{"id":1272,"date":"2023-06-08T01:21:46","date_gmt":"2023-06-08T01:21:46","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1272"},"modified":"2024-11-23T11:52:34","modified_gmt":"2024-11-23T04:52:34","slug":"kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html","title":{"rendered":"Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_82_2 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#1_Kerajaan_Samudera_Pasai\" >1. Kerajaan Samudera Pasai<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#2_Kesultanan_Aceh_Darussalam\" >2. Kesultanan Aceh Darussalam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#3_Kesultanan_Demak\" >3. Kesultanan Demak<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#4_Kesultanan_Banten\" >4. Kesultanan Banten<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#5_Kesultanan_Mataram_Islam\" >5. Kesultanan Mataram Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#6_Kesultanan_Ternate_dan_Tidore\" >6. Kesultanan Ternate dan Tidore<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#7_Kesultanan_Gowa-Tallo\" >7. Kesultanan Gowa-Tallo<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#8_Kesultanan_Banjar\" >8. Kesultanan Banjar<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#9_Kesultanan_Cirebon\" >9. Kesultanan Cirebon<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#10_Kesultanan_Palembang_Darussalam\" >10. Kesultanan Palembang Darussalam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#11_Kesultanan_Buton\" >11. Kesultanan Buton<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-12\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#12_Kesultanan_Tidore\" >12. Kesultanan Tidore<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-13\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#13_Kesultanan_Pontianak_Lanjutan\" >13. Kesultanan Pontianak (Lanjutan)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-14\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#Faktor_Penyebaran_Islam_oleh_Kerajaan-Kerajaan_di_Indonesia\" >Faktor Penyebaran Islam oleh Kerajaan-Kerajaan di Indonesia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-15\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#Pengaruh_Kerajaan_Islam_terhadap_Budaya_dan_Tradisi_Nusantara\" >Pengaruh Kerajaan Islam terhadap Budaya dan Tradisi Nusantara<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-16\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#Peninggalan_Sejarah_Kerajaan_Islam_di_Indonesia\" >Peninggalan Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-17\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara.html\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki sejarah panjang yang dipengaruhi oleh berbagai kerajaan Islam yang pernah berdiri di nusantara. Kerajaan-kerajaan ini tidak hanya berperan dalam penyebaran agama Islam, tetapi juga dalam perkembangan budaya, ekonomi, dan politik di wilayahnya masing-masing. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai beberapa kerajaan Islam terkemuka di Indonesia.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Kerajaan_Samudera_Pasai\"><\/span>1. Kerajaan Samudera Pasai<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kerajaan Samudera Pasai dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia. Berdiri pada abad ke-13 di wilayah yang kini dikenal sebagai Aceh Utara, kerajaan ini didirikan oleh Sultan Malik al-Saleh. Samudera Pasai berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Asia Tenggara. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan internasional menjadikannya titik persinggahan penting bagi para pedagang dari berbagai negara.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Kesultanan_Aceh_Darussalam\"><\/span>2. Kesultanan Aceh Darussalam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Didirikan pada awal abad ke-16, Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Aceh menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan memiliki hubungan diplomatik dengan berbagai negara, termasuk Kesultanan Utsmaniyah. Selain itu, Aceh dikenal sebagai pusat pendidikan Islam dengan berdirinya banyak lembaga pendidikan dan ulama terkemuka.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Kesultanan_Demak\"><\/span>3. Kesultanan Demak<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kesultanan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, didirikan oleh Raden Patah pada akhir abad ke-15. Demak berperan penting dalam penyebaran Islam di Jawa dan sekitarnya, dengan dukungan dari Wali Songo. Masjid Agung Demak menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang masih ada hingga kini, mencerminkan arsitektur khas Jawa dengan sentuhan Islam.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Kesultanan_Banten\"><\/span>4. Kesultanan Banten<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Terletak di ujung barat Pulau Jawa, Kesultanan Banten didirikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin pada pertengahan abad ke-16. Banten berkembang sebagai pusat perdagangan internasional, terutama dalam komoditas lada. Pelabuhan Banten menjadi salah satu yang tersibuk di Asia Tenggara pada masanya, menarik pedagang dari berbagai belahan dunia.