eninggalan Bersejarah Kerajaan Samudra Pasai: Jejak Kejayaan Islam di Nusantara

Kerajaan Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara yang berdiri sekitar abad ke-13 hingga abad ke-16 di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Aceh Utara. Kerajaan ini terkenal sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam. Bukti sejarah ini masih dapat ditemukan di berbagai peninggalan yang ada hingga kini. Berikut adalah berbagai peninggalan penting dari Kerajaan Samudra Pasai yang memperlihatkan kejayaannya.

1. Mata Uang Dirham Emas

Salah satu ciri khas Samudra Pasai adalah adanya mata uang yang disebut “dirham”. Dirham Samudra Pasai ini menjadi bukti perkembangan ekonomi kerajaan, karena koin ini digunakan untuk transaksi perdagangan internasional. Koin ini terbuat dari emas, berdiameter sekitar 10 mm, dan beratnya 0,60 gram. Pada satu sisi koin terdapat tulisan “Muhammad Malik Al-Zahir,” dan sisi lainnya bertuliskan “Al-Sultan Al-Adil”. Keberadaan dirham ini menandakan peran Samudra Pasai dalam jalur perdagangan global pada masanya.

2. Cakra Donya

Cakra Donya adalah sebuah lonceng besar yang berbentuk stupa, merupakan hadiah dari Kaisar Tiongkok kepada Sultan Samudra Pasai pada tahun 1409 M. Lonceng ini melambangkan hubungan diplomatik antara Kerajaan Samudra Pasai dengan Dinasti Ming. Cakra Donya yang terbuat dari besi ini memiliki tinggi 125 cm dan lebar 75 cm, dihiasi aksara Arab dan Tiongkok. Saat ini, Cakra Donya disimpan di Museum Aceh dan menjadi simbol peninggalan penting dari Samudra Pasai.

3. Stempel Kerajaan Samudra Pasai

Stempel kerajaan ditemukan di Desa Kuta Krueng, Aceh Utara. Stempel kecil berukuran sekitar 2×1 cm ini terbuat dari tanduk hewan, diyakini digunakan untuk keperluan administratif kerajaan dan otorisasi dokumen resmi. Penemuan ini memperlihatkan organisasi administratif kerajaan yang baik dan kesadaran akan pentingnya dokumentasi dalam pemerintahan.

4. Naskah Surat Sultan Zainal Abidin

Surat yang ditulis oleh Sultan Zainal Abidin pada tahun 1518 M ini mengungkap situasi politik dan hubungan diplomatik Samudra Pasai dengan kekuatan asing, khususnya Portugis. Surat tersebut menjadi bukti tertulis tentang perlawanan kerajaan terhadap Portugis, serta upaya Sultan dalam menjaga kedaulatan dan martabat kerajaan. Naskah ini memiliki nilai sejarah tinggi, memberikan gambaran tentang diplomasi dan hubungan internasional pada masa itu.

5. Kompleks Makam Sultan Malik Al-Saleh

Sultan Malik Al-Saleh merupakan pendiri Kerajaan Samudra Pasai. Makamnya terletak di Desa Beuringin, Aceh Utara. Nisan pada makam ini memiliki ornamen kaligrafi Arab yang indah dan berukuran besar, menunjukkan pengaruh budaya Islam yang kuat dalam seni dan arsitektur kerajaan. Keindahan kaligrafi dan ornamen pada makam ini menunjukkan apresiasi terhadap agama dan seni Islam.

6. Makam Sultanah Nahrasiyah

Sultanah Nahrasiyah adalah salah satu tokoh perempuan yang memimpin kerajaan. Makamnya terletak di Desa Meunasah Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Nisannya dihiasi dengan kaligrafi yang menampilkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, termasuk Surah Yasin dan Ayat Kursi. Nisan ini terbuat dari pualam yang didatangkan dari Gujarat, India. Selain menunjukkan hubungan perdagangan dengan India, makam ini juga merupakan bukti bahwa perempuan memainkan peran penting dalam kerajaan.

7. Makam Sultan Muhammad Malik Al-Zahir

Sultan Muhammad Malik Al-Zahir adalah penerus dari Sultan Malik Al-Saleh. Makamnya juga memiliki ornamen kaligrafi Arab yang menunjukkan peran Islam yang signifikan dalam kehidupan masyarakat Samudra Pasai. Lokasinya yang berdekatan dengan makam ayahnya memperlihatkan tradisi penghormatan dan kontinuitas dalam garis keturunan kerajaan.

8. Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah

Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah merupakan cucu dari Khalifah Al-Muntasir dari Dinasti Abbasiyah yang menjabat sebagai Menteri Keuangan. Batu nisannya terbuat dari marmer dengan ukiran kaligrafi yang menunjukkan adanya hubungan antara kerajaan ini dengan dunia Islam yang lebih luas, termasuk pengaruh dari Dinasti Abbasiyah.

9. Makam Teungku Peuet Ploh Peuet

Kompleks makam ini merupakan tempat peristirahatan 44 ulama yang gugur saat mempertahankan prinsip-prinsip agama. Mereka menolak keputusan raja untuk menikahi putri kandungnya. Di nisan makam ini terdapat kaligrafi yang memuat ayat-ayat Al-Qur’an, menjadi simbol pengorbanan para ulama dalam menjaga moralitas di kerajaan.

10. Makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah)

Ratu Al-Aqla atau Nur Ilah adalah putri Sultan Muhammad Malik Al-Zahir. Nisannya menunjukkan perpaduan unik antara budaya Islam dan tradisi lokal. Makamnya terletak di Gampong Meunje Tujoh dan dihiasi tulisan dalam aksara Kawi dan Arab. Ini menjadi bukti adanya akulturasi budaya lokal dengan pengaruh Islam.

Navigasi Utama