{"id":1545,"date":"2023-06-20T02:16:47","date_gmt":"2023-06-20T02:16:47","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1545"},"modified":"2023-06-20T02:16:47","modified_gmt":"2023-06-20T02:16:47","slug":"hamzah-fansuri-ulama-sufi-dan-sastrawan-abad-ke-16","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hamzah-fansuri-ulama-sufi-dan-sastrawan-abad-ke-16.html","title":{"rendered":"Hamzah Fansuri: Ulama Sufi dan Sastrawan Abad Ke-16"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hamzah-fansuri-ulama-sufi-dan-sastrawan-abad-ke-16.html\/#Asal-Usul_dan_Pengelanaan_Spiritual_Melintasi_Benua\" >Asal-Usul dan Pengelanaan Spiritual Melintasi Benua<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hamzah-fansuri-ulama-sufi-dan-sastrawan-abad-ke-16.html\/#Inovasi_Genre_Syair_Melayu_Struktur_Metrum_Empat_Baris\" >Inovasi Genre Syair Melayu: Struktur Metrum Empat Baris<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hamzah-fansuri-ulama-sufi-dan-sastrawan-abad-ke-16.html\/#Doktrin_Tasawuf_Falsafi_Wahdatul_Wujud\" >Doktrin Tasawuf Falsafi: Wahdatul Wujud<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hamzah-fansuri-ulama-sufi-dan-sastrawan-abad-ke-16.html\/#Polemik_Teologis_Era_Sultan_Iskandar_Thani_dan_Rekonsiliasi_Singkel\" >Polemik Teologis Era Sultan Iskandar Thani dan Rekonsiliasi Singkel<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Dalam panggung sejarah kesusastraan dan filsafat Islam Asia Tenggara, <strong>Hamzah Fansuri<\/strong> (hidup pada abad ke-16 hingga awal abad ke-17) diakui dunia sebagai bapak puisi Melayu modern, ulama sufi perintis, dan intelektual ensiklopedis pertama yang menuangkan doktrin tasawuf falsafi ke dalam bahasa Melayu beraksara Jawi. Sarjana Belanda A. Teeuw bahkan menobatkannya sebagai <em>&#8220;the creator of the Malay poetic genre&#8221;<\/em> (pencipta genre syair dalam bahasa Melayu).<\/p>\n<p>Melalui keindahan rima puisi dan ketajaman risalah prosanya, Hamzah Fansuri mengangkat martabat bahasa Melayu dari sekadar bahasa perniagaan pasar (<em>lingua franca<\/em>) menjadi bahasa ilmiah dan filosofis yang mampu menampung pemikiran teologis paling rumit dan mendalam.<\/p>\n<div class=\"kajian-terkait-kampus\" style=\"background-color: #F8FAFC;border-left: 4px solid #D4AF37;padding: 16px 20px;margin: 28px 0;border-radius: 0 8px 8px 0\">\n<p style=\"margin-top: 0;margin-bottom: 8px;font-weight: bold;color: #0F172A\">Baca juga:<\/p>\n<ul style=\"margin-bottom: 0;padding-left: 20px;color: #334155\">\n<li><a href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/syaikh-rukunuddin-ulama-pertama-yang-menyebarkan-islam-di-nusantara.html\" title=\"Syaikh Rukunuddin Barus\">Syaikh Rukunuddin: Sejarah Makam Mahligai dan Bandar Kuno Barus Fansur<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/tasawuf-falsafi-dan-akhlaki.html\" title=\"Tasawuf Falsafi dan Akhlaki\">Tasawuf Falsafi: Doktrin Wujudiyah dan Rekonsiliasi Sunni<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Asal-Usul_dan_Pengelanaan_Spiritual_Melintasi_Benua\"><\/span>Asal-Usul dan Pengelanaan Spiritual Melintasi Benua<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Nisbah nama <strong>Al-Fans\u016br\u012b<\/strong> merujuk pada tanah kelahirannya di <strong>Barus (Fansur)<\/strong>, pesisir barat Sumatera Utara. Sebagian sejarawan mencatat bahwa beliau juga memiliki kaitan erat dengan Ayutthaya (ibukota lama Kerajaan Siam\/Thailand) tempat komunitas Melayu-Islam menetap pada abad ke-16.