{"id":40171,"date":"2024-08-05T14:26:13","date_gmt":"2024-08-05T07:26:13","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=40171"},"modified":"2024-08-05T14:26:13","modified_gmt":"2024-08-05T07:26:13","slug":"persilangan-dihibrid-konsep-contoh-dan-perbandingan-fenotipe","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/persilangan-dihibrid-konsep-contoh-dan-perbandingan-fenotipe.html","title":{"rendered":"Persilangan Dihibrid: Konsep, Contoh, dan Perbandingan Fenotipe"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_82_2 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/persilangan-dihibrid-konsep-contoh-dan-perbandingan-fenotipe.html\/#Pengertian_Persilangan_Dihibrid\" >Pengertian Persilangan Dihibrid<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/persilangan-dihibrid-konsep-contoh-dan-perbandingan-fenotipe.html\/#Contoh_Persilangan_Dihibrid\" >Contoh Persilangan Dihibrid<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/persilangan-dihibrid-konsep-contoh-dan-perbandingan-fenotipe.html\/#Perbandingan_Fenotipe_Persilangan_Dihibrid\" >Perbandingan Fenotipe Persilangan Dihibrid<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/persilangan-dihibrid-konsep-contoh-dan-perbandingan-fenotipe.html\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<div class=\"content user-select-text\" tabindex=\"0\" aria-description=\"\" aria-label=\"Dikirim oleh Copilot: Halo, terima kasih telah meminta bantuan saya untuk membuat artikel profesional tentang persilangan dihibrid. Berikut ini adalah artikel yang saya buat berdasarkan konteks yang Anda berikan. Semoga artikel ini sesuai dengan harapan Anda. \ud83d\ude0a\n\n# Persilangan Dihibrid: Konsep, Contoh, dan Perbandingan Fenotipe\n\nPersilangan dihibrid adalah salah satu topik yang menarik dalam bidang genetika. Persilangan ini berkaitan dengan hukum Mendel, yaitu hukum yang mengatur pola pewarisan sifat dari induk ke keturunan. Apa itu persilangan dihibrid? Bagaimana contoh dan perbandingan fenotipe yang dihasilkan dari persilangan ini? Artikel ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan lengkap dan rinci. Simak pembahasannya berikut ini!\n\n## Pengertian Persilangan Dihibrid\n\n**Persilangan dihibrid adalah persilangan antara dua individu sejenis yang melibatkan dua sifat beda**[^1^]. Maksudnya adalah pada persilangan ini, kita hanya memperhatikan dua sifat saja, seperti warna bunga dan bentuk buah, atau warna biji dan bentuk biji. Persilangan dihibrid berbeda dengan persilangan monohibrid, yang hanya melibatkan satu sifat beda[^2^].\n\nPersilangan dihibrid mengikuti hukum II Mendel, yaitu hukum asortasi bebas. Hukum ini menyatakan bahwa **setiap alel dari gen yang berbeda akan bergabung atau berasortasi secara acak pada saat pembentukan gamet**[^3^]. Alel adalah variasi atau bentuk alternatif dari suatu gen yang terletak di lokus yang sama pada kromosom homolog[^2^].\n\n## Contoh Persilangan Dihibrid\n\nSalah satu contoh persilangan dihibrid yang terkenal adalah percobaan yang dilakukan oleh Mendel dengan menggunakan tanaman kacang polong (Pisum sativum). Mendel memilih dua sifat yang berbeda, yaitu warna biji (kuning atau hijau) dan bentuk biji (bulat atau keriput). Mendel menggunakan tanaman kacang polong galur murni, yaitu tanaman yang memiliki sifat yang sama pada semua keturunannya[^4^].\n\nMendel menetapkan simbol huruf untuk mewakili gen-gen yang terlibat dalam persilangan. Gen warna biji diberi simbol K, dengan alel K untuk warna kuning (dominan) dan alel k untuk warna hijau (resesif). Gen bentuk biji diberi simbol B, dengan alel B untuk bentuk bulat (dominan) dan alel b untuk bentuk keriput (resesif)[^4^].