{"id":40173,"date":"2024-08-05T14:29:33","date_gmt":"2024-08-05T07:29:33","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=40173"},"modified":"2024-08-05T14:29:33","modified_gmt":"2024-08-05T07:29:33","slug":"pewarisan-sifat-pada-manusia-komponen-proses-dan-contoh-sifat-yang-diwariskan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pewarisan-sifat-pada-manusia-komponen-proses-dan-contoh-sifat-yang-diwariskan.html","title":{"rendered":"Pewarisan Sifat pada Manusia: Komponen, Proses, dan Contoh Sifat yang Diwariskan"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pewarisan-sifat-pada-manusia-komponen-proses-dan-contoh-sifat-yang-diwariskan.html\/#Proses_Pewarisan_Sifat_pada_Manusia\" >Proses Pewarisan Sifat pada Manusia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pewarisan-sifat-pada-manusia-komponen-proses-dan-contoh-sifat-yang-diwariskan.html\/#Contoh_Sifat_yang_Diwariskan_pada_Manusia\" >Contoh Sifat yang Diwariskan pada Manusia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pewarisan-sifat-pada-manusia-komponen-proses-dan-contoh-sifat-yang-diwariskan.html\/#Kelainan_Sifat_yang_Diturunkan_pada_Manusia\" >Kelainan Sifat yang Diturunkan pada Manusia<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<div class=\"content user-select-text\" tabindex=\"0\" aria-description=\"\" aria-label=\"Dikirim oleh Copilot: Berikut adalah artikel yang saya buat berdasarkan permintaan Anda. Artikel ini membahas tentang pewarisan sifat pada manusia, termasuk komponen, proses, dan contoh sifat yang diwariskan. Artikel ini juga menyertakan beberapa kelainan sifat yang dapat diturunkan dari orang tua ke anak. Semoga artikel ini bermanfaat dan menarik bagi Anda.\n\n# Pewarisan Sifat pada Manusia\n**Pewarisan sifat atau hereditas adalah penurunan sifat dari induk (parental) ke anak (filial).** Sifat yang dimaksud di sini dapat berupa sifat fisik, fisiologis, maupun psikologis. Sifat fisik adalah sifat yang dapat diamati secara langsung, seperti warna kulit, bentuk wajah, atau rambut. Sifat fisiologis adalah sifat yang berkaitan dengan fungsi tubuh, seperti golongan darah, alergi, atau hormonal. Sifat psikologis adalah sifat yang berhubungan dengan kejiwaan, seperti kepribadian, bakat, atau minat.\n\nPewarisan sifat pada manusia ditentukan oleh materi genetik yang terdapat dalam inti sel. Materi genetik ini tersusun atas kromosom dan gen. Kromosom adalah struktur berbentuk benang yang mengandung banyak gen. Gen adalah satuan pewarisan sifat yang mengkodekan informasi untuk membentuk suatu sifat tertentu. Setiap sifat pada manusia dikendalikan oleh satu atau lebih gen yang berpasangan. Pasangan gen ini disebut alel. Alel dapat bersifat dominan atau resesif. Alel dominan adalah alel yang dapat mengekspresikan sifatnya meskipun hanya ada satu salinan. Alel resesif adalah alel yang hanya dapat mengekspresikan sifatnya jika ada dua salinan yang sama.\n\n## Proses Pewarisan Sifat pada Manusia\nProses pewarisan sifat pada manusia terjadi melalui peleburan sel sperma (sel jantan) dan sel telur (sel betina) selama proses berkembang biak. Setiap sel sperma dan sel telur membawa gen dan kromosom mereka sendiri. Ketika sel sperma dan sel telur bergabung, zigot terbentuk, yang menggabungkan materi genetik dari kedua orang tua[^3^]. Zigot kemudian berkembang menjadi embrio, fetus, dan bayi yang lahir. Bayi yang lahir akan memiliki sifat-sifat yang merupakan kombinasi dari sifat-sifat orang tua.