<\/p>\n<p>Hamzah Fansuri adalah sufi pengembara sejati. Dalam syair-syairnya, ia merekam perjalanan spiritualnya menyeberangi Samudera Hindia dan Timur Tengah: singgah di India, mendalami tasawuf di Persia, serta menziarahi pusat-pusat keilmuan Islam di Makkah, Madinah, Baghdad, dan Baitul Maqdis (Yerusalem). Di Baghdad, ia diinisiasi ke dalam <strong>Tarekat Qadiriyah<\/strong> yang didirikan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani.<\/p>\n<p>Setelah kembali ke tanah air, beliau mengabdi di <strong>Kesultanan Aceh Darussalam<\/strong> pada era keemasan Sultan Alauddin Ri&#8217;ayat Syah Sayyid al-Mukammil (bertahta 1589\u20131604 M). Di ibukota Bandar Aceh, Hamzah Fansuri mendirikan pusat pengajian dan menjadi penasihat spiritual istana kesultanan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Inovasi_Genre_Syair_Melayu_Struktur_Metrum_Empat_Baris\"><\/span>Inovasi Genre Syair Melayu: Struktur Metrum Empat Baris<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Sebelum Hamzah Fansuri, sastra Melayu didominasi oleh bentuk pantun dan mantra lisan tradisional. Hamzah Fansuri melakukan revolusi puitika dengan memperkenalkan genre <strong>Syair<\/strong>, yakni bentuk puisi yang terikat oleh pola empat baris dalam setiap bait dengan skema rima akhir yang sama: <strong>a-a-a-a<\/strong>.<\/p>\n<p>Syair-syair ciptaannya menggunakan metafora alam bahari dan fauna yang akrab dengan masyarakat maritim Nusantara, seperti perahu, ombak, burung pungguk, dan sauh, untuk menjelaskan tahapan musyahadah kepada Allah SWT. Di antara bait legendaris dalam <strong>Syair Perahu<\/strong>:<\/p>\n<blockquote style=\"border-left: 4px solid #D4AF37;margin: 16px 0;padding: 12px 20px;background-color: #F8FAFC;font-style: italic;color: #0F172A\"><p>\n&#8220;Wahai muda kenali dirimu,<br \/>\nIalah perahu tamsil tubuhmu,<br \/>\nTiadalah berapa lama hidupmu,<br \/>\nKe akhirat jua kekal diammu.<\/p>\n<p>Hai muda arif budiman,<br \/>\nHasilkan bekal air dan pedoman,<br \/>\nTeguhkan sauh serta kemudi,<br \/>\nSupaya selamat ke negeri yang abadi.&#8221;\n<\/p><\/blockquote>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Doktrin_Tasawuf_Falsafi_Wahdatul_Wujud\"><\/span>Doktrin Tasawuf Falsafi: Wahdatul Wujud<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Di bidang filsafat tasawuf, Hamzah Fansuri merupakan eksponen utama doktrin <strong>Wahdatul Wujud<\/strong> (Kesatuan Wujud) di Asia Tenggara yang berpijak pada pemikiran Syekh Ibnu &#8216;Arabi dan Al-Jili. Doktrin ini menegaskan bahwa satu-satunya Wujud Hakiki yang mutlak adalah Allah SWT, sementara alam semesta beserta isinya hanyalah pancaran tajalli (manifestasi) dari keindahan dan keagungan asma dan sifat-Nya.<\/p>\n<p>Hamzah Fansuri menuangkan ajarannya secara sistematis ke dalam tiga kitab prosa Melayu klasik terpenting:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Asr\u0101r al-\u02bb\u0100rif\u012bn (Rahasia Orang yang Makrifat):<\/strong> Membahas hakikat makrifatullah, sifat-sifat ketuhanan, dan rahasia penciptaan ruh.<\/li>\n<li><strong>Shar\u0101b al-\u02bb\u0100shiq\u012bn (Minuman Para Pecinta):<\/strong> Menguraikan empat tingkatan jalan spiritual sufi: Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat secara bertahap.<\/li>\n<li><strong>Al-Muntah\u012b (Pencapai Tingkat Akhir):<\/strong> Risalah tingkat lanjut mengenai tingkatan fana&#8217; (leburnya kesadaran ego manusia) dan baqa&#8217; (hidup kekal bersama keridaan Allah).<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Polemik_Teologis_Era_Sultan_Iskandar_Thani_dan_Rekonsiliasi_Singkel\"><\/span>Polemik Teologis Era Sultan Iskandar Thani dan Rekonsiliasi Singkel<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pada pertengahan abad ke-17, pasca wafatnya Hamzah Fansuri dan murid utamanya Syamsuddin al-Sumatrani, timbul polemik teologis tajam di istana Kesultanan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani (1637 M). Mufti kesultanan saat itu, <strong>Syekh Nuruddin ar-Raniri<\/strong>, menuduh ajaran wahdatul wujud tergelincir ke dalam panteisme zindiq.<\/p>\n<p>Polemik ini baru mereda secara damai ketika <strong>Syekh Abdurrauf as-Singkili<\/strong> kembali dari Haramain pada dekade 1660-an M. Syekh Abdurrauf melakukan rekonsiliasi keilmuan dengan menjelaskan bahwa Hamzah Fansuri tetap berpegang teguh pada syariat Islam, dan konsep wujudiyah yang dimaksudkannya adalah pengalaman intuisi spiritual suci (<em>dzawq<\/em>), bukan penyamaan Tuhan dengan zat makhluk secara fisik.<\/p>\n<div class=\"table-responsive\">\n<table class=\"table table-bordered table-striped\" style=\"width: 100%;border-collapse: collapse;margin: 24px 0\">\n<thead>\n<tr style=\"background-color: #0F172A;color: #FFFFFF\">\n<th style=\"padding: 12px;border: 1px solid #CBD5E1\">Kategori Karya<\/th>\n<th style=\"padding: 12px;border: 1px solid #CBD5E1\">Judul Kitab \/ Naskah<\/th>\n<th style=\"padding: 12px;border: 1px solid #CBD5E1\">Pokok Ajaran &#038; Estetika Sastra<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><strong>Karya Prosa Sufi<\/strong><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><em>Shar\u0101b al-\u02bb\u0100shiq\u012bn<\/em><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Pedoman empat pilar tasawuf: Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><strong>Karya Prosa Sufi<\/strong><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><em>Asr\u0101r al-\u02bb\u0100rif\u012bn<\/em><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Tafsir sufistik terhadap ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan konsep tajalliyyat<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><strong>Karya Prosa Sufi<\/strong><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><em>Al-Muntah\u012b<\/em><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Penjelasan filosofis fana&#8217; fi Allah dan penyucian jiwa tingkat lanjut<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><strong>Karya Syair Puitis<\/strong><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><em>Syair Perahu<\/em><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Alegori perahu melintasi ombak samudera dunia menuju dermaga akhirat<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><strong>Karya Syair Puitis<\/strong><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><em>Syair Burung Pingai<\/em><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Simbolisasi jiwa manusia yang merindukan kembali ke haribaan Sang Khalik<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/div>\n<p>Karya-karya Hamzah Fansuri membuktikan bahwa bangsa Nusantara sejak abad ke-16 telah melahirkan mahakarya intelektual tingkat tinggi yang memadukan keindahan bahasa puitis dan kedalaman renungan tauhid yang tak lekang dimakan zaman.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam panggung sejarah kesusastraan dan filsafat Islam Asia Tenggara, Hamzah Fansuri (hidup pada abad ke-16 hingga awal abad ke-17) diakui&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45266,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-1545","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-v"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1545","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1545"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1545\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1545"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1545"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1545"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}