{"id":1657,"date":"2023-06-22T03:59:33","date_gmt":"2023-06-22T03:59:33","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1657"},"modified":"2023-06-22T03:59:33","modified_gmt":"2023-06-22T03:59:33","slug":"pancasila-sebagai-dasar-negara-dan-konstitusi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pancasila-sebagai-dasar-negara-dan-konstitusi\/","title":{"rendered":"Pancasila sebagai Dasar Negara dan Konstitusi"},"content":{"rendered":"<p>Dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia, hubungan antara <strong>Pancasila<\/strong> dan <strong>Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945)<\/strong> merupakan hubungan simbiosis timbal balik yang tidak terpisahkan (<em>inseparable symbiosis<\/em>). Pancasila menempati posisi sebagai dasar falsafah negara (<em>philosophische grondslag<\/em>) dan norma fundamental negara (<em>Staatsfundamentalnorm<\/em>), sedangkan UUD 1945 berkedudukan sebagai hukum dasar tertulis tertinggi (<em>Staatsgrundgesetz<\/em>) yang menuangkan prinsip-prinsip Pancasila ke dalam pasal-pasal konstitusional yang mengikat seluruh penyelenggara negara dan warga negara.<\/p>\n<p>Kedudukan yuridis Pancasila sebagai dasar negara ditegaskan secara konstitusional dalam <strong>Alinea Keempat Pembukaan UUD 1945<\/strong> serta dikukuhkan sebagai <strong>sumber dari segala sumber hukum negara<\/strong> melalui <strong>Pasal 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan<\/strong>. Oleh karena itu, setiap materi muatan peraturan perundang-undangan di Indonesia tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila.<\/p>\n<div class=\"kajian-terkait-kampus\" style=\"background-color: #F8FAFC;border-left: 4px solid #D4AF37;padding: 16px 20px;margin: 28px 0;border-radius: 0 8px 8px 0\">\n<p style=\"margin-top: 0;margin-bottom: 8px;font-weight: bold;color: #0F172A\">Artikel Terkait:<\/p>\n<ul style=\"margin-bottom: 0;padding-left: 20px;color: #334155\">\n<li><a href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kedudukan-dan-fungsi-pancasila-bagi-bangsa-dan-negara-indonesia.html\" title=\"Kedudukan Pancasila\">Kedudukan dan Fungsi Pancasila sebagai Sumber dari Segala Sumber Hukum<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kedudukan-dan-fungsi-uud-1945-dalam-sistem-hukum-nasional.html\" title=\"Kedudukan UUD 1945\">Kedudukan dan Fungsi UUD 1945 dalam Sistem Hukum Nasional<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/tata-urutan-peraturan-perundang-undangan-dalam-sistem-hukum-nasional-di-indonesia.html\" title=\"Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan\">Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan di Indonesia<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/konsep-judicial-review-menjaga-keseimbangan-lembaga.html\" title=\"Judicial Review\">Konsep Judicial Review Mahkamah Konstitusi dalam Menguji Undang-Undang<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<h2>Hubungan Kausal-Organis antara Pancasila dan Pembukaan UUD 1945<\/h2>\n<p>Secara yuridis formal, rumusan sila-sila Pancasila yang sah dan mengikat tercantum di dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi:<\/p>\n<blockquote>\n<p><em>&#8220;&#8230;maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan\/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.&#8221;<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Hubungan kausal-organis ini melahirkan tiga konsekuensi hukum fundamental:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Pancasila sebagai Roh Konstitusi:<\/strong> Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 (persatuan, keadilan sosial, kedaulatan rakyat, dan ketuhanan-kemanusiaan) merupakan pancaran langsung dari nilai-nilai Pancasila.<\/li>\n<li><strong>Pembukaan UUD 1945 Tidak Dapat Diubah:<\/strong> Karena memuat dasar negara Pancasila dan proklamasi kemerdekaan, MPR memiliki kesepakatan dasar konstitusional permanen bahwa Pembukaan UUD 1945 tidak dapat diamandemen oleh siapapun. Mengubah Pembukaan berarti membubarkan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945.<\/li>\n<li><strong>Pasal-Pasal Konstitusi sebagai Penjabaran Norma:<\/strong> Seluruh pasal di dalam batang tubuh UUD 1945 merupakan perwujudan konkret dari sila-sila Pancasila dalam mengatur kelembagaan negara, pembagian kekuasaan, hak asasi manusia, dan sistem perekonomian nasional.<\/li>\n<\/ol>\n<h2>Fungsi Pancasila dalam Pengujian Konstitusionalitas Undang-Undang<\/h2>\n<p>Dalam praktik peradilan ketatanegaraan modern, Pancasila berfungsi sebagai <strong>batu uji tertinggi (touchstone of constitutionality)<\/strong> yang dipegang oleh <strong>Mahkamah Konstitusi (MK)<\/strong>. Berdasarkan <strong>Pasal 24C ayat (1) UUD 1945<\/strong>, Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar.<\/p>\n<p>Setiap undang-undang yang dinilai bertentangan dengan prinsip keadilan sosial, kemanusiaan yang adil dan beradab, atau hak-hak konstitusional warga negara yang berakar dari Pancasila dapat dibatalkan oleh MK demi menjaga kemurnian ideologi negara dan kepastian hukum yang adil.<\/p>\n<h2>Tabel Integrasi Sila-Sila Pancasila ke dalam Pasal UUD 1945<\/h2>\n<div class=\"table-responsive\">\n<table class=\"table table-bordered table-striped\" style=\"width: 100%;border-collapse: collapse;margin: 24px 0\">\n<thead>\n<tr style=\"background-color: #0F172A;color: #FFFFFF\">\n<th style=\"padding: 12px;border: 1px solid #CBD5E1\">Sila Pancasila<\/th>\n<th style=\"padding: 12px;border: 1px solid #CBD5E1\">Inti Filosofis<\/th>\n<th style=\"padding: 12px;border: 1px solid #CBD5E1\">Penjabaran dalam Pasal UUD 1945<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1;font-weight: bold\">Sila I<\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Ketuhanan Yang Maha Esa<\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Pasal 29 ayat (1) dan (2) UUD 1945 (Negara berdasar atas Ketuhanan &#038; kebebasan beribadat)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1;font-weight: bold\">Sila II<\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Kemanusiaan yang Adil dan Beradab<\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Bab XA Pasal 28A s.d. Pasal 28J UUD 1945 (Katalog Lengkap Hak Asasi Manusia)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1;font-weight: bold\">Sila III<\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Persatuan Indonesia<\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Pasal 1 ayat (1), Pasal 25A (Wilayah NKRI), Pasal 35, 36, 36A, 36B (Identitas Negara)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1;font-weight: bold\">Sila IV<\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Kerakyatan dalam Permusyawaratan\/Perwakilan<\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Pasal 1 ayat (2) (Kedaulatan Rakyat), Pasal 2, 6A, 19, 22C, 22E (Sistem Pemilu &#038; Parlemen)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1;font-weight: bold\">Sila V<\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat<\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Pasal 33 (Perekonomian Nasional &#038; SDA) dan Pasal 34 (Kesejahteraan Sosial &#038; Fakir Miskin)<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/div>\n<p>Memahami Pancasila sebagai dasar negara dan roh konstitusi merupakan kewajiban fundamental bagi segenap warga bangsa agar hukum nasional senantiasa berkeadilan, mencerminkan kepribadian bangsa, dan melindungi martabat seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia, hubungan antara Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) merupakan hubungan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45266,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[85],"tags":[],"class_list":["post-1657","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1657","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1657"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1657\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1657"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1657"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1657"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}