Menu Tutup

Memahami Passive Voice dalam Bahasa Inggris: Kapan, Mengapa, dan Bagaimana Menggunakannya

Bahasa Inggris, dengan segala kompleksitasnya, memiliki dua konstruksi suara utama untuk kalimat: active voice dan passive voice. Meskipun active voice sering kali menjadi pilihan default dan disarankan untuk kejelasan dan keringkasan, passive voice bukanlah sekadar konstruksi yang harus dihindari. Sebaliknya, ia adalah alat tata bahasa yang kuat dan esensial, yang jika digunakan dengan tepat, dapat meningkatkan nuansa, fokus, dan gaya tulisan. Memahami passive voice secara mendalam berarti mengetahui kapan, mengapa, dan bagaimana menggunakannya secara efektif, serta mengenali kapan lebih baik beralih ke active voice.

Apa Itu Passive Voice?

Singkatnya, dalam kalimat active voice, subjek kalimat adalah pelaku tindakan. Contoh: “The boy kicked the ball.” (Anak laki-laki itu menendang bola.) Di sini, “the boy” adalah subjek dan dialah yang melakukan tindakan menendang.

Sebaliknya, dalam passive voice, subjek kalimat adalah objek yang menerima tindakan, bukan pelakunya. Pelaku tindakan (jika disebutkan) biasanya diperkenalkan dengan preposisi “by”. Untuk mengubah kalimat aktif menjadi pasif, objek dari kalimat aktif menjadi subjek dari kalimat pasif, dan bentuk kata kerja “to be” yang sesuai ditambahkan di depan past participle dari kata kerja utama. Contoh: “The ball was kicked by the boy.” (Bola itu ditendang oleh anak laki-laki itu.) Di sini, “the ball” adalah subjek, tetapi bola itu tidak menendang; bola itu ditendang.

Struktur dasar passive voice adalah: Subjek (penerima tindakan) + Bentuk kata kerja “to be” + Past participle + (by + Pelaku tindakan, opsional).

Kapan Menggunakan Passive Voice?

Meskipun sering ada anjuran untuk menggunakan active voice karena alasan kejelasan, ada beberapa situasi di mana passive voice tidak hanya tepat, tetapi juga lebih unggul:

  1. Ketika Pelaku Tindakan Tidak Diketahui, Tidak Penting, atau Jelas dari Konteks: Ini adalah alasan paling umum untuk menggunakan passive voice. Jika kita tidak tahu siapa yang melakukan sesuatu, atau jika itu tidak relevan, passive voice memungkinkan kita untuk fokus pada tindakan atau objek yang terpengaruh.

    • Contoh: “My car was stolen last night.” (Mobil saya dicuri tadi malam.) – Kita tidak tahu siapa pencurinya.
    • Contoh: “Thousands of trees are planted every year.” (Ribuan pohon ditanam setiap tahun.) – Siapa yang menanamnya tidak sepenting fakta bahwa pohon-pohon itu ditanam.
  2. Ketika Kita Ingin Menekankan Objek atau Tindakan, Bukan Pelaku Tindakan: Passive voice menggeser fokus dari pelaku ke penerima tindakan. Ini sangat berguna dalam konteks ilmiah, teknis, atau berita, di mana proses atau hasil lebih penting daripada siapa yang melakukannya.

    • Contoh: “The experiment was conducted under sterile conditions.” (Percobaan itu dilakukan dalam kondisi steril.) – Fokusnya pada kondisi percobaan, bukan pada ilmuwan yang melakukannya.
    • Contoh: “The new bridge will be completed by 2026.” (Jembatan baru itu akan selesai pada tahun 2026.) – Penekanan pada penyelesaian jembatan.
  3. Untuk Menjaga Obyektivitas dan Formalitas (Terutama dalam Penulisan Akademik dan Ilmiah): Dalam banyak disiplin ilmu, passive voice digunakan untuk menjaga nada impersonal dan objektif. Ini menghindari penggunaan kata ganti orang pertama (“I” atau “we”), yang mungkin terasa subjektif atau informal.

    • Contoh: “It was observed that the temperature increased significantly.” (Diamati bahwa suhu meningkat secara signifikan.) – Lebih objektif daripada “I observed that the temperature increased significantly.”
  4. Ketika Pelaku Tindakan Jelas dari Konteks atau Implisit: Dalam beberapa kasus, pembaca sudah tahu atau dapat menyimpulkan siapa pelaku tindakan, sehingga tidak perlu disebutkan secara eksplisit.

