{"id":38397,"date":"2024-04-23T08:26:05","date_gmt":"2024-04-23T01:26:05","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=38397"},"modified":"2024-04-23T08:26:18","modified_gmt":"2024-04-23T01:26:18","slug":"sampah-organik-definisi-jenis-manfaat-dan-cara-mengolahnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/sampah-organik-definisi-jenis-manfaat-dan-cara-mengolahnya.html","title":{"rendered":"Sampah Organik: Definisi, Jenis, Manfaat, dan Cara Mengolahnya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/sampah-organik-definisi-jenis-manfaat-dan-cara-mengolahnya.html\/#Definisi_Sampah_Organik\" >Definisi Sampah Organik<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/sampah-organik-definisi-jenis-manfaat-dan-cara-mengolahnya.html\/#Jenis-jenis_Sampah_Organik\" >Jenis-jenis Sampah Organik<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/sampah-organik-definisi-jenis-manfaat-dan-cara-mengolahnya.html\/#Manfaat_Sampah_Organik\" >Manfaat Sampah Organik<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/sampah-organik-definisi-jenis-manfaat-dan-cara-mengolahnya.html\/#Cara_Mengolah_Sampah_Organik\" >Cara Mengolah Sampah Organik<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/sampah-organik-definisi-jenis-manfaat-dan-cara-mengolahnya.html\/#Dampak_Pengelolaan_Sampah_Organik_yang_Tepat\" >Dampak Pengelolaan Sampah Organik yang Tepat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/sampah-organik-definisi-jenis-manfaat-dan-cara-mengolahnya.html\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Definisi_Sampah_Organik\"><\/span>Definisi Sampah Organik<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sampah organik adalah sisa-sisa makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan, yang mudah terurai secara alami. Sampah ini umumnya memiliki kandungan air yang tinggi dan menghasilkan bau tidak sedap saat membusuk.<\/p>\n<p>Contoh-contoh sampah organik antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Sisa makanan:\u00a0Nasi, sayur, lauk pauk, buah-buahan, dll.<\/li>\n<li>Sampah kebun:\u00a0Daun-daun kering, ranting pohon, rumput, dll.<\/li>\n<li>Kotoran hewan:\u00a0Kotoran sapi, kambing, ayam, dll.<\/li>\n<li>Kertas dan kardus:\u00a0Kertas bekas, kardus bekas, dll.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Sampah organik berbeda dengan sampah anorganik, yang umumnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak mudah terurai secara alami, seperti plastik, kaca, dan logam.<\/p>\n<p>Ciri-ciri sampah organik:<\/p>\n<ul>\n<li>Mudah terurai secara alami<\/li>\n<li>Memiliki kandungan air yang tinggi<\/li>\n<li>Menghasilkan bau tidak sedap saat membusuk<\/li>\n<li>Dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat, seperti pupuk kompos, biogas, dan pakan ternak.<\/li>\n<\/ul>\n<div class=\"markdown markdown-main-panel\">\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Jenis-jenis_Sampah_Organik\"><\/span>Jenis-jenis Sampah Organik<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sampah organik dapat dikategorikan menjadi dua jenis utama, yaitu:<\/p>\n<p><strong>1. Sampah Organik Basah<\/strong><\/p>\n<p>Sampah organik basah memiliki kandungan air yang tinggi dan mudah membusuk. Sampah ini umumnya menghasilkan bau tidak sedap dan perlu segera diolah agar tidak mencemari lingkungan. Contoh-contoh sampah organik basah antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Sisa makanan: Nasi, sayur, lauk pauk, buah-buahan, dll.<\/li>\n<li>Sampah kebun: Daun-daun kering, ranting pohon, rumput, dll.<\/li>\n<li>Kotoran hewan: Kotoran sapi, kambing, ayam, dll.<\/li>\n<li>Sisa teh dan kopi: Ampas teh, ampas kopi, dll.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>2. Sampah Organik Kering<\/strong><\/p>\n<p>Sampah organik kering memiliki kandungan air yang rendah dan tidak mudah membusuk. Sampah ini umumnya tidak menghasilkan bau tidak sedap dan dapat disimpan lebih lama. Contoh-contoh sampah organik kering antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Kertas dan kardus: Kertas bekas, kardus bekas, dll.<\/li>\n<li>Kayu: Ranting pohon, sisa potongan kayu, dll.<\/li>\n<li>Rambut dan bulu: Rambut manusia, bulu hewan, dll.<\/li>\n<li>Tulang hewan: Tulang ayam, sapi, kambing, dll.