\n\nUntuk memahami proses pewarisan sifat pada manusia, kita dapat menggunakan diagram yang disebut sebagai kotak Punnett. Kotak Punnett adalah alat yang digunakan untuk memprediksi kemungkinan genotipe dan fenotipe keturunan dari dua induk yang diketahui genotipenya. Genotipe adalah susunan gen yang dimiliki oleh suatu individu. Fenotipe adalah sifat yang tampak pada individu sebagai hasil ekspresi gen. Contoh kotak Punnett untuk pewarisan sifat warna kulit pada manusia adalah sebagai berikut:\n\n| | A | a |\n| --- | --- | --- |\n| A | AA | Aa |\n| a | Aa | aa |\n\nPada contoh di atas, A adalah alel dominan untuk warna kulit gelap, sedangkan a adalah alel resesif untuk warna kulit terang. Jika ayah memiliki genotipe Aa (heterozigot) dan ibu memiliki genotipe aa (homozigot resesif), maka kemungkinan genotipe dan fenotipe anaknya adalah sebagai berikut:\n\n- 50% kemungkinan memiliki genotipe Aa dan fenotipe warna kulit gelap\n- 50% kemungkinan memiliki genotipe aa dan fenotipe warna kulit terang\n\n## Contoh Sifat yang Diwariskan pada Manusia\nAda banyak sifat yang diwariskan pada manusia, baik yang bersifat monohibrid (dikendalikan oleh satu pasang alel) maupun polihibrid (dikendalikan oleh lebih dari satu pasang alel). Beberapa contoh sifat yang diwariskan pada manusia adalah:\n\n- **Warna kulit.** Warna kulit manusia dipengaruhi oleh tiga pasang alel, yaitu A, B, dan C yang mengkodekan pembentukan pigmen melanin. Pigmen melanin berfungsi untuk melindungi kulit dari sinar ultraviolet dan memberikan warna gelap pada kulit. Semakin banyak pigmen melanin yang diproduksi, semakin gelap warna kulit. Variasi warna kulit manusia dapat dilihat dari kombinasi alel berikut:\n\n| Kombinasi alel | Warna kulit |\n| --- | --- |\n| AABBCC | Sangat gelap |\n| AaBbCc | Sawo matang |\n| aabbcc | Sangat terang |\n\n- **Bentuk rambut.** Bentuk rambut manusia dipengaruhi oleh satu pasang alel, yaitu C dan s. Alel C adalah alel dominan untuk rambut keriting, sedangkan alel s adalah alel resesif untuk rambut lurus. Jika ada campuran antara alel C dan s, maka rambut akan menjadi berombak. Variasi bentuk rambut manusia dapat dilihat dari kombinasi alel berikut:\n\n| Kombinasi alel | Bentuk rambut |\n| --- | --- |\n| CC | Keriting |\n| Cs | Berombak |\n| ss | Lurus |\n\n- **Cuping telinga.** Cuping telinga manusia dipengaruhi oleh satu pasang alel, yaitu G dan g. Alel G adalah alel dominan untuk cuping telinga terpisah, sedangkan alel g adalah alel resesif untuk cuping telinga melekat. Jika ada campuran antara alel G dan g, maka cuping telinga akan terpisah. Variasi cuping telinga manusia dapat dilihat dari kombinasi alel berikut:\n\n| Kombinasi alel | Cuping telinga |\n| --- | --- |\n| GG | Terpisah |\n| Gg | Terpisah |\n| gg | Melekat |\n\n## Kelainan Sifat yang Diturunkan pada Manusia\nSelain sifat normal, ada juga beberapa sifat yang bersifat abnormal atau kelainan yang dapat diturunkan dari orang tua ke anak. Kelainan sifat ini dapat disebabkan oleh mutasi gen, kromosom abnormal, atau faktor lingkungan. Beberapa contoh kelainan sifat yang diturunkan pada manusia adalah:\n\n- **Albino.** Albino adalah kelainan yang disebabkan oleh tidak adanya pigmen melanin pada kulit, rambut, dan mata. Albino diturunkan secara resesif oleh satu pasang alel, yaitu A dan a. Alel A adalah alel normal untuk pembentukan melanin, sedangkan alel a adalah alel abnormal yang menghambat pembentukan melanin. Jika seseorang memiliki genotipe aa, maka ia akan menjadi albino. Albino memiliki kulit dan rambut yang sangat putih, serta mata yang merah atau biru. Albino juga lebih rentan terkena kanker kulit dan gangguan penglihatan.\n\n- **Buta warna.** Buta warna adalah kelainan yang disebabkan oleh ketidakmampuan mata untuk membedakan warna tertentu. Buta warna diturunkan secara resesif oleh satu pasang alel yang terletak pada kromosom X, yaitu X^N^ dan X^n^. Alel X^N^ adalah alel normal untuk penglihatan warna, sedangkan alel X^n^ adalah alel abnormal yang menyebabkan buta warna. Jika seorang laki-laki memiliki genotipe X^n^Y, maka ia akan menjadi buta warna. Jika seorang perempuan memiliki genotipe X^n^X^n^, maka ia juga akan menjadi buta warna. Namun, jika seorang perempuan memiliki genotipe X^N^X^n^, maka ia akan menjadi pembawa sifat buta warna tanpa menunjukkan gejalanya. Buta warna dapat berupa buta warna merah-hijau, biru-kuning, atau total.