{"id":1651,"date":"2023-06-22T03:57:08","date_gmt":"2023-06-22T03:57:08","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1651"},"modified":"2023-06-22T03:57:08","modified_gmt":"2023-06-22T03:57:08","slug":"pancasila-sebagai-paradigma-pembangunan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pancasila-sebagai-paradigma-pembangunan-nasional.html","title":{"rendered":"Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Nasional"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pancasila-sebagai-paradigma-pembangunan-nasional.html\/#Landasan_Yuridis_Transformasi_Menuju_Indonesia_Emas_UU_No_59_Tahun_2024\" >Landasan Yuridis: Transformasi Menuju Indonesia Emas (UU No. 59 Tahun 2024)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pancasila-sebagai-paradigma-pembangunan-nasional.html\/#Sintesis_Implementasi_Pancasila_Lintas_Sektor_Pembangunan\" >Sintesis Implementasi Pancasila Lintas Sektor Pembangunan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pancasila-sebagai-paradigma-pembangunan-nasional.html\/#Mencegah_Dehumanisasi_di_Tengah_Modernisasi\" >Mencegah Dehumanisasi di Tengah Modernisasi<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Pembangunan nasional di Indonesia bukan sekadar proyek akumulasi kapital fisik, pembukaan kawasan industri, atau percepatan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Secara mendasar, pembangunan adalah ikhtiar kolektif memuliakan harkat dan martabat manusia Indonesia seutuhnya. Menempatkan Pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional bermakna bahwa seluruh visi perumusan kebijakan, strategi penganggaran negara, hingga mitigasi dampak lingkungan wajib dipandu oleh lima nilai fondasional ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Landasan_Yuridis_Transformasi_Menuju_Indonesia_Emas_UU_No_59_Tahun_2024\"><\/span>Landasan Yuridis: Transformasi Menuju Indonesia Emas (UU No. 59 Tahun 2024)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Arah pembangunan nasional Indonesia kini dipandu secara resmi oleh <strong>Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025\u00e2\u20ac\u201c2045<\/strong>. Visi &#8220;Indonesia Emas 2045&#8221; yang menargetkan Indonesia menjadi negara nusantara berdaulat, maju, dan berkelanjutan meletakkan Pancasila sebagai pilar etika utama pembangunan:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Ekonomi Kerakyatan (Pasal 33 UUD NRI 1945):<\/strong> Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan, di mana cabang-cabang produksi penting dan bumi air dikuasai negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, bukan untuk pengayaan oligarki segelintir konglomerat.<\/li>\n<li><strong>Pembangunan Berkelanjutan (Green and Blue Economy):<\/strong> Memadukan kemajuan industri dengan kelestarian alam hayati demi menjamin hak generasi masa depan atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat.<\/li>\n<li><strong>Ketahanan Transformasi Sosial:<\/strong> Menjamin akses pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial universal (Universal Health Coverage) tanpa diskriminasi status ekonomi.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sintesis_Implementasi_Pancasila_Lintas_Sektor_Pembangunan\"><\/span>Sintesis Implementasi Pancasila Lintas Sektor Pembangunan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<div class=\"table-responsive\">\n<table class=\"table\">\n<thead>\n<tr>\n<th>Sektor Pembangunan<\/th>\n<th>Landasan Etika Sila<\/th>\n<th>Penerapan Nyata dalam Kebijakan Publik<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td><strong>Pembangunan Politik &amp; Hukum<\/strong><\/td>\n<td>Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat&#8230;<\/td>\n<td>Penegakan supremasi hukum yang independen, partisipasi publik bermakna (<em>meaningful participation<\/em>) dalam perancangan UU, dan reformasi birokrasi bebas korupsi.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Pembangunan Ekonomi<\/strong><\/td>\n<td>Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat&#8230;<\/td>\n<td>Pemberdayaan koperasi dan UMKM, hilirisasi sumber daya alam berkeadilan, pemerataan dana transfer daerah, dan jaring pengaman sosial adaptif.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Pembangunan Sosial &amp; Budaya<\/strong><\/td>\n<td>Sila Kedua &amp; Ketiga: Kemanusiaan &amp; Persatuan<\/td>\n<td>Pelestarian warisan budaya nusantara, moderasi beragama, kesetaraan gender, dan pengentasan kemiskinan ekstrem di wilayah 3T.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Pembangunan Sains &amp; Teknologi<\/strong><\/td>\n<td>Sila Pertama &amp; Kedua: Ketuhanan &amp; Kemanusiaan<\/td>\n<td>Riset bioteknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang tunduk pada bioetika kemanusiaan serta kemandirian kedaulatan digital nasional.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Pertahanan &amp; Kedaulatan<\/strong><\/td>\n<td>Sila Ketiga: Persatuan Indonesia<\/td>\n<td>Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) yang menjaga integritas wilayah kepulauan terluar Negara Kesatuan Republik Indonesia.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mencegah_Dehumanisasi_di_Tengah_Modernisasi\"><\/span>Mencegah Dehumanisasi di Tengah Modernisasi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Tantangan terbesar pembangunan modern adalah ancaman dehumanisasi: ketika manusia tereduksi menjadi sekadar angka statistik tenaga kerja murah dan alam dieksploitasi tanpa batas nurani. Pancasila hadir sebagai filter kritis yang menolak paham kapitalisme predatoris maupun sosialisme totaliter. Dengan menempatkan keadilan distributif dan nilai transendental ketuhanan sebagai poros pembangunan, Indonesia membuktikan kepada dunia bahwa modernisasi dapat diraih beriringan dengan keluhuran moral dan kelestarian peradaban.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pembangunan nasional di Indonesia bukan sekadar proyek akumulasi kapital fisik, pembukaan kawasan industri, atau percepatan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB)&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45266,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[85],"tags":[],"class_list":["post-1651","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1651","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1651"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1651\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1651"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1651"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1651"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}