\n\nMendel kemudian melakukan persilangan antara tanaman kacang polong berbiji bulat kuning (BBKK) dengan tanaman kacang polong berbiji keriput hijau (bbkk). Dari persilangan ini, ia mendapatkan keturunan generasi pertama (F1) yang semuanya berbiji bulat kuning (BbKk). Ini menunjukkan bahwa sifat bulat dan kuning adalah sifat dominan, sedangkan sifat keriput dan hijau adalah sifat resesif[^4^].\n\nMendel tidak berhenti sampai di sini. Ia melanjutkan percobaannya dengan melakukan persilangan antara tanaman kacang polong F1 (BbKk) dengan tanaman kacang polong F1 lainnya (BbKk). Dari persilangan ini, ia mendapatkan keturunan generasi kedua (F2) yang memiliki empat kombinasi fenotipe, yaitu berbiji bulat kuning, berbiji bulat hijau, berbiji keriput kuning, dan berbiji keriput hijau. Perbandingan fenotipe yang dihasilkan adalah 9 : 3 : 3 : 1[^4^].\n\n## Perbandingan Fenotipe Persilangan Dihibrid\n\nBagaimana Mendel bisa mendapatkan perbandingan fenotipe 9 : 3 : 3 : 1 dari persilangan dihibrid? Jawabannya adalah dengan menggunakan tabel persilangan, yang juga dikenal sebagai tabel Punnett. Tabel ini digunakan untuk menampilkan kemungkinan gamet dan keturunan yang dihasilkan dari persilangan antara dua individu[^5^].\n\nBerikut ini adalah tabel persilangan yang digunakan oleh Mendel untuk mendapatkan perbandingan fenotipe 9 : 3 : 3 : 1 dari persilangan dihibrid antara tanaman kacang polong F1 (BbKk) dengan tanaman kacang polong F1 (BbKk):\n\n| Gamet | BK | Bk | bK | bk |\n| --- | --- | --- | --- | --- |\n| BK | BBKK | BBKk | BbKK | BbKk |\n| Bk | BBKk | BBkk | BbKk | Bbkk |\n| bK | BbKK | BbKk | bbKK | bbKk |\n| bk | BbKk | Bbkk | bbKk | bbkk |\n\nDari tabel ini, kita bisa menghitung jumlah fenotipe yang muncul pada generasi F2, yaitu:\n\n- Berbiji bulat kuning: 9 (BBKK, BBKk, BbKK, BbKk, BBKk, BBkk, BbKk, Bbkk, BbKk)\n- Berbiji bulat hijau: 3 (Bbkk, Bbkk, Bbkk)\n- Berbiji keriput kuning: 3 (bbKK, bbKk, bbKk)\n- Berbiji keriput hijau: 1 (bbkk)\n\nPerbandingan fenotipe yang dihasilkan adalah 9 : 3 : 3 : 1, sesuai dengan hukum asortasi bebas yang menyatakan bahwa alel-alel dari gen yang berbeda akan bergabung secara acak pada saat pembentukan gamet[^3^].\n\n## Kesimpulan\n\nPersilangan dihibrid adalah persilangan antara dua individu sejenis yang melibatkan dua sifat beda. Persilangan ini mengikuti hukum II Mendel, yaitu hukum asortasi bebas. Contoh persilangan dihibrid yang terkenal adalah percobaan yang dilakukan oleh Mendel dengan menggunakan tanaman kacang polong. Dari percobaan ini, ia mendapatkan perbandingan fenotipe 9 : 3 : 3 : 1 dari persilangan dihibrid antara tanaman kacang polong F1 dengan tanaman kacang polong F1.\n\n## Judul dan Kata Kunci Artikel\n\nJudul artikel: Persilangan Dihibrid: Konsep, Contoh, dan Perbandingan Fenotipe\n\nKata kunci artikel: persilangan dihibrid, hukum Mendel, hukum asortasi bebas, tanaman kacang polong, perbandingan fenotipe\n\n## Blog Tags\n\nBlog tags: genetika, biologi, persilangan, Mendel, kacang polong\"><\/p>\n<div class=\"ac-container ac-adaptiveCard has-image\">\n<div class=\"ac-textBlock\">\n<p>Persilangan dihibrid adalah salah satu topik yang menarik dalam bidang genetika. Persilangan ini berkaitan dengan hukum Mendel, yaitu hukum yang mengatur pola pewarisan sifat dari induk ke keturunan. Apa itu persilangan dihibrid? Bagaimana contoh dan perbandingan fenotipe yang dihasilkan dari persilangan ini? Artikel ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan lengkap dan rinci. Simak pembahasannya berikut ini!