Mengenal Kelenjar Pituitari: Fungsi, Hormon, dan Gangguan

Pituitari adalah kelenjar endokrin yang terletak di dasar otak, tepatnya di bawah hipotalamus. Kelenjar ini berperan penting dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, seperti pertumbuhan, metabolisme, reproduksi, dan stres. Pituitari terbagi menjadi dua bagian, yaitu lobus anterior dan posterior, yang menghasilkan hormon-hormon berbeda. Artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai fungsi dan gangguan kelenjar pituitari.

Fungsi Kelenjar Pituitari

Lobus anterior pituitari menghasilkan enam jenis hormon, yaitu:

  • Hormon pertumbuhan (GH): Hormon ini merangsang pertumbuhan tulang, otot, dan jaringan tubuh lainnya. Hormon ini juga mempengaruhi metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein.
  • Hormon perangsang tiroid (TSH): Hormon ini merangsang kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroid, yang mengatur metabolisme energi, suhu tubuh, dan fungsi saraf.
  • Hormon perangsang folikel (FSH): Hormon ini bersama dengan hormon luteinizing (LH) mengatur proses reproduksi pada pria dan wanita. Pada wanita, FSH merangsang pertumbuhan folikel ovarium yang mengandung sel telur. Pada pria, FSH merangsang produksi sperma di testis.
  • Hormon luteinizing (LH): Hormon ini bersama dengan FSH mengatur proses reproduksi pada pria dan wanita. Pada wanita, LH merangsang pelepasan sel telur dari ovarium (ovulasi) dan pembentukan korpus luteum yang menghasilkan hormon progesteron. Pada pria, LH merangsang produksi testosteron di testis.
  • Hormon prolaktin (PRL): Hormon ini merangsang produksi air susu ibu (ASI) pada wanita yang menyusui. Hormon ini juga mempengaruhi perilaku seksual dan emosional.
  • Hormon adrenokortikotropik (ACTH): Hormon ini merangsang kelenjar adrenal untuk memproduksi hormon kortisol, yang membantu tubuh beradaptasi dengan stres fisik dan psikologis.

Lobus posterior pituitari menghasilkan dua jenis hormon, yaitu:

  • Hormon antidiuretik (ADH): Hormon ini juga disebut vasopresin. Hormon ini mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh dengan cara menstimulasi ginjal untuk menyerap air dari urin. Hormon ini juga mempengaruhi tekanan darah dan denyut jantung.
  • Hormon oksitosin (OT): Hormon ini merangsang kontraksi rahim saat melahirkan dan pelepasan ASI saat menyusui. Hormon ini juga terlibat dalam proses ikatan sosial dan emosional.

Gangguan Kelenjar Pituitari

Beberapa kondisi yang dapat terjadi akibat gangguan kelenjar pituitari adalah sebagai berikut:

