Banten memegang kedudukan istimewa dalam sejarah Islamisasi Nusantara sebagai gerbang utama peradaban maritim di ujung barat pulau Jawa. Berada tepat di bibir Selat Sunda yang menghubungkan jalur pelayaran Samudra Hindia dengan Laut Jawa, Banten bertransformasi dari sebuah pelabuhan kerajaan Hindu Sunda menjadi kesultanan Islam internasional yang disegani dunia pada abad ke-16 hingga abad ke-18 Masehi. Masuknya Islam di Banten merupakan kisah gemilang perpaduan antara dakwah kultural para wali dan visi diplomasi geopolitik maritim.
Kondisi Demografis Pra-Islam dan Laporan Tome Pires
Sebelum fajar Islam bersinar di Banten, kawasan ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Hindu Sunda Pakuan Pajajaran. Musafir Portugis Tome Pires dalam catatannya Suma Oriental (1513) mencatat bahwa pelabuhan Bantam (Banten) dan Pontang telah ramai disinggahi oleh kapal-kapal dagang internasional yang mengangkut beras, lada, dan bahan pangan, meskipun para penguasanya saat itu belum memeluk Islam.
Dakwah Sunan Gunung Jati dan Sultan Maulana Hasanuddin
Islamisasi terorganisir di Banten dipelopori pada dekade 1520-an oleh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bersama putranya, Maulana Hasanuddin, atas mandat dakwah Kesultanan Demak Bintara dan restu para Wali Songo:
- Dakwah Persuasif di Banten Girang: Sunan Gunung Jati dan Maulana Hasanuddin memulai syiar dari pedalaman (Banten Girang) melalui pendekatan akhlak mulia, pengobatan medis herbal, dan dialog keagamaan dengan para pemuka masyarakat lokal (kaum Ajar Sunda).
- Penaklukan Pos Militer Pajang & Sunda Kelapa (1527 M): Ketika Portugis mencoba mendirikan benteng di Sunda Kelapa melalui perjanjian dengan Pajajaran, pasukan koalisi Demak, Cirebon, dan Banten di bawah pimpinan Fatahillah (Fadhilah Khan) berhasil mematahkan armada Portugis pada 22 Juni 1527, mengamankan seluruh pesisir barat Jawa bagi kedaulatan Islam.
- Pendirian Keraton Surosowan (1552 M): Maulana Hasanuddin resmi dinobatkan sebagai penguasa berdaulat (Sultan Banten pertama) dengan memindahkan pusat pemerintahan dari Banten Girang ke pesisir Banten Lama dan mendirikan Keraton Surosowan.
| Periode Penguasa | Sultan / Tokoh Kunci | Pencapaian Diplomasi & Syiar Islam |
|---|---|---|
| 1552 – 1570 M | Sultan Maulana Hasanuddin | Pendirian Kesultanan Banten, ekspansi dakwah ke Lampung (penghasil lada utama), pembangunan Masjid Agung Banten. |
| 1570 – 1580 M | Sultan Maulana Yusuf | Runtuhnya Pakuan Pajajaran (1579 M), penguatan pertanian irigasi, integrasi dakwah ke pedalaman Priangan barat. |
| 1596 – 1651 M | Sultan Abdul Mafakhir | Raja Jawa pertama yang memperoleh pengakuan gelar resmi “Sultan” dari Syarif Makkah (1638 M). |
| 1651 – 1683 M | Sultan Ageng Tirtayasa | Puncak keemasan perdagangan lada global, modernisasi pelabuhan niaga internasional, perlawanan gigih terhadap VOC Belanda. |
Warisan Sejarah: Arsitektur Masjid Agung Banten
Monumen paling autentik peninggalan era keemasan ini adalah Masjid Agung Banten yang didirikan pada masa Sultan Maulana Hasanuddin. Masjid ini memiliki keunikan arsitektur beratap tumpang lima bersusun yang sarat filosofi rukun Islam. Di samping masjid berdiri megah Menara Banten setinggi 24 meter dengan corak mercusuar akulturasi Eropa karya arsitek Jan Lucas Cardeel (yang memeluk Islam dengan nama Pangeran Wiraguna).
Sejarah masuknya Islam ke Banten memberikan teladan sejarah bahwa dakwah yang dipadukan dengan integritas hukum, keterbukaan niaga global, dan pemuliaan kebudayaan lokal mampu melahirkan peradaban maritim kosmopolitan yang mandiri dan berdaulat.