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Penting untuk diingat bahwa beberapa bahan yang terbuat dari bahan organik, seperti plastik biodegradabel, tidak termasuk dalam kategori sampah organik. Plastik biodegradabel memang terbuat dari bahan organik, tetapi proses biodegradasinya sangat lambat dan tidak dapat diolah dengan cara yang sama dengan sampah organik lainnya.<\/p>\n<p>Pengolahan sampah organik yang berbeda jenisnya perlu dilakukan dengan cara yang berbeda pula. Sampah organik basah umumnya diolah dengan cara pengomposan, sedangkan sampah organik kering dapat diolah dengan cara pirolisis atau incinerasi.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Manfaat_Sampah_Organik\"><\/span>Manfaat Sampah Organik<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sampah organik memiliki banyak manfaat yang dapat diolah menjadi berbagai produk yang bermanfaat. Berikut adalah beberapa manfaat utama sampah organik:<\/p>\n<p><strong>1. Pupuk Kompos<\/strong><\/p>\n<p>Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk kompos yang kaya akan unsur hara dan bermanfaat untuk menyuburkan tanaman. Pupuk kompos dapat meningkatkan kualitas tanah, membantu pertumbuhan tanaman, dan mengurangi penggunaan pupuk kimia yang berbahaya bagi lingkungan.<\/p>\n<p><strong>2. Biogas<\/strong><\/p>\n<p>Sampah organik dapat diolah menjadi biogas melalui proses fermentasi. Biogas menghasilkan gas metana yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk memasak, penerangan, dan pembangkit listrik. Biogas merupakan energi terbarukan yang ramah lingkungan dan dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.<\/p>\n<p><strong>3. Pakan Ternak<\/strong><\/p>\n<p>Sampah organik tertentu, seperti kotoran hewan dan sisa makanan, dapat diolah menjadi pakan ternak yang kaya protein. Pakan ternak yang terbuat dari sampah organik dapat membantu meningkatkan kualitas ternak dan mengurangi biaya produksi peternakan.<\/p>\n<p><strong>4. Media Tanam<\/strong><\/p>\n<p>Sampah organik dapat diolah menjadi media tanam yang subur dan ramah lingkungan. Media tanam yang terbuat dari sampah organik dapat membantu pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil panen.<\/p>\n<p><strong>5. Kerajinan Tangan<\/strong><\/p>\n<p>Sampah organik tertentu, seperti daun-daun kering dan ranting pohon, dapat diolah menjadi berbagai kerajinan tangan yang unik dan kreatif. Kerajinan tangan dari sampah organik dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat dan membantu mengurangi pencemaran lingkungan.<\/p>\n<p><strong>6. Pengendalian Banjir<\/strong><\/p>\n<p>Sampah organik, seperti daun-daun kering dan ranting pohon, dapat digunakan untuk membuat biopori. Biopori adalah lubang resapan air yang dapat membantu meningkatkan daya resapan air tanah dan mencegah terjadinya banjir.<\/p>\n<p><strong>7. Pengurangan Pencemaran Lingkungan<\/strong><\/p>\n<p>Pengolahan sampah organik dengan tepat dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Sampah organik yang tidak diolah dengan benar dapat mencemari tanah, air, dan udara.<\/p>\n<p><strong>8. Peningkatan Kualitas Hidup<\/strong><\/p>\n<p>Pengolahan sampah organik dengan tepat dapat membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Masyarakat yang tinggal di lingkungan yang bersih dan sehat akan lebih sehat dan produktif.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cara_Mengolah_Sampah_Organik\"><\/span>Cara Mengolah Sampah Organik<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sampah organik dapat diolah dengan berbagai cara, tergantung pada jenis dan ketersediaan sumber daya yang ada. Berikut adalah beberapa cara umum untuk mengolah sampah organik:<\/p>\n<p><strong>1. Pengomposan<\/strong><\/p>\n<p>Pengomposan adalah cara paling umum dan mudah untuk mengolah sampah organik. Pengomposan merupakan proses penguraian bahan organik oleh mikroorganisme secara alami.<\/p>\n<p><strong>Langkah-langkah pengomposan:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Siapkan tempat kompos yang teduh dan lembab.<\/li>\n<li>Potong kecil-kecil sampah organik untuk mempercepat proses penguraian.<\/li>\n<li>Campurkan sampah organik dengan bahan organik lainnya, seperti daun kering, serbuk kayu, atau kotoran ternak.