Kerajaan Samudra Pasai, yang dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara, berdiri selama sekitar 257 tahun, dari tahun 1267 hingga 1524 Masehi. Kerajaan ini didirikan oleh seorang pemimpin bernama Meurah Silu, yang setelah memeluk Islam dikenal dengan gelar Sultan Malik al-Saleh. Berdirinya Kerajaan Samudra Pasai menandai awal penyebaran Islam secara luas di wilayah Nusantara.
Pada masa pemerintahan Sultan Malik al-Saleh, dua wilayah penting, yaitu Samudra dan Pasai, disatukan menjadi pusat perdagangan yang maju dan memiliki pengaruh besar di kawasan Asia Tenggara. Setelah wafatnya pada tahun 1297, tampuk pemerintahan dilanjutkan oleh putranya, Sultan Muhammad Malik az-Zahir, yang memimpin hingga tahun 1326. Di bawah kepemimpinannya, kerajaan ini semakin berkembang, terutama sebagai pusat perdagangan internasional dan sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam.
Puncak kejayaan Kerajaan Samudra Pasai terjadi pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Malik az-Zahir, yang memimpin dari tahun 1326 hingga 1345. Di masa ini, Samudra Pasai menjadi pusat perdagangan internasional yang penting, terutama dalam perdagangan lada, dan menjadi salah satu pusat utama penyebaran Islam di wilayah Asia Tenggara.
Namun, kejayaan Samudra Pasai tidak berlangsung selamanya. Pada tahun 1521, kerajaan ini diserang oleh Portugis yang berusaha menguasai jalur perdagangan strategis di Selat Malaka. Serangan ini melemahkan kerajaan, dan pada tahun 1524, wilayah Samudra Pasai akhirnya ditaklukkan dan digabungkan ke dalam Kesultanan Aceh di bawah Sultan Ali Mughayat Syah.
Dengan demikian, Kerajaan Samudra Pasai berdiri selama sekitar 257 tahun, memainkan peran penting dalam penyebaran Islam dan perdagangan di Nusantara sebelum akhirnya menjadi bagian dari Kesultanan Aceh.