknai bahwa bencana bukan merupakan bentuk amarah dan ketidakadilan Allah kepada manusia, justru sebaliknya bencana merupakan bentuk kebaikan dan kasih sayang (raḥmah) Allah kepada manusia. Hal ini ditegaskan sekali oleh Allah dalam firman-Nya:

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [Q.S. al-Baqarah (2): 156-157].

Bencana berfungsi sebagai media untuk introspeksi seluruh perbuatan manusia yang mendatangkan peristiwa yang merugikan manusia itu sendiri. Di sini berlakulah firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan [Q.S. al-Ḥasyr (59): 18].

Hal ini dapat dipahami bahwa perbuatan manusia terkadang dilakukan tanpa pertimbangan yang matang. Ketika melakukan sesuatu perbuatan, manusia sering kali tidak memikirkan apakah perbuatan tersebut berdampak negatif pada pihak lain (manusia dan alam) atau tidak.

Dalam konteks inilah apa yang disebut sebagai kesalahan terjadi. Kesalahan dalam hal ini dipahami sebagai sebuah perbuatan manusia yang dilakukan tanpa memperhitungkan aspek-aspek yang lebih luas.

Dengan demikian kesalahan tidak hanya diartikan sebagai perbuatan dosa dalam konteks teologis, namun kesalahan juga diartikan sebagai dosa sosiologis yakni “kesalahperhitungan” dalam berbuat terhadap manusia lain atau terhadap alam. Misalnya, manusia salah memperhitungkan faktor risiko yang ada di sekitarnya sehingga menimbulkan kerugian bahkan kerusakan.

Contoh riil, ketika manusia membangun pemukiman di wilayah lereng-lereng pegunungan dengan menebang pohon-pohon di sana maka ketika musim hujan air tidak meresap dengan sempurna, dan tanah juga tidak ada penahan.

Dalam kondisi seperti itu, air hujan yang volumenya besar dan terakumulasi akan menggerus lereng-lereng sehingga terjadilah banjir atau tanah longsor. Demikian juga dengan wilayah gempa dan wilayah gunung berapi, manusia mesti memperhitung-kan ketika akan tinggal di wilayah tersebut. Ketika tidak memperhitungkan dengan cermat risiko, bencana akan semakin besar, dan inilah “kesalahan sosial” itu.

Contoh lain dari fenomena sosial, misalnya dalam bergaul dengan masyarakat yang heterogen mesti menunjukkan sikap toleransi yang tinggi. Namun, ketika yang ditonjolkan adalah arogansi individual dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang merusak relasi sosial maka pada saat tertentu perbuatan itu akan menimbulkan bencana sosial.

Masih banyak contoh lain yang menunjukkan arti kesalahan dalam arti yang luas. Oleh karena itu, jika terdapat perbuatan yang tercela yang dilakukan oleh manusia, itu merupakan contoh nyata perbuatan yang tidak memperhitungkan faktor risiko dan pasti akan mendatangkan bencana. Oleh karena itu, tingkat pemaknaan manusia atas segala peristiwa bencana itu akan menjadi nilai bagi manusia untuk merasakan nikmat dan kasih sayang Allah yang lebih besar

Akibat kesalahan perhitungan perbuatan manusia dalam menghadapi risiko, maka bencana pasti akan muncul yang berakibat negatif pada kehidupan manusia. Namun demikian, munculnya bencana juga sebenarnya berdampak positif bagi manusia.

Salah satu contoh adalah setelah terjadi bencana gempa bumi atau tsunami, maka manusia akan berpikir dan memperhitungkan untuk membangun tata kota yang baik dan dapat mengelola kerentanan dan risiko yang mungkin akan muncul.

Kemudian setelah bencana gunung api meletus akan membawa dampak positif bagi manusia seperti munculnya sikap arif terhadap alam karena abu gunung berapi akan membawa kesuburan tanah.

Demikian pula setelah terjadi bencana sosial seperti kerusuhan atau gagal teknologi nuklir, manusia akan lebih banyak perhitungan untuk bersikap kepada manusia lain dan lebih banyak perhitungan untuk membangun teknologi yang mempunyai tingkat keselamatan yang tinggi. Dalam hal ini Allah Swt. telah berfirman:

Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan [Q.S. alInsyirāḥ (94): 5-6].

Pemahaman terhadap bencana seperti ini akan melahirkan sikap yang arif dan bijaksana dalam menjalin hubungan dengan manusia lain ataupun alam.

Dengan kata lain, bencana yang telah terjadi merupakan media untuk instrospeksi atas seluruh perbuatan yang telah dilakukan. Introspeksi di sini merupakan kegiatan aktif dengan memperhitungkan segala sesuatu sebelum melakukan perbuatan. Dalam konteks ini, bencana apapun yang terjadi bukan serta merta merupakan ‘ażāb, tetapi harus dilihat konteksnya yang lebih luas.

Jika mengacu pada pengertian di atas bencana lebih merupakan media untuk berbenah, dan ini merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada manusia yang berupa ujian dan cobaan supaya di waktu yang akan datang manusia lebih banyak perhitungan dalam berbuat sehingga terhindar atau meminimalisir bencana.

Terkait dengan hal ini pendekatan keagamaan yakni pemahaman mengenai kasih sayang dan keadilan Allah terkait bencana merupakan faktor yang sangat mendasar dalam menyikapi peristiwa bencana.

Referensi:

Berita Resmi Muhammadiyah, Fikih Kebencanaan, 2018.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini