Sejarah Penyebaran Agama Islam di Sulawesi Tengah

Kajian historis mengenai sejarah penyebaran agama Islam di Sulawesi Tengah memperlihatkan pola dinamika dakwah maritim kepulauan yang kaya akan dialog kebudayaan. Membentang dari pesisir Teluk Palu, Selat Makassar, perairan Teluk Tomini, hingga pegunungan pedalaman, penerimaan Islam di bumi Tadulako berlangsung lewat perpaduan diplomasi niaga antarkerajaan, dakwah ulama pengembara Nusantara, dan pelembagaan pendidikan modern.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tengah terkini, Islam merupakan agama mayoritas yang dipeluk oleh lebih dari 79% penduduknya. Keberhasilan syiar Islam di wilayah ini berakar pada keteladanan para dai yang mengintegrasikan nilai-nilai tauhid dengan adat luhur suku Kaili, Kulawi, Lore, Pamona, Mori, Banggai, Buol, dan Tolitoli.

Jalur Masuk dan Ekspedisi Dakwah Maritim Abad ke-17

Proses masuknya ajaran Islam ke Sulawesi Tengah secara garis besar bergerak melalui tiga koridor utama:

  • Koridor Selatan dan Barat (Pesisir Selat Makassar): Dibuka oleh pengaruh kemitraan dan ekspansi dakwah Kesultanan Gowa-Tallo serta Mandar setelah penguasa kembar Gowa memeluk Islam pada tahun 1605 M. Jalur ini menghubungkan pusat kekuasaan maritim Somba Opu dengan bandar niaga di Lembah Palu, Donggala, dan Parigi.
  • Koridor Utara (Laut Sulawesi dan Buol-Tolitoli): Dipengaruhi oleh jejaring perdagangan Kesultanan Ternate dan Gorontalo yang telah menerima Islam sejak abad ke-15 dan ke-16, menyusuri garis pantai Buol, Tolitoli, dan Kepulauan Banggai.
  • Koridor Timur (Teluk Tolo dan Banggai): Hubungan aliansi maritim Kerajaan Banggai dengan Kesultanan Ternate di Maluku Utara yang mempercepat konversi para pemangku adat kepulauan timur.

Dato Karama (Abdullah Raqie): Pelopor Syiar di Lembah Palu

Tokoh sentral yang diakui dalam tradisi lisan dan historiografi Sulawesi Tengah sebagai pembawa risalah Islam pertama di Lembah Palu adalah Dato Karama, yang memiliki nama asli Syekh Abdullah Raqie. Beliau adalah ulama terpelajar asal Minangkabau (Sumatra Barat) yang berlayar ke Sulawesi setelah mendalami ilmu agama di Aceh dan Malaka.

Pada awal abad ke-17 (sekitar tahun 1606 M), Dato Karama mendarat di Kampung Watusampu (pesisir barat Teluk Palu). Dengan budi pekerti yang santun, kepiawaian pengobatan thibbun nabawi, dan mukjizat karamah yang ditunjukkan atas izin Allah, dakwah beliau menarik simpati penguasa lokal. Dato Karama berhasil mengislamkan Raja Palu ke-4, Pue Nggari (bergelar I Dewa Nyili), yang kemudian diikuti oleh permaisuri, para bangsawan Patanggota, dan rakyat Kaili.

Dato Karama menetap di Kampung Baru (kini Kelurahan Lere, Palu Barat) hingga wafatnya. Makam beliau, bersama makam istrinya Intje Dille dan putrinya Intje Rostia, ditetapkan sebagai cagar budaya religi nasional yang senantiasa diziarahi masyarakat seantero Sulawesi.

Harmonisasi Syariat Islam dan Falsafah Adat Suku Kaili

Keberhasilan dakwah Dato Karama bertumpu pada pendekatannya yang tidak merusak tatanan sosial setempat, melainkan membersihkannya dari anasir animisme (kepercayaan marapu/tuntung). Fikih Islam diselaraskan dengan tata adat Kaili dalam adagium luhur:

“Adat Masagena, Sara Mompakabelo”

(Adat mengatur tatanan kehormatan hidup bersama, sedangkan syariat Islam menyempurnakan dan memperindah kebaikan jiwa).

Penerimaan syariat ini menggeser praktik-praktik penyembahan berhala dan perjudian sabung ayam kuno menjadi perayaan keagamaan penuh berkah, seperti Maulid Nabi, puasa Ramadan, serta musyawarah mufakat (Sintuvu) yang berlandaskan ukhuwah islamiyah.

Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua) dan Institusionalisasi Alkhairaat

Transformasi Islamisasi Sulawesi Tengah memasuki babak keemasan pada abad ke-20 dengan hadirnya ulama besar asal Hadramaut, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, yang akrab disapa oleh masyarakat dengan penuh takzim sebagai Guru Tua (1892–1969 M).

Setelah menimba ilmu di Makkah dan Madinah serta sempat menjabat Mufti di Hadramaut, Guru Tua hijrah ke Indonesia dan pada 11 Juni 1930 (14 Muharram 1349 H) resmi mendirikan lembaga pendidikan dan dakwah Alkhairaat di Kota Palu.

Kiprah Guru Tua mentransformasikan lanskap pendidikan Sulawesi Tengah secara revolusioner:

  • Mendirikan Ribuan Madrasah: Dari sebuah madrasah bersahaja di Palu, Alkhairaat berkembang pesat mendirikan lebih dari 1.700 madrasah dan sekolah yang tersebar di Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua.
  • Pendidikan Inklusif Perempuan: Menjadi pelopor pendidikan bagi kaum wanita di wilayah timur Indonesia melalui pendirian Madrasah Banat Alkhairaat.
  • Pendidikan Tinggi: Melahirkan Universitas Alkhairaat (UNISA) di Palu sebagai benteng kaderisasi intelektual muslim berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah.

Jejak sejarah dari era Dato Karama hingga Guru Tua membuktikan bahwa Sulawesi Tengah merupakan mercusuar dakwah Islam Nusantara yang memadukan kedalaman spiritualitas tasawuf, keluhuran budi pekerti adat, dan kemajuan pendidikan formal.

Navigasi Utama