{"id":38468,"date":"2024-04-24T10:58:27","date_gmt":"2024-04-24T03:58:27","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=38468"},"modified":"2024-04-24T10:58:27","modified_gmt":"2024-04-24T03:58:27","slug":"sejarah-sumpah-pemuda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/sejarah-sumpah-pemuda.html","title":{"rendered":"Sejarah Sumpah Pemuda"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_82_2 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/sejarah-sumpah-pemuda.html\/#RAPAT_PERTAMA_GEDUNG_KATHOLIEKE_JONGENLINGEN_BOND\" >RAPAT PERTAMA, GEDUNG KATHOLIEKE JONGENLINGEN BOND<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/sejarah-sumpah-pemuda.html\/#RAPAT_KEDUA_GEDUNG_OOST-JAVA_BIOSCOOP\" >RAPAT KEDUA, GEDUNG OOST-JAVA BIOSCOOP<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/sejarah-sumpah-pemuda.html\/#RAPAT_KETIGA_GEDUNG_INDONESISCHE_CLUBGEBOUW\" >RAPAT KETIGA, GEDUNG INDONESISCHE CLUBGEBOUW<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Sumpah Pemuda merupakan ikrar kebangsaan yang dirumuskan melalui sebuah putusan Kongres Pemuda Kedua di Jakarta pada 27-28 Oktober 1928. Ikrar ini adalah pernyataan kebangsaan pemuda pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang daerah, suku, dan agama, menyatukan keyakinan mereka bahwa tumpah darah, bangsa, dan bahasa persatuan: ialah Indonesia. Keyakinan itu lalu disebarluaskan untuk dijadikan asas bagi semua perkumpulan kebangsaan Indonesia setelah peristiwa Kongres Pemuda Kedua.<\/p>\n<p>Kongres Pemuda Kedua digagas oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggotakan pelajar dari seluruh Indonesia. Kongres ini bertujuan untuk memperkuat rasa persatuan dan kebangsaan Indonesia yang telah tumbuh di dalam benak dan sanubari pemuda-pemudi. Sebelum kongres digelar, para pemuda mengadakan pertemuan terlebih dahulu pada 3 Mei 1928 dan 12 Agustus 1928. Mereka membahas tentang pembentukan panitia, susunan acara kongres, waktu, tempat, dan biaya.<\/p>\n<p>Kemudian pertemuan itu menyepakati bahwa Kongres Pemuda Kedua akan diselenggarakan pada 27-28 Oktober 1928 di tiga lokasi berbeda, yaitu gedung<strong>\u00a0Katholieke Jongenlingen Bond<\/strong>,<strong>\u00a0Oost Java Bioscoop<\/strong>, dan\u00a0<strong>Indonesische Clubgebouw<\/strong>\u00a0(Rumah Indekos, Kramat No. 106). Keseluruhan biaya akan ditanggung oleh organisasi-organisasi yang menghadiri kongres serta sumbangan sukarela. Selain itu, pertemuan juga menyepakati pembentukan kepanitiaan kongres dengan susunan sebagai berikut:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Ketua:<\/strong>\u00a0Sugondo Djojopuspito (PPPI)<\/li>\n<li><strong>Wakil Ketu<\/strong>a: R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)<\/li>\n<li><strong>Sekretaris:<\/strong>\u00a0Muhammad Yamin (Jong Sumatranen Bond)<\/li>\n<li>Bendahara: Amir Sjarifudin (Jong Bataks Bond)<\/li>\n<li><strong>Pembantu I:<\/strong>\u00a0Johan Mahmud Tjaja (Jong Islamieten Bond)<\/li>\n<li><strong>Pembantu II:<\/strong>\u00a0R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)<\/li>\n<li><strong>Pembantu III:<\/strong>\u00a0R.C.L. Sendoek (Jong Celebes)<\/li>\n<li><strong>Pembantu IV:<\/strong>\u00a0Johannes Leimena (Jong Ambon)<\/li>\n<li><strong>Pembantu V:<\/strong>\u00a0Mohammad Rochjani Su\u2019ud (Pemoeda Kaoem Betawi)<\/li>\n<\/ul>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"RAPAT_PERTAMA_GEDUNG_KATHOLIEKE_JONGENLINGEN_BOND\"><\/span><strong>RAPAT PERTAMA, GEDUNG KATHOLIEKE JONGENLINGEN BOND<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p><em>\u201cPerceraiberaian itu wajiblah diperangi, agar kita bisa bersatu\u201d<\/em>\u00a0(Sambutan Sugondo Djojopuspto dalam pembukaan kongres)<\/p>\n<p>Rapat pertama, malam hari Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung<strong>\u00a0<\/strong><em><strong>Katholieke Jongenlingen Bond<\/strong><\/em><strong>\u00a0(KJB)<\/strong>, Ketua Kongres, Sugondo Djojopuspito, memberi sambutan. Ia berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Mohammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"RAPAT_KEDUA_GEDUNG_OOST-JAVA_BIOSCOOP\"><\/span><strong>RAPAT KEDUA, GEDUNG OOST-JAVA BIOSCOOP<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p><em>\u201cDi Indonesia ini, mesti lebih banyak perubahan-perubahannya dalam segala apapun juga. Kita harus membuang jauh-jauh