Menu Tutup

Raja Terakhir Kerajaan Gowa Tallo: Andi Idjo dan Integrasi ke NKRI

Kerajaan Gowa Tallo, yang terletak di Sulawesi Selatan, merupakan salah satu kerajaan besar di Nusantara dengan sejarah panjang dan kaya. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-17 di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, yang dikenal sebagai “Ayam Jantan dari Timur” karena keberaniannya melawan penjajah. Namun, seiring berjalannya waktu, kerajaan ini mengalami kemunduran hingga akhirnya bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Raja Terakhir Kerajaan Gowa Tallo

Raja terakhir Kerajaan Gowa Tallo adalah Andi Idjo Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aiduddin. Beliau memerintah pada periode 1946 hingga 1978. Pada masa pemerintahannya, Andi Idjo mengambil keputusan penting dengan menyatukan Kerajaan Gowa Tallo ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keputusan ini menandai berakhirnya status kerajaan dan transformasinya menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Gowa. Dengan demikian, Andi Idjo tidak hanya menjadi raja terakhir Kerajaan Gowa Tallo, tetapi juga menjabat sebagai bupati pertama Kabupaten Gowa.

Peran Andi Idjo dalam Integrasi ke NKRI

Keputusan Andi Idjo untuk mengintegrasikan Kerajaan Gowa Tallo ke dalam NKRI menunjukkan komitmennya terhadap persatuan dan kesatuan bangsa. Langkah ini sejalan dengan semangat nasionalisme yang berkembang pasca-kemerdekaan Indonesia. Dengan bergabungnya Kerajaan Gowa Tallo ke dalam NKRI, diharapkan tercipta stabilitas politik dan sosial di wilayah Sulawesi Selatan.

Warisan Kerajaan Gowa Tallo

Meskipun status kerajaannya telah berakhir, warisan budaya dan sejarah Kerajaan Gowa Tallo tetap hidup dan dihormati hingga kini. Beberapa peninggalan penting dari kerajaan ini antara lain:

  • Benteng Somba Opu: Dibangun pada tahun 1525, benteng ini pernah menjadi pusat perdagangan rempah-rempah yang ramai dikunjungi oleh pedagang asing dari Asia maupun Eropa. Meskipun sempat hancur, benteng ini direkonstruksi kembali pada tahun 1990 dan menjadi situs sejarah penting di Gowa.
  • Benteng Rotterdam: Awalnya bernama Benteng Ujung Pandang, benteng ini dibangun pada tahun 1545 dan menjadi salah satu peninggalan paling populer karena masih sering dikunjungi oleh wisatawan hingga kini.
  • Balla Lompoa: Istana kediaman Raja Gowa yang juga digunakan sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Gowa. Dibangun pada tahun 1935-1936, istana ini kini menjadi museum yang menyimpan berbagai artefak sejarah kerajaan.
  • Masjid Tua Katangka: Dibangun pada tahun 1603 pada masa pemerintahan Sultan Alauddin, masjid ini menjadi salah satu bukti penyebaran Islam di wilayah Gowa Tallo.

Kesimpulan

Andi Idjo Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aiduddin memainkan peran penting dalam sejarah Kerajaan Gowa Tallo sebagai raja terakhir yang memimpin integrasi kerajaan ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keputusannya mencerminkan semangat persatuan dan nasionalisme yang kuat. Warisan budaya dan sejarah Kerajaan Gowa Tallo tetap hidup melalui berbagai peninggalan yang masih dapat disaksikan hingga

Posted in Ragam

Artikel Lainnya