Penyebaran agama Islam di Daerah Istimewa Yogyakarta tidak terlepas dari dedikasi dan kiprah para ulama, auliya, serta tokoh pembaru yang menanamkan fondasi tauhid lewat pendekatan kultural, keteladanan akhlak, dan gerakan sosial nyata. Berlangsung melintasi beberapa abad, genealogi dakwah di Yogyakarta melibatkan perpaduan harmonis antara ulama keraton, kiai pesantren pedalaman, hingga cendekiawan gerakan pembaruan modern.
Memahami riwayat perjuangan tokoh-tokoh penyebar Islam di Yogyakarta memberikan gambaran utuh tentang bagaimana ajaran Islam mampu berakar kuat di hati masyarakat Jawa tanpa menimbulkan benturan kebudayaan yang destruktif.
Baca juga:
1. Ki Ageng Pamanahan dan Panembahan Senapati (Perintis Mentaok)
Ki Ageng Pamanahan bersama putranya, Danang Sutawijaya (Panembahan Senapati), merupakan perintis utama yang meletakkan fondasi peradaban Islam di wilayah Yogyakarta. Melalui rintisan pemukiman di Alas Mentaok pada tahun 1556 M, Ki Ageng Pamanahan menanamkan nilai-nilai religiusitas Islam kepada komunitas awal Kotagede.
Setelah mendirikan Kesultanan Mataram Islam pada 1586 M, Panembahan Senapati menegaskan peran politik Islam dengan menyandang gelar Sayidin Panatagama Khalifatullah. Ia membangun Masjid Gedhe Mataram Kotagede lengkap dengan bedug, sendang seliran, dan tata kota catur gatra (keraton, masjid, alun-alun, dan pasar) yang menjadi prototipe tata kota Islam Nusantara.
2. Sunan Tembayat (Kyai Ageng Pandanaran)
Sunan Tembayat atau Kyai Ageng Pandanaran adalah sosok ulama agung abad ke-16 yang menempuh jalan zuhud dan dakwah tarekat. Awalnya menjabat sebagai Adipati Semarang yang bergelimang harta, ia melepaskan seluruh jabatan duniawinya setelah mendapatkan pencerahan spiritual dari Sunan Kalijaga.
Kyai Ageng Pandanaran kemudian melakukan perjalanan hijrah spiritual ke arah selatan hingga menetap di Perbukitan Jabalkat, Tembayat (kawasan perbatasan timur Yogyakarta-Klaten). Di sana, ia mendirikan padepokan dakwah, mengajarkan tauhid, ilmu fikih, dan pertanian kepada masyarakat pedalaman Mataram. Makam dan peninggalan masjidnya di Tembayat hingga kini menjadi pusat ziarah spiritual terkemuka di tanah Jawa.
3. Ki Ageng Gribig (Wasibagno Timur)
Ki Ageng Gribig adalah ulama sufi keturunan Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) yang hidup pada masa pemerintahan Sultan Agung. Ia dipercaya memegang peran sentral dalam syiar Islam di wilayah pedalaman Mataram bagian timur (Jatinom dan sekitarnya).
Salah satu legasi dakwah kultural Ki Ageng Gribig yang lestari hingga hari ini adalah tradisi Ya Qowiyyu (Saparan). Tradisi ini bermula ketika Ki Ageng Gribig kembali dari ibadah haji di Makkah membawa oleh-oleh kue apem. Karena jumlah kue sedikit sementara warga yang menyambut sangat banyak, ia meminta istrinya membuat apem tambahan lalu membagikannya kepada warga sembari membaca doa memohon kekuatan iman kepada Allah SWT: “Yā Qawiyyu yā ‘Azīz, qawwinā wa-muslimīn” (Wahai Tuhan Yang Maha Kuat dan Perkasa, kuatkanlah kami dan kaum muslimin).
4. Kyai Nur Iman Mlangi (Pangeran Sandiyo)
Kyai Nur Iman Mlangi (bernama lahir RM Sandiyo) merupakan putra sulung Sri Susuhunan Amangkurat IV (Mangkurat Jawi) dan kakak kandung dari Sri Sultan Hamengkubuwono I serta Pakubuwono II. Meskipun berhak menduduki tahta kerajaan, ia memilih melepaskan hak istana demi mendedikasikan seluruh hidupnya untuk keilmuan Islam dan dakwah pesantren.
Kyai Nur Iman mendirikan pemukiman dan pesantren di Desa Mlangi (Gamping, Sleman) yang kelak ditetapkan Sri Sultan Hamengkubuwono I sebagai salah satu pilar Masjid Pathok Negoro. Dari garis keturunan dan murid-murid Kyai Nur Iman Mlangi inilah terpancar jejaring kiai dan pondok pesantren salaf terkemuka di seantero Yogyakarta, Magelang, hingga Jawa Tengah bagian selatan.
5. K.H. Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis)
Memasuki abad modern, poros pembaruan Islam Nusantara berpusat di Kauman Yogyakarta melalui kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan (1868–1923 M). Putra dari K.H. Abu Bakar (Khatib Masjid Gedhe Kauman) ini memperdalam ilmu agama di Makkah dan terinspirasi oleh gagasan pembaruan Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyyah.
Pada 18 November 1912, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan persyarikatan Muhammadiyah. Dakwah K.H. Ahmad Dahlan berfokus pada teologi amal nyata (Surat Al-Ma’un):
- Mendirikan sekolah-sekolah Islam modern yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum;
- Mendirikan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang menjadi cikal bakal jejaring rumah sakit PKU Muhammadiyah;
- Mendirikan panti asuhan dan lembaga filantropi zakat-infak-sedekah mandiri;
- Memperbaiki arah kiblat masjid-masjid di Yogyakarta berdasarkan perhitungan ilmu falak matematis modern.
| Tokoh Penyebar Islam | Era / Abad | Metode & Kontribusi Strategis |
|---|---|---|
| Panembahan Senapati | Abad ke-16 | Pendirian Kesultanan Mataram Islam dan institusionalisasi syariat Sayidin Panatagama |
| Sunan Tembayat | Abad ke-16 | Dakwah zuhud perbukitan Jabalkat dan penguatan akidah masyarakat pedalaman |
| Ki Ageng Gribig | Abad ke-17 | Dakwah kultural tradisi Ya Qowiyyu dan penguatan ketahanan pangan apem |
| Kyai Nur Iman Mlangi | Abad ke-18 | Pendirian Pesantren Mlangi dan perintisan tradisi keilmuan kitab kuning pesantren salaf |
| K.H. Ahmad Dahlan | Abad ke-20 | Pendirian Muhammadiyah, modernisasi pendidikan Islam, dan teologi sosial Al-Ma’un |
Kiprah para tokoh tersebut membuktikan bahwa kesinambungan dakwah Islam di Yogyakarta ditopang oleh keluhuran ilmu, integritas moral, dan kemampuan menghadirkan ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil-‘ālamīn).