Mengkaji sejarah masuknya Islam di Kalimantan Tengah menyingkap jejak dakwah persaudaraan yang mengalir di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) raksasa pedalaman Borneo. Tidak seperti kawasan pesisir yang dipenuhi benteng militer, persebaran Islam di bumi Tambun Bungai berlangsung melalui penetrasi damai (penetration pacifique), interaksi perniagaan rempah dan hasil hutan, perkawinan kekeluargaan, serta asimilasi kultural dengan masyarakat adat Dayak.
Saat ini, menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah, Islam merupakan agama mayoritas yang dipeluk oleh lebih dari 74% penduduknya. Keberhasilan penyebaran Islam di wilayah ini berpusat pada dua poros peradaban: berdirinya Kesultanan Kotawaringin di barat serta peran mobilitas dakwah Suku Dayak Bakumpai di sepanjang aliran Sungai Barito dan Kapuas Murung.
Baca juga:
Kesultanan Kotawaringin: Poros Kerajaan Islam Tertua di Kalimantan Tengah
Poros kelembagaan politik Islam pertama dan satu-satunya di Kalimantan Tengah adalah Kesultanan Kotawaringin. Kerajaan ini didirikan pada dekade awal abad ke-17 (sekitar tahun 1615–1637 M) oleh Pangeran Adipati Antakusuma, putra dari Sultan Banjar ke-4, Sultan Mustain Billah.
Pangeran Antakusuma bersama rombongan bangsawan dan ulama berlayar menyusuri Laut Jawa menuju barat daya Kalimantan, memasuki muara Sungai Arut dan mendirikan ibukota kesultanan di Kotawaringin Lama (kini berada di Kabupaten Kotawaringin Barat). Kesultanan ini mengikat perjanjian persaudaraan dengan para kepala suku Dayak Tomun dan Dayak Ot Danum di pedalaman, menjamin perlindungan hukum dan perdagangan hasil hutan seperti damar, rotan, dan gaharu.
Peran Kyai Gede dan Masjid Tua Kotawaringin Lama
Dalam membina kehidupan keagamaan masyarakat, Pangeran Antakusuma didampingi oleh seorang ulama agung berilmu tinggi bernama Kyai Gede (Syekh Abdul Qadir). Kyai Gede dipercaya sebagai ulama utusan Kesultanan Demak/Giri di Jawa yang diutus memperkuat akidah Islam di Kalimantan.
Kyai Gede merintis pembangunan pusat ibadah dan pengajian yang dikenal sebagai Masjid Kyai Gede di Kotawaringin Lama. Dibangun seluruhnya dari kayu ulin (kayu besi khas Borneo) dengan atap tumpang bertingkat tanpa paku, masjid yang berdiri kokoh sejak abad ke-17 ini menjadi monumen cagar budaya tertua di Kalimantan Tengah. Kyai Gede mendidik para santri dari kalangan anak-anak pemuka adat Dayak yang kelak menjadi dai di pedalaman hulu sungai.
Jalur Sungai dan Peran Dakwah Dayak Bakumpai
Di wilayah bagian tengah dan timur Kalimantan Tengah, persebaran Islam digerakkan melalui jaringan sungai-sungai besar: Sungai Barito, Sungai Kapuas Murung, Sungai Kahayan, Sungai Katingan, dan Sungai Mentaya (Sampit). Di kawasan ini, komunitas Dayak Bakumpai memegang peran yang sangat krusial sebagai jembatan dakwah.
Suku Dayak Bakumpai yang mendiami hulu Sungai Barito telah memeluk Islam sejak era Kesultanan Banjar pada abad ke-16. Memiliki ketangkasan bernavigasi menggunakan perahu jukung di jeram-jeram sungai pedalaman, para saudagar dan pendakwah Bakumpai membawa barang dagangan sekaligus menyiarkan risalah Islam kepada saudara-saudara serumpun mereka dari suku Dayak Ngaju, Ma’anyan, dan Ot Danum.
Karena pendekatan dakwah dilakukan oleh orang sesuku menggunakan bahasa daerah yang sama, ajaran Islam diterima dengan tangan terbuka tanpa resistensi kebudayaan. Hubungan kekerabatan antar-suku Dayak muslim dan non-muslim tetap terjaga harmonis dalam ikatan persaudaraan sedarah.
Falsafah Huma Betang: Harmoni Islam dan Kearifan Lokal Dayak
Salah satu kekayaan sosiologis paling luhur di Kalimantan Tengah adalah harmonisasi ajaran tauhid dengan falsafah hidup Huma Betang (rumah adat panjang khas Dayak). Dalam satu Rumah Betang tradisional berukuran puluhan meter, beberapa keluarga besar dari berbagai latar belakang agama—Islam, Kristen, dan keyakinan Kaharingan—hidup berdampingan dalam satu atap dengan penuh damai dan gotong royong.
Islam di Kalimantan Tengah mengadopsi nilai-nilai luhur Belom Bahadat (hidup beradab dan beretika):
- Saling menghormati batas makanan halal dan haram di dapur bersama Huma Betang;
- Gotong royong dalam pembangunan balai desa dan rumah ibadah tanpa membedakan keyakinan;
- Penyelesaian perselisihan secara damai melalui hukum adat perdamaian Tumbang Anoi 1894 yang melarang segala bentuk pertumpahan darah antarsesama manusia.
| Wilayah / Poros Dakwah | Tokoh & Pelopor Utama | Peninggalan Historis & Karakteristik |
|---|---|---|
| Kotawaringin Barat | Pangeran Adipati Antakusuma & Kyai Gede | Istana Kuning, Masjid Kayu Ulin Kyai Gede (Kotawaringin Lama) |
| DAS Barito & Kapuas | Dai dan Saudagar Suku Dayak Bakumpai | Dakwah jukung maritim sungai, integrasi bahasa Bakumpai-Ngaju |
| Kahayan & Katingan | Pemuka Adat Dayak Muslim & Ulama Banjar | Harmonisasi falsafah Huma Betang dan toleransi Belom Bahadat |
Kisah Islamisasi Kalimantan Tengah menjadi teladan abadi peradaban Nusantara: ajaran Islam masuk bukan untuk mencabut akar kebudayaan lokal, melainkan hadir memperkaya keluhuran moral persaudaraan manusia di bawah naungan rahmat ilahi.