<\/li>\n<li>Siram kompos secara berkala agar tetap lembab.<\/li>\n<li>Aduk kompos sesekali untuk membantu proses penguraian.<\/li>\n<li>Kompos akan siap digunakan dalam beberapa minggu atau bulan, tergantung pada jenis sampah organik dan kondisi lingkungan.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>2. Digester Biogas<\/strong><\/p>\n<p>Digester biogas adalah alat yang digunakan untuk mengolah sampah organik menjadi biogas. Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk memasak, penerangan, dan pembangkit listrik.<\/p>\n<p><strong>Langkah-langkah penggunaan digester biogas:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Masukkan sampah organik ke dalam digester biogas.<\/li>\n<li>Tutup digester biogas rapat-rapat.<\/li>\n<li>Biarkan sampah organik terurai secara alami oleh mikroorganisme.<\/li>\n<li>Gas metana akan dihasilkan dari proses penguraian sampah organik.<\/li>\n<li>Gas metana dapat dialirkan ke kompor gas, lampu gas, atau generator listrik.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>3. Pakan Ternak<\/strong><\/p>\n<p>Sampah organik tertentu, seperti kotoran hewan dan sisa makanan, dapat diolah menjadi pakan ternak yang kaya protein.<\/p>\n<p><strong>Langkah-langkah pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Keringkan sampah organik di bawah sinar matahari atau dengan menggunakan oven.<\/li>\n<li>Giling sampah organik menjadi tepung.<\/li>\n<li>Campurkan tepung sampah organik dengan bahan pakan lainnya, seperti dedak padi, jagung, atau bungkil kedelai.<\/li>\n<li>Pakan ternak siap digunakan.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>4. Media Tanam<\/strong><\/p>\n<p>Sampah organik dapat diolah menjadi media tanam yang subur dan ramah lingkungan.<\/p>\n<p><strong>Langkah-langkah pengolahan sampah organik menjadi media tanam:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Campurkan sampah organik dengan tanah, sekam bakar, dan cocopeat.<\/li>\n<li>Aduk campuran hingga merata.<\/li>\n<li>Diamkan campuran selama beberapa minggu agar sampah organik terurai.<\/li>\n<li>Media tanam siap digunakan.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>5. Kerajinan Tangan<\/strong><\/p>\n<p>Sampah organik tertentu, seperti daun-daun kering dan ranting pohon, dapat diolah menjadi berbagai kerajinan tangan yang unik dan kreatif.<\/p>\n<p><strong>Langkah-langkah pengolahan sampah organik menjadi kerajinan tangan:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Bersihkan sampah organik dari kotoran dan debu.<\/li>\n<li>Keringkan sampah organik di bawah sinar matahari atau dengan menggunakan oven.<\/li>\n<li>Bentuk sampah organik sesuai dengan kreasi yang diinginkan.<\/li>\n<li>Berikan warna atau dekorasi pada kerajinan tangan.<\/li>\n<li>Kerajinan tangan siap digunakan atau dijual.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>6. Pengendalian Banjir<\/strong><\/p>\n<p>Sampah organik, seperti daun-daun kering dan ranting pohon, dapat digunakan untuk membuat biopori. Biopori adalah lubang resapan air yang dapat membantu meningkatkan daya resapan air tanah dan mencegah terjadinya banjir.<\/p>\n<p><strong>Langkah-langkah pembuatan biopori:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Buat lubang di tanah dengan diameter 30 cm dan kedalaman 100 cm.<\/li>\n<li>Isi lubang dengan sampah organik, seperti daun-daun kering dan ranting pohon.<\/li>\n<li>Tutup lubang dengan tanah.<\/li>\n<li>Biopori siap digunakan.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Tips:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Pilihlah cara pengolahan sampah organik yang sesuai dengan jenis sampah organik, ketersediaan sumber daya, dan kebutuhan Anda.<\/li>\n<li>Jika Anda tidak memiliki cukup waktu atau sumber daya untuk mengolah sampah organik sendiri, Anda dapat bekerja sama dengan tetangga atau komunitas untuk membangun sistem pengolahan sampah organik bersama.<\/li>\n<li>Anda juga dapat menggunakan jasa pengolahan sampah organik yang profesional.