{"id":1205,"date":"2023-06-03T22:54:18","date_gmt":"2023-06-03T22:54:18","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1205"},"modified":"2023-06-03T22:54:18","modified_gmt":"2023-06-03T22:54:18","slug":"hakikat-manusia-menurut-tasawuf","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hakikat-manusia-menurut-tasawuf.html","title":{"rendered":"Hakikat Manusia Menurut Tasawuf"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_82_2 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hakikat-manusia-menurut-tasawuf.html\/#Konsep_Hakikat_Manusia_Menurut_Ghazali\" >Konsep Hakikat Manusia Menurut Ghazali<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hakikat-manusia-menurut-tasawuf.html\/#Manusia_Holistik_dalam_Perspektif_Psikologi_dan_Tasawuf\" >Manusia Holistik dalam Perspektif Psikologi dan Tasawuf<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hakikat-manusia-menurut-tasawuf.html\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Tasawuf adalah salah satu cabang ilmu Islam yang khusus membahas tentang hakikat manusia (hakikat). Keberadaan manusia sangat bergantung pada sisi batinnya, dari situ manusia bisa diarahkan menjadi orang yang positif (taqwa) atau negatif (fujur). Selain itu, kajian tentang hakikat ini biasanya dilakukan melalui pendekatan sufistik. Salah satu tokoh sufi yang terkenal dan layak diteliti adalah Abu Hamid Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Shafi\u2019I, yang biasa disebut Imam al-Ghazali. Kajian tentang hakikat yang dilakukan oleh Ghazali sangat berpengaruh pada dunia Islam dan bahkan modern-barat\u00b2.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Konsep_Hakikat_Manusia_Menurut_Ghazali\"><\/span>Konsep Hakikat Manusia Menurut Ghazali<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Menurut Ghazali, konsep hakikat atau kebenaran batin terletak di dalam individu yang terpadu antara jiwa dan tubuh, jiwa sebagai penentu kehidupan dan tubuh sebagai wadah jiwa\u00b2. Jika jiwa seseorang bersih (taqwa) maka tubuhnya juga menjadi bersih (taqwa) dan sebaliknya jika jiwanya kotor (fujur) maka tubuhnya menjadi negatif (fujur)\u00b2. Hakikat akan muncul ketika manusia menjadi ma\u2019rifatullah\u00b2. Pencapaian jiwa ke tahap ma\u2019rifatullah harus melalui tiga proses\u00b2:<\/p>\n<p>&#8211; Takhalli, yaitu membersihkan diri dari sifat-sifat tercela seperti sombong, iri, dengki, tamak, dan lain-lain.<br \/>\n&#8211; Tahalli, yaitu menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji seperti sabar, ikhlas, tawakkal, zuhud, dan lain-lain.<br \/>\n&#8211; Tajalli, yaitu menerima pancaran cahaya ilahi yang menyinari hati dan jiwa.<\/p>\n<p>Proses ketiga ini akan mengantarkan jiwa ke tahap al-nafs al-muthmainnah yang artinya memiliki jiwa yang tenang dan damai untuk selalu bersama dengan zat yang kekal\u00b2.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Manusia_Holistik_dalam_Perspektif_Psikologi_dan_Tasawuf\"><\/span>Manusia Holistik dalam Perspektif Psikologi dan Tasawuf<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Manusia holistik adalah manusia yang memiliki keseimbangan antara aspek fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritual\u00b9. Dalam perspektif tasawuf, manusia holistik adalah ia yang dengan kehendak Tuhan bisa mencapai kondisi jiwa yang tenteram (nafs muthmainnah)\u00b9. Adapun dalam perspektif psikologi sufistik, manusia holistik diartikan sebagai manusia paripurna\u00b9.<\/p>\n<p>Psikologi sufistik adalah cabang psikologi yang mengintegrasikan nilai-nilai sufisme dengan teori-teori psikologi modern\u00b9. Psikologi sufistik menawarkan cara pandang yang lebih luas dan mendalam tentang hakikat manusia dan potensi-potensi yang dimilikinya\u00b9. Psikologi sufistik juga memberikan solusi-solusi praktis untuk mengatasi berbagai masalah psikologis yang dihadapi manusia di zaman ini\u00b9.