Menu Tutup

Sultan Baabullah: Pahlawan Nasional yang Mengusir Portugis dari Ternate

Sultan Baabullah: Pahlawan Nasional yang Mengusir Portugis dari Ternate

Sultan Baabullah Datu Syah, lahir pada 10 Februari 1528, adalah Sultan Ternate ke-7 yang memerintah dari tahun 1570 hingga 1583. Ia dikenal sebagai pemimpin yang berhasil mengusir penjajah Portugis dari Maluku dan membawa Kesultanan Ternate mencapai puncak kejayaannya. Atas jasanya, pada 10 November 2020, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Baabullah.

Masa Muda dan Pendidikan

Sebagai putra tertua Sultan Khairun Jamil dan Boki Tanjung, Sultan Baabullah mendapatkan pendidikan agama dan militer sejak dini. Ia sering mendampingi ayahnya dalam berbagai ekspedisi, termasuk saat Sultan Khairun diasingkan ke Goa pada tahun 1545–1546. Pengalaman ini membentuk karakter kepemimpinan dan strategi militernya di kemudian hari.

Sejak usia muda, Baabullah telah menunjukkan bakat kepemimpinan yang menonjol. Ia dilatih oleh dua panglima militer Kesultanan Ternate dan mendapatkan ilmu kepemimpinan serta keagamaan dari lingkungan istana. Hal ini mempersiapkannya untuk menghadapi tantangan besar di masa depan, terutama dalam menghadapi dominasi asing di wilayahnya.

Kedekatannya dengan ayahnya, Sultan Khairun, memberikan Baabullah wawasan mendalam tentang politik dan diplomasi. Ia belajar bagaimana menjaga keseimbangan antara kepentingan internal kesultanan dan tekanan eksternal dari kekuatan asing yang ingin menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku. Pengetahuan ini menjadi modal penting bagi Baabullah dalam memimpin perlawanan terhadap Portugis.

Perjuangan Melawan Portugis

Setelah ayahnya dibunuh oleh Gubernur Portugis, Diego Lopez de Mesquita, pada 25 Februari 1570, Sultan Baabullah bersumpah untuk membalas dendam dan mengusir Portugis dari Maluku. Ia berhasil merebut benteng-benteng Portugis di Ternate, seperti Tolucco, Santo Lucia, dan Santo Pedro, serta mengepung Benteng Sao Paulo hingga Portugis menyerah dan meninggalkan Ternate pada tahun 1575.

Perlawanan Sultan Baabullah tidak hanya terbatas di Ternate. Ia mengirim ekspedisi ke berbagai daerah seperti Ambon dan Buton untuk mengejar dan mengusir Portugis. Ekspedisi-ekspedisi ini berhasil membebaskan wilayah-wilayah tersebut dari cengkeraman Portugis, menjadikan Ternate sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dengan jaringan internasional yang luas.

Keberhasilan Sultan Baabullah dalam mengusir Portugis tanpa banyak pertumpahan darah menunjukkan kecerdikan dan strategi militernya yang unggul. Ia mampu memanfaatkan aliansi dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara untuk memperkuat posisinya dan melemahkan dominasi Portugis di wilayah timur Indonesia.

Kepemimpinan dan Diplomasi

Sultan Baabullah dikenal sebagai pemimpin yang piawai dalam diplomasi. Ia menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, seperti Kesultanan Tidore, Jailolo, Bacan, serta kerajaan-kerajaan di Sulawesi dan Nusa Tenggara. Melalui aliansi ini, ia memperkuat posisi Ternate sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan politik di kawasan timur Indonesia.

Selain itu, Sultan Baabullah juga membuka jalur perdagangan dengan pedagang dari Jawa, Arab, Melayu, Makassar, dan Cina. Kebijakan perdagangan bebas yang diterapkannya meningkatkan peran Maluku dalam jaringan niaga Asia dan mengurangi ketergantungan pada bangsa Eropa. Hal ini membawa kemakmuran bagi Kesultanan Ternate dan rakyatnya.

Kemampuan diplomasi Sultan Baabullah juga tercermin dalam upayanya menjaga stabilitas internal kesultanan. Ia berhasil meredam konflik internal dan memastikan kesatuan di antara bangsawan dan rakyatnya. Kepemimpinannya yang tegas namun bijaksana membuatnya dihormati oleh kawan maupun lawan.

Warisan dan Pengakuan

Di bawah kepemimpinan Sultan Baabullah, Kesultanan Ternate mencapai puncak kejayaannya dan dikenal sebagai “Penguasa 72 Pulau” karena luasnya wilayah kekuasaannya. Pengaruhnya meliputi sebagian besar Kepulauan Maluku, Sangihe, dan sebagian Sulawesi, dengan pengaruh yang menjangkau hingga Solor, Bima, Mindanao, dan Raja Ampat. Atas kontribusinya dalam sejarah Indonesia, Sultan Baabullah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2020.

Warisan Sultan Baabullah tidak hanya terbatas pada wilayah kekuasaan yang luas, tetapi juga pada semangat perlawanan terhadap penjajahan dan penegakan kedaulatan. Kisah kepemimpinannya menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya dalam perjuangan melawan kolonialisme dan mempertahankan kemerdekaan.

Pengakuan sebagai Pahlawan Nasional menegaskan pentingnya peran Sultan Baabullah dalam sejarah Indonesia. Ia bukan hanya pahlawan bagi masyarakat Maluku, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia yang menghargai perjuangan untuk kebebasan dan kedaulatan.

Akhir Hayat

Sultan Baabullah wafat pada Juli 1583 dalam usia 55 tahun. Meskipun penyebab pasti kematiannya tidak diketahui, beberapa sumber menyebutkan ia meninggal karena sakit. Warisan kepemimpinannya tetap dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan dan semangat persatuan di Nusantara.

Setelah wafatnya Sultan Baabullah, Kesultanan Ternate mengalami perubahan signifikan. Kepemimpinan diteruskan oleh putranya, Sultan Said Barakati, yang berusaha mempertahankan kejayaan yang telah dicapai ayahnya. Namun, tantangan dari kekuatan asing seperti Spanyol dan Belanda mulai muncul, menguji ketahanan dan kedaulatan kesultanan.

Meskipun menghadapi tekanan dari kekuatan kolonial, semangat perjuangan yang diwariskan Sultan Baabullah tetap hidup di hati rakyat Ternate dan Maluku. Kisah kepemimpinannya menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya dalam melawan penjajahan dan mempertahankan kedaulatan bangsa. Hingga kini, nama Sultan Baabullah dikenang sebagai simbol keberanian dan keteguhan dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya