{"id":1530,"date":"2023-06-20T02:06:15","date_gmt":"2023-06-20T02:06:15","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1530"},"modified":"2023-12-06T00:37:54","modified_gmt":"2023-12-06T00:37:54","slug":"syaikh-rukunuddin-ulama-pertama-yang-menyebarkan-islam-di-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/syaikh-rukunuddin-ulama-pertama-yang-menyebarkan-islam-di-nusantara.html","title":{"rendered":"Syaikh Rukunuddin: Ulama Pertama yang Menyebarkan Islam di Nusantara"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/syaikh-rukunuddin-ulama-pertama-yang-menyebarkan-islam-di-nusantara.html\/#Barus_Fansur_di_Panggung_Perdagangan_Kuno_Dunia\" >Barus (Fansur) di Panggung Perdagangan Kuno Dunia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/syaikh-rukunuddin-ulama-pertama-yang-menyebarkan-islam-di-nusantara.html\/#Arkeologi_Makam_Mahligai_dan_Nisan_Syaikh_Rukunuddin\" >Arkeologi Makam Mahligai dan Nisan Syaikh Rukunuddin<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/syaikh-rukunuddin-ulama-pertama-yang-menyebarkan-islam-di-nusantara.html\/#Kajian_Ilmiah_dan_Perdebatan_Epigrafi_Modern\" >Kajian Ilmiah dan Perdebatan Epigrafi Modern<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/syaikh-rukunuddin-ulama-pertama-yang-menyebarkan-islam-di-nusantara.html\/#Seminar_Sejarah_1963_dan_Penetapan_Titik_Nol_Peradaban_Islam_Nusantara\" >Seminar Sejarah 1963 dan Penetapan Titik Nol Peradaban Islam Nusantara<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Kajian mengenai <strong>Syaikh Rukunuddin dan situs makam Mahligai di Barus<\/strong>, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menempati posisi sentral dalam historiografi masuknya Islam ke Nusantara. Barus (dikenal dalam literatur kuno Yunani, Arab, dan Tiongkok sebagai <em>Fansur<\/em> atau <em>P&#8217;o-lu<\/em>) merupakan bandar niaga maritim tertua di pesisir barat Sumatera yang termasyhur ke seluruh penjuru dunia purba sebagai penghasil getah kapur barus (<em>camphor<\/em>) dan kemenyan berkualitas tinggi.<\/p>\n<p>Keberadaan makam Syaikh Rukunuddin dengan inskripsi nisan yang memuat angka tahun abad ke-7 Masehi (48 Hijriyah \/ 672 Masehi) memperkuat tesis bahwa hubungan antara pedagang muslim jazirah Arab dan kepulauan Nusantara telah terjalin sejak dekade-dekade awal kelahiran Islam era Khulafaur Rasyidin.<\/p>\n<div class=\"kajian-terkait-kampus\" style=\"background-color: #F8FAFC;border-left: 4px solid #D4AF37;padding: 16px 20px;margin: 28px 0;border-radius: 0 8px 8px 0\">\n<p style=\"margin-top: 0;margin-bottom: 8px;font-weight: bold;color: #0F172A\">Baca juga:<\/p>\n<ul style=\"margin-bottom: 0;padding-left: 20px;color: #334155\">\n<li><a href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/sejarah-islam-di-indonesia-masuknya-islam-dan-perkembangannya.html\" title=\"Islamisasi Indonesia\">Sejarah Islam di Indonesia: Teori Masuknya Islam, Rute Samudera, dan Bukti Nisan<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hamzah-fansuri-ulama-sufi-dan-sastrawan-abad-ke-16.html\" title=\"Hamzah Fansuri\">Hamzah Fansuri: Ulama Sufi dan Perintis Sastra Melayu asal Barus<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Barus_Fansur_di_Panggung_Perdagangan_Kuno_Dunia\"><\/span>Barus (Fansur) di Panggung Perdagangan Kuno Dunia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Jauh sebelum armada pelaut Eropa memetakan samudera, kawasan Barus telah tercatat dalam peta geografi Claudius Ptolemaeus pada abad ke-2 Masehi dengan sebutan <em>Barousai<\/em>. Para saudagar dari Mesir, Persia, India, dan dinasti-dinasti Tiongkok berlayar menyeberangi Samudera Hindia untuk memburu kapur barus kristal yang digunakan sebagai bahan pembalseman mumi, ramuan obat-obatan farmasi, dan wewangian istana.<\/p>\n<p>Ketika Islam lahir dan berkembang pesat di Semenanjung Arabia pada abad ke-7 Masehi, jalur pelayaran dagang laut yang menghubungkan Teluk Persia menuju pelabuhan Guangzhou di Tiongkok secara alami singgah di pesisir barat Sumatera untuk mengambil bekal air tawar dan komoditas rempah. Pada masa inilah para pendakwah dan saudagar muslim perintis menetap dan membentuk pemukiman awal di Barus.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Arkeologi_Makam_Mahligai_dan_Nisan_Syaikh_Rukunuddin\"><\/span>Arkeologi Makam Mahligai dan Nisan Syaikh Rukunuddin<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Bukti arkeologis paling menakjubkan di Barus terletak di kompleks pemakaman kuno <strong>Makam Mahligai<\/strong> yang berada di atas perbukitan Desa Sihorbo, Kecamatan Barus. Di kompleks seluas kurang lebih tiga hektare ini, bersemayam jasad para auliya dan saudagar muslim generasi perintis.