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"5_Kesultanan_Mataram_Islam\"><\/span>5. Kesultanan Mataram Islam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Berdiri pada akhir abad ke-16, Kesultanan Mataram Islam mencapai puncak kejayaannya di bawah Sultan Agung. Mataram berhasil menyatukan sebagian besar wilayah Jawa dan dikenal dengan upayanya menggabungkan tradisi Jawa dengan ajaran Islam. Sultan Agung juga dikenal karena serangannya ke Batavia (sekarang Jakarta) yang saat itu dikuasai oleh VOC.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"6_Kesultanan_Ternate_dan_Tidore\"><\/span>6. Kesultanan Ternate dan Tidore<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Terletak di Kepulauan Maluku, Kesultanan Ternate dan Tidore dikenal sebagai produsen utama rempah-rempah seperti cengkeh dan pala. Kedua kesultanan ini memainkan peran penting dalam perdagangan internasional dan memiliki hubungan diplomatik dengan berbagai negara, termasuk Portugis dan Spanyol. Persaingan antara Ternate dan Tidore juga mempengaruhi dinamika politik di wilayah Maluku.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"7_Kesultanan_Gowa-Tallo\"><\/span>7. Kesultanan Gowa-Tallo<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Berlokasi di Sulawesi Selatan, Kesultanan Gowa-Tallo menjadi pusat penyebaran Islam di Indonesia bagian timur. Di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Gowa-Tallo menjadi kekuatan maritim yang dominan dan memiliki hubungan dagang dengan berbagai wilayah di Nusantara. Sultan Hasanuddin dikenal sebagai &#8220;Ayam Jantan dari Timur&#8221; karena keberaniannya melawan VOC.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"8_Kesultanan_Banjar\"><\/span>8. Kesultanan Banjar<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Terletak di Kalimantan Selatan, Kesultanan Banjar didirikan pada abad ke-16. Banjar dikenal sebagai produsen lada dan emas, serta menjadi pusat penyebaran Islam di Kalimantan. Hubungan dagang dengan berbagai wilayah, termasuk Jawa dan Sumatera, menjadikan Banjar sebagai salah satu kerajaan penting di Kalimantan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"9_Kesultanan_Cirebon\"><\/span>9. Kesultanan Cirebon<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Didirikan oleh Sunan Gunung Jati pada abad ke-15, Kesultanan Cirebon berperan sebagai pusat penyebaran Islam di Jawa Barat. Cirebon dikenal dengan akulturasi budaya Jawa, Sunda, dan Islam, yang tercermin dalam seni, arsitektur, dan tradisi lokal. Keraton Kasepuhan dan Kanoman menjadi saksi bisu kejayaan Cirebon pada masa lalu.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"10_Kesultanan_Palembang_Darussalam\"><\/span>10. Kesultanan Palembang Darussalam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Berdiri pada abad ke-17, Kesultanan Palembang Darussalam menjadi pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Sumatera bagian selatan. Palembang dikenal dengan Sungai Musi yang menjadi jalur perdagangan utama dan Jembatan Ampera yang menjadi ikon kota. Kesultanan ini juga dikenal dengan tradisi kesenian seperti tari Gending Sriwijaya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"11_Kesultanan_Buton\"><\/span>11. Kesultanan Buton<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Terletak di Sulawesi Tenggara, Kesultanan Buton didirikan pada abad ke-14. Buton dikenal dengan sistem pemerintahan yang unik dan tradisi budaya yang kaya. Benteng Keraton Buton menjadi salah satu benteng terluas di dunia dan menjadi bukti kejayaan kesultanan ini.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"12_Kesultanan_Tidore\"><\/span>12. Kesultanan Tidore<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Selain Ternate, Kesultanan Tidore juga memainkan peran penting dalam perdagangan rempah-rempah di Maluku. Tidore memiliki hubungan diplomatik dengan Spanyol dan menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Indonesia bagian timur. Kebudayaan Tidore kaya dengan tradisi maritim dan kesenian lokal.<\/p>\n<div class=\"group\/conversation-turn relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn\">\n<div class=\"flex-col gap-1 md:gap-3\">\n<div class=\"flex max-w-full flex-col flex-grow\">\n<div class=\"min-h-8 text-message flex w-full flex-col items-end gap-2 whitespace-normal break-words [.text-message+&amp;]:mt-5\" dir=\"auto\" data-message-author-role=\"assistant\" data-message-id=\"d14a2f33-96db-4237-b2e1-5306a4f19e7d\" data-message-model-slug=\"gpt-4o\">\n<div class=\"flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden first:pt-[3px]\">\n<div class=\"markdown prose w-full break-words dark:prose-invert dark\">\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"13_Kesultanan_Pontianak_Lanjutan\"><\/span>13. Kesultanan Pontianak (Lanjutan)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie pada akhir abad ke-18, Kesultanan Pontianak terletak di Kalimantan Barat. Kesultanan ini memainkan peran penting dalam perdagangan dan penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Sungai Kapuas yang membelah kota Pontianak menjadi jalur vital untuk perdagangan rempah, kain, dan barang-barang lainnya. Salah satu warisan budaya yang masih tersisa adalah Keraton Kadriyah Pontianak, yang kini menjadi museum sejarah.