<\/p>\n<p>Beberapa konsep psikologi sufistik yang relevan dengan pembentukan manusia holistik adalah:<\/p>\n<p>&#8211; Tazkiyah al-nafs, yaitu proses penyucian jiwa dari segala hal yang menghalangi hubungan dengan Tuhan\u00b9.<br \/>\n&#8211; Al-insan al-kamil, yaitu manusia sempurna yang telah mencapai tingkat kesadaran tertinggi tentang dirinya dan Tuhan\u00b9.<br \/>\n&#8211; Al-ma\u2019rifah bi al-dhat wa al-sifat wa al-af\u2019al wa al-asma\u2019, yaitu pengenalan diri dengan zat, sifat, perbuatan, dan nama-nama Tuhan\u00b9.<br \/>\n&#8211; Al-ikhlas, yaitu sikap tulus dan ikhlas dalam segala hal yang dilakukan\u00b9.<br \/>\n&#8211; Al-muraqabah, yaitu latihan kesadaran diri yang melibatkan perhatian, konsentrasi, dan refleksi\u00b9.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Hakikat manusia menurut tasawuf adalah kebenaran batin yang terletak di dalam individu yang terpadu antara jiwa dan tubuh\u00b2. Hakikat manusia akan muncul ketika manusia menjadi ma\u2019rifatullah, yaitu mengenal Tuhan dengan segenap hati dan jiwa\u00b2. Untuk mencapai ma\u2019rifatullah, manusia harus melalui tiga proses, yaitu takhalli, tahalli, dan tajalli\u00b2. Proses ini akan membawa jiwa ke tahap al-nafs al-muthmainnah, yaitu jiwa yang tenang dan damai\u00b2.<\/p>\n<p>Manusia holistik adalah manusia yang memiliki keseimbangan antara aspek fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritual\u00b9. Dalam perspektif tasawuf, manusia holistik adalah ia yang dengan kehendak Tuhan bisa mencapai kondisi jiwa yang tenteram (nafs muthmainnah)\u00b9. Dalam perspektif psikologi sufistik, manusia holistik adalah manusia paripurna\u00b9. Psikologi sufistik adalah cabang psikologi yang mengintegrasikan nilai-nilai sufisme dengan teori-teori psikologi modern\u00b9. Psikologi sufistik menawarkan beberapa konsep yang relevan dengan pembentukan manusia holistik, seperti tazkiyah al-nafs, al-insan al-kamil, al-ma\u2019rifah bi al-dhat wa al-sifat wa al-af\u2019al wa al-asma\u2019, al-ikhlas, dan al-muraqabah\u00b9.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) (PDF) Hakikat Manusia dalam Tasawuf Al-Ghazali &#8211; ResearchGate. https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/328857334_Hakikat_Manusia_dalam_Tasawuf_Al-Ghazali.<br \/>\n(2) MANUSIA HOLISTIK DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN TASAWUF &#8211; CORE. https:\/\/core.ac.uk\/download\/pdf\/234031295.pdf.<br \/>\n(3) Hakikat Manusia dalam Tasawuf Al-Ghazali \u2013 DOAJ. https:\/\/doaj.org\/article\/610661449f5a435391d0a03ae080e8c4.<br \/>\n(4) Proses Penciptaan Adam &#8211; HAKIKAT MANUSIA &#8211; TASAWUF FILOSOFIS. Menyelami &#8230;. https:\/\/123dok.com\/article\/proses-penciptaan-hakikat-manusia-tasawuf-filosofis-menyelami-samudera.zx5dr92w.<br \/>\n(5) Tasawuf &#8211; Penjelasan Hakikat Makna dan Tujuan Bertasawuf. https:\/\/www.intiruh.com\/2016\/04\/tasawuf-penjelasan-hakikat-makna-dan.html.<br \/>\n(6) Ilmu Tasawuf: Pengertian, Dasar Ilmu, Aliran, dan Bentuk Ajarannya &#8211; Orami. https:\/\/www.orami.co.id\/magazine\/ilmu-tasawuf.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tasawuf adalah salah satu cabang ilmu Islam yang khusus membahas tentang hakikat manusia (hakikat). Keberadaan manusia sangat bergantung pada sisi batinnya, dari situ manusia bisa&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-1205","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-v"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1205","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1205"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1205\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1205"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1205"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1205"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}