Benteng Tahula, atau yang juga dikenal dengan nama Benteng Tohula, adalah salah satu peninggalan sejarah yang sangat penting di Pulau Tidore, Maluku Utara. Dibangun oleh bangsa Spanyol pada awal abad ke-17, benteng ini merupakan saksi sejarah kolonial yang berharga di Maluku, terutama pada masa persaingan antara Spanyol dan Portugis dalam memperebutkan dominasi perdagangan rempah-rempah.
Sejarah Pembangunan
Pembangunan Benteng Tahula dimulai pada tahun 1607 atas perintah Gubernur Spanyol pertama di Maluku, Juan de Esquivel. Pada saat itu, proses pembangunannya sempat terhenti karena kekurangan tenaga kerja, namun dilanjutkan kembali pada tahun 1610 di bawah kepemimpinan Gubernur Cristobal de Azcqueta Menchacha. Akhirnya, benteng ini selesai dibangun pada tahun 1615, tepat saat masa jabatan Gubernur Don Jeronimo de Silva. Awalnya, benteng ini diberi nama “Santiago de los Caballeros de Tidore,” atau “Sanctiago Caualleros de los de la de Isla Tidore.”
Fungsi dan Peran Strategis
Dibangun di atas batu karang pada titik tertinggi di Pulau Tidore, Benteng Tahula memiliki posisi strategis yang memungkinkan pengawasan menyeluruh terhadap perairan dan daratan di sekitarnya. Lokasi yang sangat strategis ini menjadikan benteng sebagai pusat pertahanan utama Spanyol di Tidore. Benteng ini menampung sekitar 50 tentara yang dipimpin oleh seorang kapten dan dilengkapi dengan artileri yang memadai. Peran benteng ini sangat penting dalam mempertahankan dominasi Spanyol atas perdagangan rempah-rempah di wilayah tersebut.
Peralihan Kekuasaan dan Kondisi Terkini
Setelah Spanyol meninggalkan Tidore pada tahun 1662, Benteng Tahula mengalami berbagai perubahan kepemilikan dan kerusakan. Pada tahun 1707, benteng ini sempat dihancurkan oleh Belanda, namun kemudian Sultan Tidore, Hamzah Fahroedin, berhasil mempertahankan bangunan ini. Sejak saat itu, Benteng Tahula menjadi kediaman keluarga Kesultanan Tidore di bawah pengawasan kolonial Belanda. Kini, meskipun tidak lagi dalam kondisi utuh, Benteng Tahula tetap berdiri dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik di Tidore.
Akses dan Daya Tarik Wisata
Untuk mencapai Benteng Tahula, pengunjung harus melakukan perjalanan ke Pulau Tidore melalui Pulau Ternate, karena Pulau Tidore tidak memiliki bandara. Perjalanan dimulai dari Bandara Sultan Baabullah di Ternate, dilanjutkan menuju Pelabuhan Ferry Bastiong untuk menyeberang ke Pelabuhan Rum di Tidore. Setelah tiba di Pelabuhan Rum, perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan darat menuju lokasi benteng. Sesampainya di area benteng, pengunjung perlu menaiki sekitar 100 anak tangga untuk mencapai lokasi ini.
Dari puncak benteng, pengunjung dapat menikmati pemandangan alam yang indah yang mencakup lautan biru, Pulau Halmahera, dan panorama Kota Tidore. Di sekitar area benteng, terdapat taman kecil dan gazebo yang disediakan untuk pengunjung bersantai sambil menikmati pemandangan. Benteng ini juga menawarkan spot foto yang sangat menarik, menjadikannya tempat yang populer bagi wisatawan yang ingin merasakan nuansa sejarah dan keindahan alam sekaligus.
Penutup
Benteng Tahula tidak hanya berperan sebagai saksi bisu sejarah kolonial di Maluku, tetapi juga menawarkan keindahan alam yang memikat. Sebagai destinasi wisata, benteng ini memberikan pengalaman unik bagi pengunjung yang ingin menyusuri jejak sejarah sambil menikmati panorama alam yang menawan. Dengan perawatan yang memadai, Benteng Tahula diharapkan terus menjadi warisan budaya yang berharga bagi generasi mendatang.