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Faktor_Penyebaran_Islam_oleh_Kerajaan-Kerajaan_di_Indonesia\"><\/span>Faktor Penyebaran Islam oleh Kerajaan-Kerajaan di Indonesia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Penyebaran Islam di Nusantara tidak lepas dari peran kerajaan-kerajaan Islam yang telah disebutkan. Beberapa faktor yang mendukung penyebaran Islam oleh kerajaan-kerajaan ini meliputi:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Perdagangan Internasional.<\/strong><br \/>\nBanyak kerajaan Islam terletak di wilayah strategis, seperti di jalur perdagangan internasional, yang memungkinkan interaksi dengan pedagang Muslim dari Timur Tengah, India, dan Tiongkok.<\/li>\n<li><strong>Pernikahan Politik dan Dakwah.<\/strong><br \/>\nPerkawinan antara bangsawan lokal dengan pedagang atau ulama Muslim membantu memperkuat posisi Islam di masyarakat.<\/li>\n<li><strong>Peran Ulama dan Pendidikan.<\/strong><br \/>\nPara ulama mendirikan pesantren dan masjid sebagai pusat pendidikan agama, yang turut menyebarkan ajaran Islam secara sistematis.<\/li>\n<li><strong>Seni dan Budaya.<\/strong><br \/>\nAkulturasi budaya lokal dengan nilai-nilai Islam, seperti wayang kulit dan seni ukir, mempermudah penerimaan Islam oleh masyarakat Nusantara.<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengaruh_Kerajaan_Islam_terhadap_Budaya_dan_Tradisi_Nusantara\"><\/span>Pengaruh Kerajaan Islam terhadap Budaya dan Tradisi Nusantara<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia tidak hanya berkontribusi dalam penyebaran agama, tetapi juga menciptakan pengaruh besar terhadap kebudayaan Nusantara. Beberapa aspek yang dipengaruhi oleh kerajaan Islam meliputi:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Arsitektur.<\/strong><br \/>\nMasjid-masjid seperti Masjid Agung Demak dan Masjid Raya Baiturrahman di Aceh merupakan contoh nyata perpaduan arsitektur tradisional dengan elemen Islam.<\/li>\n<li><strong>Hukum dan Pemerintahan.<\/strong><br \/>\nPenerapan hukum syariat di berbagai kerajaan menunjukkan bagaimana Islam membentuk sistem pemerintahan dan hukum.<\/li>\n<li><strong>Bahasa.<\/strong><br \/>\nBanyak istilah Arab yang masuk ke dalam bahasa lokal, terutama dalam kosa kata agama, politik, dan perdagangan.<\/li>\n<li><strong>Kesenian.<\/strong><br \/>\nMusik, tarian, dan sastra berkembang dengan sentuhan Islam, seperti syair-syair keagamaan dan seni kaligrafi.<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Peninggalan_Sejarah_Kerajaan_Islam_di_Indonesia\"><\/span>Peninggalan Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Peninggalan dari kerajaan-kerajaan Islam masih dapat ditemukan hingga kini dan menjadi bagian penting dari warisan budaya Indonesia. Beberapa di antaranya adalah:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Masjid Agung Demak<\/strong> (Kesultanan Demak)<\/li>\n<li><strong>Benteng Keraton Buton<\/strong> (Kesultanan Buton)<\/li>\n<li><strong>Keraton Kasepuhan dan Kanoman<\/strong> (Kesultanan Cirebon)<\/li>\n<li><strong>Situs Gowa-Tallo<\/strong> (Kesultanan Gowa-Tallo)<\/li>\n<li><strong>Keraton Pontianak<\/strong> (Kesultanan Pontianak)<\/li>\n<li><strong>Masjid Raya Baiturrahman<\/strong> (Kesultanan Aceh)<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia memainkan peran krusial dalam membentuk identitas bangsa. Melalui peran mereka dalam penyebaran agama, perdagangan, pendidikan, dan budaya, Islam menyatu dengan nilai-nilai lokal, menciptakan harmoni yang menjadi ciri khas Nusantara. Peninggalan dari kerajaan-kerajaan tersebut masih menjadi saksi sejarah yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.<\/p>\n<p>Sebagai generasi penerus, sudah menjadi tugas kita untuk menjaga dan melestarikan warisan ini, sehingga nilai-nilai luhur dan sejarah yang kaya dari kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia tetap hidup dan menjadi kebanggaan bangsa.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki sejarah panjang yang dipengaruhi oleh berbagai kerajaan Islam yang pernah berdiri di nusantara. Kerajaan-kerajaan ini tidak hanya&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":42205,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-1272","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-v"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1272","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1272"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1272\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/42205"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1272"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1272"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1272"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}