<\/li>\n<\/ul>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dampak_Pengelolaan_Sampah_Organik_yang_Tepat\"><\/span>Dampak Pengelolaan Sampah Organik yang Tepat<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Pengelolaan sampah organik yang tepat dapat memberikan berbagai dampak positif bagi lingkungan, kesehatan, dan ekonomi. Berikut adalah beberapa dampak utama:<\/p>\n<p><strong>Dampak Positif bagi Lingkungan:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li><strong>Mengurangi volume sampah:<\/strong>\u00a0Pengolahan sampah organik dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Hal ini dapat membantu mengurangi pencemaran tanah dan air, serta menghemat lahan TPA.<\/li>\n<li><strong>Meningkatkan kesuburan tanah:<\/strong>\u00a0Pupuk kompos yang dihasilkan dari sampah organik dapat meningkatkan kesuburan tanah dan membantu pertumbuhan tanaman. Hal ini dapat membantu meningkatkan hasil panen dan mengurangi penggunaan pupuk kimia yang berbahaya bagi lingkungan.<\/li>\n<li><strong>Menghasilkan energi terbarukan:<\/strong>\u00a0Biogas yang dihasilkan dari sampah organik dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk memasak, penerangan, dan pembangkit listrik. Biogas merupakan energi terbarukan yang ramah lingkungan dan dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.<\/li>\n<li><strong>Menjaga kelestarian air:<\/strong>\u00a0Pengolahan sampah organik dengan tepat dapat membantu menjaga kelestarian air tanah dan air permukaan. Sampah organik yang tidak diolah dengan benar dapat mencemari air tanah dan air permukaan, sehingga membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.<\/li>\n<li><strong>Menjaga kelestarian udara:<\/strong>\u00a0Pengolahan sampah organik dengan tepat dapat membantu menjaga kelestarian udara. Sampah organik yang tidak diolah dengan benar dapat menghasilkan gas metana yang merupakan gas rumah kaca. Gas metana dapat berkontribusi terhadap perubahan iklim.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Dampak Positif bagi Kesehatan:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li><strong>Meningkatkan kesehatan masyarakat:<\/strong>\u00a0Pengolahan sampah organik dengan tepat dapat membantu meningkatkan kesehatan masyarakat. Lingkungan yang bersih dan sehat dapat membantu mengurangi penyakit yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan.<\/li>\n<li><strong>Meningkatkan kualitas hidup:<\/strong>\u00a0Pengolahan sampah organik dengan tepat dapat membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Masyarakat yang tinggal di lingkungan yang bersih dan sehat akan lebih sehat dan produktif.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Dampak Positif bagi Ekonomi:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li><strong>Menciptakan lapangan kerja:<\/strong>\u00a0Pengolahan sampah organik dapat menciptakan lapangan kerja di sektor pengolahan sampah, pembuatan pupuk kompos, biogas, dan pakan ternak.<\/li>\n<li><strong>Meningkatkan pendapatan masyarakat:<\/strong>\u00a0Masyarakat yang terlibat dalam pengolahan sampah organik dapat meningkatkan pendapatan mereka dengan menjual pupuk kompos, biogas, pakan ternak, dan kerajinan tangan yang terbuat dari sampah organik.<\/li>\n<li><strong>Meningkatkan ketahanan pangan:<\/strong>\u00a0Pengolahan sampah organik dengan tepat dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan. Pupuk kompos yang dihasilkan dari sampah organik dapat membantu meningkatkan hasil panen dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sampah organik merupakan sumber daya yang berharga dan dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah organik dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Definisi Sampah Organik Sampah organik adalah sisa-sisa makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan, yang mudah terurai secara alami. Sampah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45262,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2759],"tags":[],"class_list":["post-38397","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-saintek"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38397","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38397"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38397\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45262"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38397"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38397"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38397"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}