<\/p>\n<p>Salah satu nisan paling utama adalah nisan makam <strong>Syaikh Rukunuddin<\/strong>. Pada nisan batu cadas tersebut terukir inskripsi kaligrafi Arab kuno yang menyebutkan bahwa Syaikh Rukunuddin wafat pada tahun <strong>48 Hijriyah (672 Masehi)<\/strong> dalam usia 102 tahun lebih. Temuan epigrafi ini menempatkan Barus sezaman dengan era kekhalifahan Mu&#8217;awiyah bin Abu Sufyan (Dinasti Umayyah) dan masa sahabat Nabi SAW.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kajian_Ilmiah_dan_Perdebatan_Epigrafi_Modern\"><\/span>Kajian Ilmiah dan Perdebatan Epigrafi Modern<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Kajian arkeologis gabungan yang dipimpin oleh sejarawan Prancis Claude Guillot dan Ludvik Kalus (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional \/ EFEO) mengonfirmasi bahwa Barus merupakan pemukiman multietnis kosmopolitan dengan temuan pecahan keramik Dinasti Tang (abad ke-9 M), koin-koin emas Timur Tengah, serta nisan-nisan berbahasa Arab beraksara Kufi dan Naskhi kuno.<\/p>\n<p>Sebagian peneliti mencatat bahwa inskripsi nisan makam Mahligai yang ada saat ini merupakan bentuk pemugaran atau penandaan ulang pada abad ke-14 hingga ke-16 Masehi oleh Kesultanan Samudera Pasai atau Kesultanan Aceh untuk memuliakan makam para perintis dakwah terdahulu yang makam aslinya telah ada sejak abad-abad awal hijriyah.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Seminar_Sejarah_1963_dan_Penetapan_Titik_Nol_Peradaban_Islam_Nusantara\"><\/span>Seminar Sejarah 1963 dan Penetapan Titik Nol Peradaban Islam Nusantara<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Signifikansi Barus dalam peta sejarah Islam Indonesia ditegaskan melalui dua tonggak resmi:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia (1963 di Medan):<\/strong> Para sejarawan terkemuka seperti Buya Hamka dan Prof. Hasymy menyimpulkan secara aklamasi bahwa Islam masuk ke kepulauan Indonesia secara langsung dari jazirah Arab pada abad ke-1 Hijriyah (abad ke-7 Masehi) melalui pelabuhan pesisir barat Sumatera (Barus), mengoreksi teori kolonial yang menyebut Islam baru masuk pada abad ke-13 dari Gujarat.<\/li>\n<li><strong>Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara (2017):<\/strong> Pada 24 Maret 2017, Presiden Republik Indonesia meresmikan monumen <em>Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara<\/em> di pinggir pantai Barus, mengukuhkan Barus sebagai pintu gerbang pertama masuknya cahaya Islam ke bumi kepulauan Nusantara.<\/li>\n<\/ul>\n<div class=\"table-responsive\">\n<table class=\"table table-bordered table-striped\" style=\"width: 100%;border-collapse: collapse;margin: 24px 0\">\n<thead>\n<tr style=\"background-color: #0F172A;color: #FFFFFF\">\n<th style=\"padding: 12px;border: 1px solid #CBD5E1\">Parameter Sejarah<\/th>\n<th style=\"padding: 12px;border: 1px solid #CBD5E1\">Fakta Arkeologis &#038; Historiografi Barus<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><strong>Lokasi Geografis<\/strong><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, pesisir barat Sumatera Utara<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><strong>Komoditas Primadona<\/strong><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Kapur Barus kristal (<em>Dryobalanops aromatica<\/em>) dan kemenyan mur murni<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><strong>Inskripsi Nisan Makam<\/strong><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Syaikh Rukunuddin, berangka tahun 48 H (672 M), aksara kaligrafi Arab<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><strong>Situs Terkait<\/strong><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Kompleks Makam Mahligai, Makam Papan Tinggi (Syaikh Mahmud), Situs Lobu Tua<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><strong>Status Nasional<\/strong><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Ditetapkan resmi sebagai Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara (2017)<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/div>\n<p>Kisah Syaikh Rukunuddin dan bumi Barus menjadi pengingat abadi bahwa Nusantara memiliki jalinan peradaban yang sangat tua dan mulia, terhubung langsung dengan denyut nadi dakwah para perintis Islam sejak masa-masa awal risalah kenabian.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kajian mengenai Syaikh Rukunuddin dan situs makam Mahligai di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menempati posisi sentral dalam historiografi masuknya&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45266,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-1530","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-v"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1530","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1530"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1530\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1530"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1530"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1530"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}