<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Persilangan_Dihibrid\"><\/span>Pengertian Persilangan Dihibrid<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><strong>Persilangan dihibrid adalah persilangan antara dua individu sejenis yang melibatkan dua sifat beda<\/strong><sup class=\"citation-sup\">1<\/sup>. Maksudnya adalah pada persilangan ini, kita hanya memperhatikan dua sifat saja, seperti warna bunga dan bentuk buah, atau warna biji dan bentuk biji. Persilangan dihibrid berbeda dengan persilangan monohibrid, yang hanya melibatkan satu sifat beda<sup class=\"citation-sup\">2<\/sup>.<\/p>\n<p>Persilangan dihibrid mengikuti hukum II Mendel, yaitu hukum asortasi bebas. Hukum ini menyatakan bahwa <strong>setiap alel dari gen yang berbeda akan bergabung atau berasortasi secara acak pada saat pembentukan gamet<\/strong><sup class=\"citation-sup\">3<\/sup>. Alel adalah variasi atau bentuk alternatif dari suatu gen yang terletak di lokus yang sama pada kromosom homolog<sup class=\"citation-sup\">2<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Contoh_Persilangan_Dihibrid\"><\/span>Contoh Persilangan Dihibrid<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Salah satu contoh persilangan dihibrid yang terkenal adalah percobaan yang dilakukan oleh Mendel dengan menggunakan tanaman kacang polong (Pisum sativum). Mendel memilih dua sifat yang berbeda, yaitu warna biji (kuning atau hijau) dan bentuk biji (bulat atau keriput). Mendel menggunakan tanaman kacang polong galur murni, yaitu tanaman yang memiliki sifat yang sama pada semua keturunannya<sup class=\"citation-sup\">4<\/sup>.<\/p>\n<p>Mendel menetapkan simbol huruf untuk mewakili gen-gen yang terlibat dalam persilangan. Gen warna biji diberi simbol K, dengan alel K untuk warna kuning (dominan) dan alel k untuk warna hijau (resesif). Gen bentuk biji diberi simbol B, dengan alel B untuk bentuk bulat (dominan) dan alel b untuk bentuk keriput (resesif)<sup class=\"citation-sup\">4<\/sup>.<\/p>\n<p>Mendel kemudian melakukan persilangan antara tanaman kacang polong berbiji bulat kuning (BBKK) dengan tanaman kacang polong berbiji keriput hijau (bbkk). Dari persilangan ini, ia mendapatkan keturunan generasi pertama (F1) yang semuanya berbiji bulat kuning (BbKk). Ini menunjukkan bahwa sifat bulat dan kuning adalah sifat dominan, sedangkan sifat keriput dan hijau adalah sifat resesif<sup class=\"citation-sup\">4<\/sup>.<\/p>\n<p>Mendel tidak berhenti sampai di sini. Ia melanjutkan percobaannya dengan melakukan persilangan antara tanaman kacang polong F1 (BbKk) dengan tanaman kacang polong F1 lainnya (BbKk). Dari persilangan ini, ia mendapatkan keturunan generasi kedua (F2) yang memiliki empat kombinasi fenotipe, yaitu berbiji bulat kuning, berbiji bulat hijau, berbiji keriput kuning, dan berbiji keriput hijau. Perbandingan fenotipe yang dihasilkan adalah 9 : 3 : 3 : 1<sup class=\"citation-sup\">4<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perbandingan_Fenotipe_Persilangan_Dihibrid\"><\/span>Perbandingan Fenotipe Persilangan Dihibrid<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Bagaimana Mendel bisa mendapatkan perbandingan fenotipe 9 : 3 : 3 : 1 dari persilangan dihibrid? Jawabannya adalah dengan menggunakan tabel persilangan, yang juga dikenal sebagai tabel Punnett. Tabel ini digunakan untuk menampilkan kemungkinan gamet dan keturunan yang dihasilkan dari persilangan antara dua individu<sup class=\"citation-sup\">5<\/sup>.