  • Akromegali: Kondisi ini terjadi akibat produksi GH yang berlebihan pada orang dewasa. Gejalanya antara lain pembesaran tangan, kaki, wajah, rahang, hidung, bibir, lidah, dan organ dalam. Akromegali juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, dan kanker usus besar. Penyebab utama akromegali adalah adenoma pituitari, yaitu tumor jinak yang tumbuh di kelenjar pituitari1. Diagnosis akromegali dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar GH dan IGF-1 (faktor pertumbuhan insulin-like 1), serta pemeriksaan MRI untuk melihat adanya tumor di kelenjar pituitari2. Pengobatan akromegali meliputi pembedahan untuk mengangkat tumor, radioterapi untuk menghancurkan sel tumor yang tersisa, dan obat-obatan untuk menurunkan kadar GH2.
  • Gigantisme: Kondisi ini terjadi akibat produksi GH yang berlebihan pada anak-anak sebelum tulang epifisis menyatu. Gejalanya antara lain pertumbuhan tinggi yang abnormal, pembesaran tangan, kaki, dan wajah, serta gangguan penglihatan. Gigantisme juga dapat menyebabkan komplikasi yang sama dengan akromegali, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, dan kanker usus besar. Penyebab, diagnosis, dan pengobatan gigantisme sama dengan akromegali2.
  • Dwarfisme: Kondisi ini terjadi akibat produksi GH yang kurang pada anak-anak. Gejalanya antara lain pertumbuhan pendek yang abnormal, proporsi tubuh yang tidak seimbang, dan wajah yang bulat. Dwarfisme juga dapat menyebabkan gangguan metabolisme, obesitas, dan keterlambatan pubertas. Penyebab dwarfisme dapat berasal dari faktor genetik, kelainan kromosom, atau gangguan kelenjar pituitari3. Diagnosis dwarfisme dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar GH dan IGF-1, serta pemeriksaan X-ray untuk melihat pertumbuhan tulang3. Pengobatan dwarfisme meliputi terapi hormon pertumbuhan sintetis untuk merangsang pertumbuhan tulang dan jaringan tubuh3.
  • Sindrom Cushing: Kondisi ini terjadi akibat produksi kortisol yang berlebihan oleh kelenjar adrenal. Gejalanya antara lain penumpukan lemak di wajah (bulan penuh), leher (banteng), dan perut, penipisan kulit dan otot, stretch mark ungu di kulit, tekanan darah tinggi, diabetes, osteoporosis, infeksi berulang, depresi, dan gangguan menstruasi. Penyebab sindrom Cushing dapat berasal dari penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang, tumor adrenal, atau tumor pituitari yang menghasilkan ACTH berlebihan (penyakit Cushing). Diagnosis sindrom Cushing dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah dan urin untuk mengukur kadar kortisol dan ACTH, serta pemeriksaan MRI untuk melihat adanya tumor di kelenjar adrenal atau pituitari. Pengobatan sindrom Cushing meliputi penghentian atau penurunan dosis obat kortikosteroid, pembedahan untuk mengangkat tumor adrenal atau pituitari, radioterapi untuk menghancurkan sel tumor yang tersisa, dan obat-obatan untuk menekan produksi kortisol.
  • Sindrom Sheehan: Kondisi ini terjadi akibat kerusakan kelenjar pituitari akibat kehilangan darah yang banyak atau tekanan darah rendah saat melahirkan. Gejalanya antara lain tidak adanya produksi ASI (agalaktia), tidak adanya menstruasi (amenore), penurunan berat badan, kulit kering, rambut rontok, kelelahan kronis, hipotensi, dan intoleransi dingin. Sindrom Sheehan merupakan salah satu bentuk hipopituitarisme. Diagnosis sindrom Sheehan dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar hormon-hormon pituitari dan organ targetnya, serta pemeriksaan MRI untuk melihat ukuran kelenjar pituitari. Pengobatan sindrom Sheehan meliputi terapi penggantian hormon seumur hidup untuk mengembalikan fungsi-fungsi tubuh yang terganggu.
  • Diabetes insipidus: Kondisi ini terjadi akibat produksi ADH yang kurang oleh lobus posterior pituitari. Gejalanya antara lain buang air kecil yang banyak dan sering (poliuria), haus yang berlebihan (polidipsia), dehidrasi, kekeringan mulut dan kulit, penurunan berat badan, dan kelemahan otot. Diabetes insipidus dapat disebabkan oleh kerusakan lobus posterior pituitari akibat trauma, tumor, infeksi, atau operasi (diabetes insipidus sentral), atau oleh ketidakpekaan ginjal terhadap ADH akibat kelainan genetik atau penyakit

Sumber:
(1) (PDF) Apopleksi Pituitari | Rahadian Indarto Susilo – Academia.edu. https://www.academia.edu/39965575/Apopleksi_Pituitari.
(2) (DOC) Askep Hipopituitarisme + WOC | Astyn Seu – Academia.edu. https://www.academia.edu/11893130/Askep_Hipopituitarisme_WOC.
(3) (DOC) Konsep Sistem Endokrin | rega repangga – Academia.edu. https://www.academia.edu/9957578/Konsep_Sistem_Endokrin.

Navigasi Utama