1. Latar Belakang dan Asal Usul Sultan Malikussaleh
Sultan Malikussaleh lahir dengan nama Meurah Silu, yang berasal dari garis keturunan kerajaan lokal di Aceh yang memiliki darah bangsawan. Meurah Silu diduga keturunan dari Sukee Imeum Peuet, yang merupakan salah satu suku bangsawan di Aceh. Sebelum ia mendirikan Kesultanan Samudera Pasai, wilayah Sumatra bagian utara terdiri dari beberapa kerajaan kecil yang umumnya masih menganut kepercayaan Hindu-Buddha serta kepercayaan animisme.
Dalam Hikayat Raja-raja Pasai, disebutkan bahwa Meurah Silu mengalami sebuah mimpi yang dianggap sakral. Dalam mimpinya, ia bertemu Nabi Muhammad SAW, yang mengajarkannya ajaran Islam. Setelah mimpi tersebut, Meurah Silu memilih untuk memeluk Islam, mengganti namanya menjadi Sultan Malikussaleh, yang artinya “raja yang saleh.” Keputusan ini bukan hanya mengubah hidupnya secara pribadi, tetapi juga menciptakan fondasi bagi masyarakat Aceh untuk mengenal Islam.
2. Pendirian Kesultanan Samudera Pasai
Pada sekitar tahun 1267, Malikussaleh mendirikan Kesultanan Samudera Pasai di pesisir utara Pulau Sumatra, di sekitar wilayah yang sekarang dikenal sebagai Lhokseumawe, Aceh Utara. Kesultanan ini menjadi kerajaan Islam pertama di Nusantara, dan mengukuhkan posisi Sumatra sebagai pusat Islam di Asia Tenggara. Letak Samudera Pasai yang strategis, yaitu di tepi jalur perdagangan internasional yang menghubungkan dunia Barat dan Timur, memungkinkan kerajaan ini berkembang menjadi pusat perdagangan yang ramai, terutama untuk komoditas berharga seperti lada dan rempah-rempah lainnya.
Samudera Pasai dengan cepat menjadi kerajaan yang makmur. Dengan Malikussaleh sebagai pemimpin yang saleh dan bijaksana, kerajaan ini mulai menarik para pedagang Muslim dari berbagai belahan dunia, seperti Gujarat, Arab, dan Persia. Dengan peran ini, Samudera Pasai tidak hanya menjadi pusat perdagangan namun juga pusat penyebaran Islam, mengingat banyaknya pendatang Muslim yang tinggal di kerajaan tersebut dan menyebarkan ajaran mereka.
3. Pengaruh Sultan Malikussaleh dalam Penyebaran Islam
Sultan Malikussaleh memiliki visi untuk menyebarkan Islam ke seluruh wilayah di sekitarnya. Ia menggunakan posisi strategis Samudera Pasai sebagai pintu gerbang dakwah Islam di Nusantara. Di bawah kepemimpinannya, Samudera Pasai menjadi tempat pertemuan ulama dan cendekiawan dari berbagai wilayah, yang membawa pengetahuan dan pemahaman Islam yang mendalam ke wilayah tersebut. Malikussaleh juga berperan dalam mendorong pendirian masjid dan lembaga pendidikan Islam untuk memperdalam pemahaman penduduk tentang agama ini.
Sultan Malikussaleh juga dipercaya menggunakan pendekatan dakwah yang adaptif dengan budaya setempat, sehingga ajaran Islam lebih mudah diterima masyarakat yang sebelumnya menganut kepercayaan Hindu-Buddha. Hal ini memungkinkan Islam berkembang pesat di Sumatra, dan seiring waktu menyebar ke wilayah-wilayah lain di Nusantara, seperti Jawa, Kalimantan, dan Maluku.
4. Sistem Pemerintahan dan Ekonomi Kesultanan Samudera Pasai
Di bawah pemerintahan Sultan Malikussaleh, Kesultanan Samudera Pasai memiliki struktur pemerintahan yang kuat dan stabil. Sebagai sultan, Malikussaleh mengatur wilayahnya berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Hukum syariah diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dan juga dalam perdagangan, yang membantu membangun kepercayaan para pedagang asing terhadap Samudera Pasai sebagai tempat bisnis yang aman.
Secara ekonomi, Samudera Pasai memanfaatkan hasil alamnya, terutama lada, sebagai komoditas perdagangan utama. Lada dari Pasai terkenal berkualitas tinggi dan menjadi komoditas yang sangat diminati di pasar internasional. Pengelolaan perdagangan yang baik oleh Sultan Malikussaleh memungkinkan kerajaan ini tumbuh makmur dan memainkan peran penting dalam perdagangan internasional, terutama dengan negara-negara di Timur Tengah dan Asia Selatan.
5. Warisan Sultan Malikussaleh dan Pengaruhnya di Masa Kini
Warisan Sultan Malikussaleh berlanjut hingga saat ini. Namanya diabadikan dalam beberapa institusi penting di Aceh, seperti Universitas Malikussaleh di Lhokseumawe, sebagai penghormatan atas kontribusinya dalam sejarah Aceh dan Islam di Indonesia. Selain itu, Bandar Udara Malikus Saleh juga mengambil namanya, menggambarkan seberapa besar pengaruhnya dalam sejarah Aceh.
Peninggalan Kesultanan Samudera Pasai, termasuk makam Sultan Malikussaleh, masih ada hingga kini dan menjadi situs sejarah yang dikunjungi banyak orang. Di makam ini, batu nisannya dihiasi dengan tulisan Arab yang menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Islam pada masa pemerintahannya.
6. Kesimpulan: Sultan Malikussaleh dan Peran Vitalnya dalam Sejarah Indonesia
Sultan Malikussaleh adalah sosok yang luar biasa dalam sejarah Islam di Indonesia. Melalui dedikasinya dalam menyebarkan Islam, mendirikan kerajaan yang kuat, dan mengelola perdagangan internasional yang luas, ia berhasil menciptakan landasan yang kuat bagi penyebaran Islam di Nusantara. Peran Malikussaleh sebagai pemimpin yang saleh dan visioner membuatnya dihormati sepanjang masa, dan warisannya masih terus diingat hingga kini.
Dengan latar belakang yang kaya dalam sejarah Islam, ekonomi, dan budaya, Sultan Malikussaleh bukan hanya pahlawan Aceh, tetapi juga ikon bagi seluruh umat Muslim di Indonesia. Perjalanan dan perjuangannya memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah bangsa dapat dimulai dengan kepemimpinan yang bijaksana, visi yang jauh ke depan, dan keteguhan dalam keyakinan.