Pewawancara adalah orang yang bertugas untuk menggali informasi dari sumber atau narasumber dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang relevan dan sesuai dengan tujuan wawancara. Pewawancara bisa berasal dari berbagai bidang, seperti jurnalistik, penelitian, psikologi, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Pewawancara harus memiliki sikap yang profesional, etis, dan empatik agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan mendapatkan hasil yang akurat dan bermutu.
Sikap Profesional
Sikap profesional adalah sikap yang menunjukkan kompetensi, tanggung jawab, kredibilitas, dan integritas dalam melakukan pekerjaan. Sikap profesional yang harus dimiliki seorang pewawancara antara lain:
Persiapan. Sebelum melakukan wawancara, pewawancara harus mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, seperti latar belakang sumber atau narasumber, tujuan wawancara, jenis wawancara, metode wawancara, alat rekam, kuesioner, dan lain-lain. Persiapan yang matang akan membantu pewawancara untuk menghindari kesalahan, kebingungan, atau kegagalan dalam proses wawancara.
Penguasaan materi. Pewawancara harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang topik atau tema yang akan dibahas dalam wawancara. Penguasaan materi akan membantu pewawancara untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan yang tepat, relevan, dan mendalam. Selain itu, penguasaan materi juga akan membantu pewawancara untuk menanggapi jawaban-jawaban yang diberikan oleh sumber atau narasumber dengan cara yang kritis, analitis, dan informatif.
Komunikasi efektif. Pewawancara harus mampu berkomunikasi dengan sumber atau narasumber dengan efektif, yaitu menggunakan bahasa yang jelas, lugas, sopan, dan sesuai dengan konteks. Pewawancara juga harus mampu menggunakan teknik-teknik komunikasi yang sesuai dengan jenis wawancara, seperti mengajukan pertanyaan terbuka atau tertutup, mengulang atau merangkum jawaban, memberikan umpan balik atau penguatan positif, mengajukan pertanyaan tindak lanjut atau klarifikasi, dan lain-lain. Komunikasi efektif akan membantu pewawancara untuk membangun hubungan yang baik dengan sumber atau narasumber dan mendapatkan informasi yang lengkap dan mendetail.
Fleksibilitas. Pewawancara harus mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang terjadi selama proses wawancara. Pewawancara harus siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak terduga, seperti perubahan jadwal, penolakan sumber atau narasumber, gangguan teknis alat rekam, jawaban-jawaban yang tidak sesuai dengan harapan, dan lain-lain. Pewawancara harus mampu mencari solusi yang tepat dan cepat untuk mengatasi masalah-masalah tersebut tanpa mengganggu jalannya wawancara.
Sikap Etis
Sikap etis adalah sikap yang menunjukkan penghargaan terhadap nilai-nilai moral dan norma-norma sosial dalam melakukan pekerjaan. Sikap etis yang harus dimiliki seorang pewawancara antara lain:
Kejujuran. Pewawancara harus bersikap jujur dalam melakukan wawancara. Pewawancara harus memberikan informasi yang benar dan transparan tentang dirinya sendiri, tujuan wawancara, metode wawancara, penggunaan hasil wawancara, dan lain-lain kepada sumber atau narasumber. Pewawancara juga harus menghormati jawaban-jawaban yang diberikan oleh sumber atau narasumber dan tidak mencoba untuk memanipulasi, mengubah, atau menambahkan informasi yang tidak sesuai dengan fakta.
Kerahasiaan. Pewawancara harus menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh dari sumber atau narasumber. Pewawancara harus mendapatkan persetujuan dari sumber atau narasumber tentang siapa saja yang boleh mengetahui dan menggunakan informasi tersebut. Pewawancara juga harus melindungi identitas sumber atau narasumber jika mereka meminta untuk tidak disebutkan namanya atau menggunakan nama samaran. Pewawancara harus menghindari penyebaran informasi yang bersifat pribadi, sensitif, atau rahasia kepada pihak-pihak yang tidak berhak.
Kehormatan. Pewawancara harus menghormati hak dan kewajiban sumber atau narasumber dalam proses wawancara. Pewawancara harus menghargai kebebasan sumber atau narasumber untuk menentukan apakah mereka bersedia atau tidak untuk diwawancarai, kapan dan di mana mereka ingin diwawancarai, apa saja yang ingin mereka jawab atau tidak, dan bagaimana mereka ingin jawabannya ditampilkan. Pewawancara juga harus menghormati martabat, kepercayaan, budaya, dan nilai-nilai sumber atau narasumber dan tidak melakukan diskriminasi, pelecehan, penghinaan, atau penghakiman terhadap mereka.
Sikap Empatik
Sikap empatik adalah sikap yang menunjukkan kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Sikap empatik yang harus dimiliki seorang pewawancara antara lain:
Kesabaran. Pewawancara harus bersabar dalam melakukan wawancara. Pewawancara harus mengerti bahwa sumber atau narasumber mungkin memiliki kesulitan, ketakutan, kebingungan, atau keengganan dalam memberikan informasi. Pewawancara harus memberikan waktu yang cukup kepada sumber atau narasumber untuk berpikir, merenung, atau menenangkan diri sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Pewawancara juga harus menghindari sikap terburu-buru, mendesak, mengintimidasi, atau memaksa sumber atau narasumber untuk memberikan jawaban yang diinginkan.
Pengertian. Pewawancara harus pengertian dalam melakukan wawancara. Pewawancara harus menyadari bahwa sumber atau narasumber mungkin memiliki latar belakang, pengalaman, pengetahuan, pendapat, atau emosi yang berbeda-beda terkait dengan topik atau tema wawancara. Pewawancara harus mencoba untuk memahami sudut pandang dan perasaan sumber atau narasumber tanpa mengkritik, menyalahkan, atau mengejek mereka. Pewawancara juga harus bersikap terbuka dan toleran terhadap perbedaan-perbedaan tersebut dan tidak memaksakan pandangan atau harapan sendiri kepada sumber atau narasumber.
Simpati. Pewawancara harus simpati dalam melakukan wawancara. Pewawancara harus menunjukkan rasa peduli dan dukungan kepada sumber atau narasumber yang mungkin mengalami kesulitan, ketegangan, trauma, atau penderitaan akibat topik atau tema wawancara. Pewawancara harus menggunakan kata-kata dan nada suara yang lembut, hangat, dan ramah untuk membuat sumber atau narasumber merasa nyaman dan aman. Pewawancara juga harus memberikan bantuan atau bimbingan kepada sumber atau narasumber jika mereka membutuhkan pertolongan profesional atau konseling setelah wawancara.