    • Contoh: “The suspect was arrested.” (Tersangka itu ditangkap.) – Jelas bahwa polisi yang menangkapnya.
  5. Untuk Variasi Gaya dan Retorika: Meskipun sering disarankan untuk menggunakan active voice untuk kejelasan, kadang-kadang passive voice dapat digunakan untuk memberikan variasi dalam struktur kalimat, menghindari pengulangan, atau untuk tujuan retoris tertentu, seperti untuk menjaga kerahasiaan atau meredam tanggung jawab.

    • Contoh (peredam tanggung jawab): “Mistakes were made.” (Kesalahan telah terjadi.) – Ini menghindari penunjukan jari siapa yang membuat kesalahan.

Bagaimana Menggunakan Passive Voice dengan Benar?

Kunci untuk menggunakan passive voice dengan benar terletak pada pembentukan yang tepat dan pemahaman kapan harus kembali ke active voice.

  1. Bentuk Kata Kerja “To Be” yang Tepat: Pastikan bentuk “to be” (is, am, are, was, were, be, being, been) sesuai dengan tense dan subjek.

    • Simple Present: “The report is written by Sarah.”
    • Simple Past: “The report was written by Sarah.”
    • Present Perfect: “The report has been written by Sarah.”
    • Future Simple: “The report will be written by Sarah.”
    • Modals: “The report can be written by Sarah.”
  2. Gunakan Past Participle: Selalu gunakan bentuk kata kerja past participle (bentuk ketiga) dari kata kerja utama.

    • “write” -> “written”
    • “build” -> “built”
    • “do” -> “done”
  3. Hanya Kata Kerja Transitif yang Dapat Dipasifkan: Hanya kata kerja yang memiliki objek langsung (kata kerja transitif) yang dapat diubah menjadi passive voice. Kata kerja intransitif (yang tidak memiliki objek langsung) tidak dapat dipasifkan.

    • Transitif: “She reads a book.” (Buku itu dibaca olehnya.)
    • Intransitif: “He sleeps.” (Tidak bisa dipasifkan.)

Kapan Menghindari Passive Voice?

Meskipun passive voice memiliki kegunaannya, overuse atau penggunaan yang tidak tepat dapat menyebabkan beberapa masalah:

  1. Kurangnya Kejelasan: Jika pelaku tindakan penting dan dihilangkan, kalimat bisa menjadi ambigu.

    • Pasif yang Buruk: “The decision was made.” (Keputusan telah dibuat.) – Siapa yang membuat keputusan?
    • Aktif yang Lebih Baik: “The committee made the decision.” (Komite membuat keputusan itu.)
  2. Kekakuan dan Kurangnya Gaya: Terlalu banyak passive voice dapat membuat tulisan terasa kaku, tidak langsung, dan kurang menarik.

    • Pasif yang Kaku: “The ball was hit by the player, and then it was caught by the catcher.”
    • Aktif yang Lebih Dinamis: “The player hit the ball, and the catcher caught it.”
  3. Pemborosan Kata: Passive voice seringkali membutuhkan lebih banyak kata daripada active voice untuk menyampaikan informasi yang sama.

    • Pasif: “The analysis was performed by the team.” (6 kata)
    • Aktif: “The team performed the analysis.” (5 kata)

Kesimpulan

Passive voice adalah komponen integral dari tata bahasa Inggris, yang berfungsi sebagai alat yang berharga ketika digunakan secara strategis. Meskipun active voice sering disukai karena kejelasan dan keringkasannya, passive voice sangat diperlukan dalam situasi di mana pelaku tindakan tidak diketahui, tidak relevan, atau ketika penekanan perlu ditempatkan pada tindakan atau penerimanya. Memahami kapan dan bagaimana memanfaatkan passive voice secara efektif akan memperkaya keterampilan menulis Anda, memungkinkan Anda untuk menyampaikan pesan Anda dengan nuansa dan presisi yang lebih besar, serta menjaga objektivitas dan formalitas sesuai kebutuhan. Kuncinya adalah tidak menghindari passive voice sama sekali, melainkan menguasai penggunaannya sebagai bagian dari repertoar tata bahasa yang komprehensif.

Posted in Ragam

Artikel Lainnya