Mengutip sumber adalah salah satu cara untuk menghargai karya orang lain yang kita gunakan sebagai referensi dalam menulis. Mengutip sumber juga dapat membantu pembaca untuk menelusuri informasi yang kita berikan dan memeriksa keabsahan dan kredibilitasnya. Namun, mengutip sumber tidak semudah menyalin dan menempelkan teks dari sumber aslinya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita tidak melakukan plagiarisme atau pencurian karya intelektual. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat kita ikuti untuk mengutip sumber dengan benar.
1. Menentukan Jenis Kutipan
Ada dua jenis kutipan yang umum digunakan dalam menulis, yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung adalah kutipan yang menyalin teks dari sumber aslinya secara persis, tanpa ada perubahan atau penyesuaian. Kutipan langsung biasanya ditandai dengan tanda kutip (“…”) atau dicetak miring. Kutipan tidak langsung adalah kutipan yang menyampaikan gagasan atau informasi dari sumber aslinya dengan menggunakan kata-kata kita sendiri, tanpa mengubah makna atau inti dari teks aslinya. Kutipan tidak langsung biasanya tidak memerlukan tanda kutip atau cetak miring, tetapi harus mencantumkan sumbernya.
Contoh kutipan langsung:
“Plagiarisme adalah tindakan yang tidak etis dan melanggar norma akademik, karena mencuri karya intelektual orang lain tanpa memberikan penghargaan yang semestinya” (Santoso, 2018, hlm. 23).
Contoh kutipan tidak langsung:
Santoso (2018) menjelaskan bahwa plagiarisme merupakan perilaku yang tidak bermoral dan bertentangan dengan aturan akademik, karena mengambil karya cipta orang lain tanpa memberikan pengakuan yang layak (hlm. 23).
2. Memilih Gaya Kutipan
Ada beberapa gaya kutipan yang berbeda-beda tergantung pada bidang ilmu, jurnal, atau institusi yang kita tuju. Beberapa gaya kutipan yang populer adalah APA (American Psychological Association), MLA (Modern Language Association), Chicago, Harvard, dan Vancouver. Setiap gaya kutipan memiliki aturan dan format yang berbeda dalam menulis kutipan, daftar pustaka, catatan kaki, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan sumber. Oleh karena itu, kita harus memilih gaya kutipan yang sesuai dengan kebutuhan dan konsisten dalam menggunakannya.
Contoh kutipan dengan gaya APA:
Menurut Santoso (2018), “Plagiarisme adalah tindakan yang tidak etis dan melanggar norma akademik, karena mencuri karya intelektual orang lain tanpa memberikan penghargaan yang semestinya” (hlm. 23).
Contoh kutipan dengan gaya MLA:
Santoso menyatakan, “Plagiarisme adalah tindakan yang tidak etis dan melanggar norma akademik, karena mencuri karya intelektual orang lain tanpa memberikan penghargaan yang semestinya” (23).
3. Menulis Daftar Pustaka
Daftar pustaka adalah daftar sumber yang kita gunakan dalam menulis, baik yang dikutip secara langsung maupun tidak langsung. Daftar pustaka biasanya ditulis di akhir tulisan, dengan urutan abjad berdasarkan nama pengarang atau judul sumber. Daftar pustaka juga harus mengikuti gaya kutipan yang kita pilih, dengan memperhatikan elemen-elemen seperti nama pengarang, tahun terbit, judul sumber, nama penerbit, tempat terbit, nomor halaman, dan lain-lain.
Contoh daftar pustaka dengan gaya APA:
Santoso, A. (2018). Etika Penulisan Ilmiah. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Contoh daftar pustaka dengan gaya MLA:
Santoso, Agus. Etika Penulisan Ilmiah. Penerbit Erlangga, 2018.