Iklim di Indonesia: Jenis, Peristiwa, dan Dampaknya

Indonesia adalah negara yang terletak di kawasan tropis, yaitu di antara garis lintang 6° LU hingga 11° LS. Hal ini menyebabkan Indonesia memiliki iklim yang hangat, lembap, dan relatif stabil sepanjang tahun. Iklim di Indonesia sangat dipengaruhi oleh pergerakan angin muson, yaitu angin yang bertiup secara periodik dari arah tertentu. Angin muson ini membawa uap air yang menentukan intensitas curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

Jenis Iklim di Indonesia

Berdasarkan klasifikasi iklim Köppen, Indonesia memiliki beberapa jenis iklim, yaitu:

  • Iklim hutan hujan tropis (Af), yaitu iklim yang memiliki curah hujan tinggi (lebih dari 2000 mm per tahun) dan suhu udara rata-rata bulanan di atas 18 °C sepanjang tahun. Iklim ini banyak ditemukan di wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan sebagian besar Jawa.
  • Iklim muson tropis (Am), yaitu iklim yang memiliki curah hujan tinggi (lebih dari 2000 mm per tahun) tetapi dengan musim kemarau yang jelas (curah hujan bulanan kurang dari 60 mm selama satu atau lebih bulan). Iklim ini banyak ditemukan di wilayah Nusa Tenggara, sebagian Jawa, dan sebagian Sumatra.
  • Iklim sabana tropis (Aw), yaitu iklim yang memiliki curah hujan rendah (kurang dari 2000 mm per tahun) dengan musim kemarau yang panjang (curah hujan bulanan kurang dari 60 mm selama empat atau lebih bulan). Iklim ini banyak ditemukan di wilayah Nusa Tenggara Timur, sebagian Sumatra, dan sebagian Jawa.
  • Iklim laut (Cf), yaitu iklim yang memiliki curah hujan sedang (antara 1000 hingga 2000 mm per tahun) dan suhu udara rata-rata bulanan antara 10 hingga 18 °C sepanjang tahun. Iklim ini banyak ditemukan di wilayah dataran tinggi di Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Papua.
  • Iklim tanah tinggi subtropis (Cwb), yaitu iklim yang memiliki curah hujan sedang (antara 1000 hingga 2000 mm per tahun) dan suhu udara rata-rata bulanan antara 10 hingga 18 °C, tetapi dengan perbedaan suhu antara musim panas dan musim dingin yang besar (lebih dari 5 °C). Iklim ini banyak ditemukan di wilayah pegunungan di Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Papua.
  • Iklim tundra (ET), yaitu iklim yang memiliki curah hujan rendah (kurang dari 1000 mm per tahun) dan suhu udara rata-rata bulanan di bawah 10 °C sepanjang tahun. Iklim ini hanya ditemukan di wilayah puncak tertinggi di Papua, seperti Puncak Jaya.

Peristiwa Iklim di Indonesia

Selain angin muson, iklim di Indonesia juga dipengaruhi oleh beberapa peristiwa iklim global, yaitu:

  • El Niño, yaitu peristiwa peningkatan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian timur yang terjadi setiap 2 hingga 7 tahun sekali. El Niño menyebabkan angin muson timur melemah dan angin muson barat menguat, sehingga mengakibatkan musim kemarau yang lebih panjang dan kering di Indonesia, terutama di wilayah barat dan tengah.
  • La Niña, yaitu peristiwa penurunan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian timur yang terjadi setiap 2 hingga 7 tahun sekali. La Niña menyebabkan angin muson timur menguat dan angin muson barat melemah, sehingga mengakibatkan musim hujan yang lebih panjang dan basah di Indonesia, terutama di wilayah timur dan selatan.
  • Indian Ocean Dipole (IOD), yaitu peristiwa perbedaan suhu permukaan air laut di Samudra Hindia bagian barat dan timur yang terjadi setiap 2 hingga 5 tahun sekali. IOD memiliki dua fase, yaitu fase positif dan fase negatif. Fase positif terjadi ketika suhu permukaan air laut di Samudra Hindia bagian barat lebih tinggi daripada bagian timur, sehingga menyebabkan curah hujan yang lebih tinggi di Indonesia, terutama di wilayah barat. Fase negatif terjadi ketika suhu permukaan air laut di Samudra Hindia bagian barat lebih rendah daripada bagian timur, sehingga menyebabkan curah hujan yang lebih rendah di Indonesia, terutama di wilayah timur.

Dampak Iklim di Indonesia

Iklim di Indonesia memiliki dampak yang signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan, seperti:

  • Biodiversitas, yaitu keanekaragaman hayati yang meliputi berbagai jenis tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme yang hidup di suatu wilayah. Iklim yang hangat dan lembap di Indonesia mendukung pertumbuhan dan perkembangan berbagai spesies endemik, yaitu spesies yang hanya ditemukan di Indonesia dan tidak ada di tempat lain. Contohnya adalah komodo, orangutan, rafflesia, dan anggrek. Namun, iklim yang tidak stabil akibat perubahan musim dan peristiwa iklim global dapat mengancam keberadaan biodiversitas di Indonesia, misalnya dengan menyebabkan kekeringan, banjir, kebakaran hutan, dan perubahan habitat.
  • Pertanian, yaitu kegiatan bercocok tanam yang bertujuan untuk menghasilkan pangan, pakan, bahan industri, dan bahan obat. Iklim yang hangat dan lembap di Indonesia mendukung pertumbuhan dan produksi berbagai tanaman pangan, seperti padi, jagung, ubi, dan singkong. Iklim yang stabil dan sesuai dengan kebutuhan tanaman juga penting untuk menjaga kualitas dan kuantitas hasil panen. Namun, iklim yang tidak stabil akibat perubahan musim dan peristiwa iklim global dapat mengganggu pertanian di Indonesia, misalnya dengan menyebabkan kegagalan panen, serangan hama dan penyakit, dan penurunan produktivitas.
  • Kesehatan, yaitu kondisi fisik, mental, dan sosial yang optimal dari individu dan masyarakat. Iklim yang hangat dan lembap di Indonesia dapat mempengaruhi kesehatan manusia, baik secara positif maupun negatif. Secara positif, iklim yang hangat dan lembap dapat meningkatkan sistem imun dan metabolisme tubuh, serta mengurangi risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular. Secara negatif, iklim yang hangat dan lembap dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi dan parasit, seperti malaria, demam berdarah, dan cacingan. Iklim yang tidak stabil akibat perubahan musim dan peristiwa iklim global juga dapat memicu penyakit yang berkaitan dengan cuaca, seperti diare, flu, dan asma.

Sumber:
(1) Atasi Perubahan Iklim, BMKG Berkolaborasi dengan Badan Cuaca Seluruh Negara. https://www.liputan6.com/
(2) Pengunjung IKLIM Fest Ubud Dilarang Bawa Plastik. https://www.detik.com/

Navigasi Utama