Kesultanan Mataram Islam, yang berdiri pada akhir abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18, memainkan peran penting dalam sejarah Jawa. Selain kekuatan politik dan militernya, aspek sosial masyarakat Mataram Islam mencerminkan dinamika kompleks antara tradisi Jawa, pengaruh Islam, dan struktur feodal yang khas.
Struktur Sosial Feodal
Masyarakat Mataram Islam memiliki struktur sosial yang bercorak feodal. Raja dianggap sebagai pemilik seluruh tanah kerajaan beserta isinya, dengan pejabat kerajaan berperan sebagai tuan tanah, sementara rakyat umumnya menjadi penggarap. Sistem ini menempatkan raja dan bangsawan pada posisi puncak hierarki sosial, diikuti oleh pejabat kerajaan, prajurit, dan rakyat biasa.
Peran Agama dalam Kehidupan Sosial
Sebagai kerajaan Islam, Mataram Islam menempatkan agama sebagai elemen sentral dalam kehidupan masyarakat. Raja berperan sebagai panatagama, yaitu pengatur kehidupan agama Islam. Penyebaran Islam dilakukan melalui pendirian masjid, pesantren, dan penerjemahan naskah-naskah Arab ke dalam bahasa Jawa. Selain itu, upacara-upacara keagamaan seperti Garebeg, yang merupakan akulturasi antara tradisi Hindu-Buddha dan Islam, menjadi bagian integral dari budaya masyarakat.
Kehidupan Ekonomi dan Mata Pencaharian
Mataram Islam dikenal sebagai kerajaan agraris dengan basis pertanian yang kuat. Mata pencaharian utama masyarakat adalah bertani, terutama padi, yang menjadi komoditas utama. Di daerah pesisir, masyarakat juga berprofesi sebagai nelayan dan pedagang. Pada abad ke-17, Mataram merupakan pengekspor beras terbesar di Nusantara.
Seni dan Budaya
Kehidupan sosial budaya pada masa kerajaan Mataram berkembang pesat, baik di bidang seni sastra, bangunan, lukis, dan ukir. Selain itu, muncul kebudayaan Kewajen yang merupakan akulturasi antara kebudayaan Jawa, Hindu-Buddha, dengan Islam. Banyak pengaruh Hindu yang masuk dalam kebudayaan Islam pada masa ini, misalnya Gapura Candi Bentar di makam Bayat dan perayaan Garebeg.
Pendidikan dan Literasi
Pendidikan di Mataram Islam berpusat pada pengajaran agama melalui pesantren. Pesantren menjadi lembaga pendidikan utama yang mengajarkan ilmu agama dan pengetahuan umum. Selain itu, penerjemahan naskah-naskah Arab ke dalam bahasa Jawa menunjukkan tingginya tingkat literasi dan apresiasi terhadap ilmu pengetahuan.
Kesimpulan
Keadaan sosial Mataram Islam ditandai oleh struktur feodal yang kuat, peran sentral agama dalam kehidupan sehari-hari, ekonomi agraris yang dominan, serta perkembangan seni dan budaya yang kaya. Akulturasi antara tradisi Jawa, Hindu-Buddha, dan Islam menciptakan masyarakat yang dinamis dan beragam, mencerminkan kompleksitas dan kekayaan budaya Jawa pada masa itu.