Menu Tutup

Penyebab Perilaku Menyimpang

Pengertian Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang adalah tindakan atau perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku dalam suatu masyarakat. Dalam sosiologi, perilaku menyimpang dipelajari untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan seseorang atau kelompok melakukan tindakan yang bertentangan dengan harapan sosial. Penyimpangan ini bisa bersifat positif atau negatif tergantung pada konteks sosial yang melingkupinya.

Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari individu maupun lingkungan sekitarnya. Berikut adalah beberapa penyebab utama perilaku menyimpang menurut kajian sosiologi:

1. Faktor Sosialisasi yang Tidak Sempurna

Salah satu penyebab perilaku menyimpang adalah sosialisasi yang tidak efektif. Ketika proses sosialisasi, yang melibatkan penanaman nilai dan norma masyarakat, tidak dilakukan dengan baik, individu dapat salah memahami norma yang berlaku. Hal ini seringkali terjadi ketika agen-agen sosialisasi seperti keluarga, sekolah, atau lingkungan tidak berfungsi dengan baik. Misalnya, seorang anak yang sering terpapar perilaku kekerasan di rumah dapat menganggap kekerasan sebagai hal yang wajar.

2. Anomie atau Ketidaksesuaian Norma

Konsep anomie, yang dikemukakan oleh Emile Durkheim, menggambarkan kondisi masyarakat yang kehilangan pegangan norma. Dalam masyarakat modern yang mengalami perubahan nilai secara cepat, sering kali terjadi kebingungan antara nilai yang diharapkan dengan kenyataan sosial yang ada. Hal ini menyebabkan individu merasa tidak memiliki panduan jelas, sehingga rentan melakukan perilaku menyimpang. Contoh fenomena anomie adalah masyarakat yang bingung menghadapi kebebasan berekspresi yang melampaui batas norma tradisional.

3. Differential Association

Teori ini, dikembangkan oleh Edwin H. Sutherland, menjelaskan bahwa perilaku menyimpang bisa muncul akibat interaksi dengan kelompok atau individu yang juga melakukan penyimpangan. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan perilaku menyimpang, semakin besar kemungkinan mereka terpengaruh untuk berperilaku serupa. Faktor seperti frekuensi, durasi, dan intensitas interaksi mempengaruhi sejauh mana seseorang bisa terpengaruh.

4. Faktor Internal

Faktor internal yang berasal dari individu itu sendiri, seperti gangguan mental atau emosional, juga bisa menjadi penyebab perilaku menyimpang. Individu yang memiliki masalah pengendalian emosi atau gangguan kejiwaan cenderung sulit menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku, sehingga mereka melakukan tindakan yang melawan aturan.

5. Pengaruh Lingkungan dan Keluarga

Lingkungan sosial juga memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku seseorang. Individu yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang disfungsional, seperti keluarga yang broken home atau tidak memberikan perhatian cukup, berpotensi besar untuk melakukan tindakan menyimpang. Selain itu, lingkungan yang mendukung perilaku negatif, seperti kelompok teman sebaya yang terlibat dalam tindakan kriminal, dapat mendorong individu untuk ikut terlibat.

6. Labeling (Pemberian Cap)

Teori labeling menyatakan bahwa seseorang bisa melakukan perilaku menyimpang setelah mereka diberi label negatif oleh masyarakat. Misalnya, seseorang yang pernah melakukan kesalahan dan kemudian terus dilabeli sebagai “pelaku kejahatan” mungkin akan terus berperilaku menyimpang karena merasa tidak diterima di masyarakat.

7. Ketidaksanggupan Menyerap Norma Budaya

Dalam beberapa kasus, individu gagal menyerap norma-norma budaya yang berlaku dalam masyarakat. Ketidaksanggupan ini bisa disebabkan oleh minimnya pendidikan moral atau pengawasan keluarga. Akibatnya, individu tersebut tidak dapat membedakan mana tindakan yang pantas dan tidak pantas, dan berperilaku menyimpang sebagai hasilnya.

Posted in Sosial

Artikel Lainnya