<\/p>\n<p>Berikut ini adalah tabel persilangan yang digunakan oleh Mendel untuk mendapatkan perbandingan fenotipe 9 : 3 : 3 : 1 dari persilangan dihibrid antara tanaman kacang polong F1 (BbKk) dengan tanaman kacang polong F1 (BbKk):<\/p>\n<table>\n<thead>\n<tr>\n<th>Gamet<\/th>\n<th>BK<\/th>\n<th>Bk<\/th>\n<th>bK<\/th>\n<th>bk<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td scope=\"row\">BK<\/td>\n<td>BBKK<\/td>\n<td>BBKk<\/td>\n<td>BbKK<\/td>\n<td>BbKk<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td scope=\"row\">Bk<\/td>\n<td>BBKk<\/td>\n<td>BBkk<\/td>\n<td>BbKk<\/td>\n<td>Bbkk<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td scope=\"row\">bK<\/td>\n<td>BbKK<\/td>\n<td>BbKk<\/td>\n<td>bbKK<\/td>\n<td>bbKk<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td scope=\"row\">bk<\/td>\n<td>BbKk<\/td>\n<td>Bbkk<\/td>\n<td>bbKk<\/td>\n<td>bbkk<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Dari tabel ini, kita bisa menghitung jumlah fenotipe yang muncul pada generasi F2, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li>Berbiji bulat kuning: 9 (BBKK, BBKk, BbKK, BbKk, BBKk, BBkk, BbKk, Bbkk, BbKk)<\/li>\n<li>Berbiji bulat hijau: 3 (Bbkk, Bbkk, Bbkk)<\/li>\n<li>Berbiji keriput kuning: 3 (bbKK, bbKk, bbKk)<\/li>\n<li>Berbiji keriput hijau: 1 (bbkk)<\/li>\n<\/ul>\n<p>Perbandingan fenotipe yang dihasilkan adalah 9 : 3 : 3 : 1, sesuai dengan hukum asortasi bebas yang menyatakan bahwa alel-alel dari gen yang berbeda akan bergabung secara acak pada saat pembentukan gamet<sup class=\"citation-sup\">3<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Persilangan dihibrid adalah persilangan antara dua individu sejenis yang melibatkan dua sifat beda. Persilangan ini mengikuti hukum II Mendel, yaitu hukum asortasi bebas. Contoh persilangan dihibrid yang terkenal adalah percobaan yang dilakukan oleh Mendel dengan menggunakan tanaman kacang polong. Dari percobaan ini, ia mendapatkan perbandingan fenotipe 9 : 3 : 3 : 1 dari persilangan dihibrid antara tanaman kacang polong F1 dengan tanaman kacang polong F1.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"ad-container\">Sumber:<br \/>\n(1) Persilangan Monohibrid dan Dihibrid pada Hukum Mendel &#8211; Ruangguru. https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/biologi-kelas-12-persilangan-monohibrid-dan-dihibrid-pada-hukum-mendel.<br \/>\n(2) Persilangan Dihibrid: Pengertian dan Contohnya &#8211; Haloedukasi. https:\/\/haloedukasi.com\/persilangan-dihibrid.<br \/>\n(3) Persilangan dihibrida &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Persilangan_dihibrida.<br \/>\n(4) Contoh Soal Persilangan Dihibrid Beserta Jawabannya. https:\/\/gooddoctor.id\/pendidikan\/contoh-soal-persilangan-dihibrid-beserta-jawabannya\/.<br \/>\n(5) Mengenal Persilangan Dihibrid pada Tumbuhan Menurut Hukum Mendel. https:\/\/kumparan.com\/ragam-info\/mengenal-persilangan-dihibrid-pada-tumbuhan-menurut-hukum-mendel-21J8QVIMe4j.<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Persilangan dihibrid adalah salah satu topik yang menarik dalam bidang genetika. Persilangan ini berkaitan dengan hukum Mendel, yaitu hukum yang mengatur pola pewarisan sifat dari&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2759],"tags":[],"class_list":["post-40171","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-saintek"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40171","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40171"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40171\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40171"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40171"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40171"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}