itu tabiat mempermanja anak-anak kita\u201d\u00a0<\/em>(Poernomowoelan)<\/p>\n<p>Rapat kedua, pagi hari, Minggu, 28 Oktober 1928, di\u00a0<em><strong>Gedung Oost-Java Bioscoop<\/strong><\/em>, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"RAPAT_KETIGA_GEDUNG_INDONESISCHE_CLUBGEBOUW\"><\/span><strong>RAPAT KETIGA, GEDUNG INDONESISCHE CLUBGEBOUW<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>\u201cPramuka tanpa semangat kebangsaan bukanlah Pramuka\u2026\u201d (Theo Pangemanan)<\/p>\n<p>Rapat ketiga, sore hari, Minggu, 28 Oktober 1928, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Kemudian Ramelan mengemukakan tentang gerakan kepanduan yang tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan. Theo Pengamanan menyampaikan bahwa pandu sejati adalah pandu berdasarkan semangat kebangsaan dan rasa cinta tanah air Indonesia.<\/p>\n<p>Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu \u201cIndonesia Raya\u201d oleh Wage Rudolf Supratman melalui lantunan biola. Lagu tersebut disambut dengan sangat antusias oleh peserta kongres. Kemudian kongres ditutup dengan pembacaan sebuah keputusan oleh Sugondo Djojopuspito. Keputusan ini dirumuskan oleh Mohammad Yamin.<\/p>\n<p class=\"has-text-align-center has-medium-font-size\"><strong>PUTUSAN KONGRES<br \/>\nPEMUDA-PEMUDA INDONESIA<\/strong><\/p>\n<p>Kerapatan pemuda-pemuda Indonesia diadakan oleh perkumpulan-perkumpulan pemuda Indonesia yang berdasarkan kebangsaan dengan namanya Jong Java, Jong Soematra (Pemoeda Soematra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten, Jong Bataksbond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar2 Indonesia.<\/p>\n<p>Membuka rapat pada tanggal 27 dan 28 Oktober tahun 1928 di negeri Djakarta:<\/p>\n<p>Sesudahnya mendengar pidato-pidato pembicaraan yang diadakan didalam kerapatan tadi;<\/p>\n<p>Sesudahnya menimbang segala isi-isi pidato-pidato dan pembicaraan ini.<\/p>\n<p>Kerapatan lalu mengambil keputusan:<\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong><em>PERTAMA.<\/em><\/strong><\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>KAMI PUTERA DAN PUTRI INDONESIA,<br \/>\nMENGAKU BERTUMPAH DARAH YANG SATU,<br \/>\nTANAH INDONESIA.<\/em><\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong><em>KED<\/em><\/strong><em><strong>UA<\/strong>.<\/em><\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA,<br \/>\nMENGAKU BERBANGSA YANG SATU,<br \/>\nBANGSA INDONESIA.<\/em><\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong><em>KETIGA<\/em><\/strong><em>.<\/em><\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA,<br \/>\nMENJUNJUNG BAHASA PERSATUAN,<br \/>\nBAHASA INDONESIA.<\/em><\/p>\n<p>Setelah mendengar putusan ini, kerapatan mengeluarkan keyakinan azas ini wajib dipakai oleh segala perkumpulan kebangsaan Indonesia.<\/p>\n<p>Mengeluarkan keyakinan persatuan Indonesia diperkuat dengan memperhatikan dasar persatuannya:<\/p>\n<p>KEMAUAN<br \/>\nSEJARAH<br \/>\nBAHASA<br \/>\nHUKUM ADAT<br \/>\nPENDIDIKAN DAN KEPANDUAN<\/p>\n<p>dan mengeluarkan pengharapan, supaya putusan ini disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpoelan kita.<\/p>\n<p class=\"has-text-align-center\">Istilah \u2018Sumpah Pemuda\u2019 melekat pada keputusan kongres ini. Makna yang terkandung adalah agar pemuda-pemudi Indonesia senantiasa mencintai tanah air Indonesia, menjaga dan merawat persatuan kita sebagai sebuah bangsa, serta menjunjung penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Sumber: https:\/\/museumsumpahpemuda.kemdikbud.go.id\/sejarah-sumpah-pemuda\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumpah Pemuda merupakan ikrar kebangsaan yang dirumuskan melalui sebuah putusan Kongres Pemuda Kedua di Jakarta pada 27-28 Oktober 1928. Ikrar ini adalah pernyataan kebangsaan pemuda&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4003],"tags":[],"class_list":["post-38468","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sejarah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38468","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38468"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38468\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38468"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38468"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38468"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}