\n\n- **Hemofilia.** Hemofilia adalah kelainan yang disebabkan oleh gangguan pembekuan darah. Hemofilia diturunkan secara resesif oleh satu pasang alel\"><\/p>\n<div class=\"ac-container ac-adaptiveCard has-image\">\n<div class=\"ac-textBlock\">\n<p><strong>Pewarisan sifat atau hereditas adalah penurunan sifat dari induk (parental) ke anak (filial).<\/strong> Sifat yang dimaksud di sini dapat berupa sifat fisik, fisiologis, maupun psikologis. Sifat fisik adalah sifat yang dapat diamati secara langsung, seperti warna kulit, bentuk wajah, atau rambut. Sifat fisiologis adalah sifat yang berkaitan dengan fungsi tubuh, seperti golongan darah, alergi, atau hormonal. Sifat psikologis adalah sifat yang berhubungan dengan kejiwaan, seperti kepribadian, bakat, atau minat.<\/p>\n<p>Pewarisan sifat pada manusia ditentukan oleh materi genetik yang terdapat dalam inti sel. Materi genetik ini tersusun atas kromosom dan gen. Kromosom adalah struktur berbentuk benang yang mengandung banyak gen. Gen adalah satuan pewarisan sifat yang mengkodekan informasi untuk membentuk suatu sifat tertentu. Setiap sifat pada manusia dikendalikan oleh satu atau lebih gen yang berpasangan. Pasangan gen ini disebut alel. Alel dapat bersifat dominan atau resesif. Alel dominan adalah alel yang dapat mengekspresikan sifatnya meskipun hanya ada satu salinan. Alel resesif adalah alel yang hanya dapat mengekspresikan sifatnya jika ada dua salinan yang sama.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Proses_Pewarisan_Sifat_pada_Manusia\"><\/span>Proses Pewarisan Sifat pada Manusia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Proses pewarisan sifat pada manusia terjadi melalui peleburan sel sperma (sel jantan) dan sel telur (sel betina) selama proses berkembang biak. Setiap sel sperma dan sel telur membawa gen dan kromosom mereka sendiri. Ketika sel sperma dan sel telur bergabung, zigot terbentuk, yang menggabungkan materi genetik dari kedua orang tua<sup class=\"citation-sup\">1<\/sup>. Zigot kemudian berkembang menjadi embrio, fetus, dan bayi yang lahir. Bayi yang lahir akan memiliki sifat-sifat yang merupakan kombinasi dari sifat-sifat orang tua.<\/p>\n<p>Untuk memahami proses pewarisan sifat pada manusia, kita dapat menggunakan diagram yang disebut sebagai kotak Punnett. Kotak Punnett adalah alat yang digunakan untuk memprediksi kemungkinan genotipe dan fenotipe keturunan dari dua induk yang diketahui genotipenya. Genotipe adalah susunan gen yang dimiliki oleh suatu individu. Fenotipe adalah sifat yang tampak pada individu sebagai hasil ekspresi gen. Contoh kotak Punnett untuk pewarisan sifat warna kulit pada manusia adalah sebagai berikut:<\/p>\n<table>\n<thead>\n<tr>\n<th><\/th>\n<th>A<\/th>\n<th>a<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td scope=\"row\">A<\/td>\n<td>AA<\/td>\n<td>Aa<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td scope=\"row\">a<\/td>\n<td>Aa<\/td>\n<td>aa<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Pada contoh di atas, A adalah alel dominan untuk warna kulit gelap, sedangkan a adalah alel resesif untuk warna kulit terang. Jika ayah memiliki genotipe Aa (heterozigot) dan ibu memiliki genotipe aa (homozigot resesif), maka kemungkinan genotipe dan fenotipe anaknya adalah sebagai berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>50% kemungkinan memiliki genotipe Aa dan fenotipe warna kulit gelap<\/li>\n<li>50% kemungkinan memiliki genotipe aa dan fenotipe warna kulit terang<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Contoh_Sifat_yang_Diwariskan_pada_Manusia\"><\/span>Contoh Sifat yang Diwariskan pada Manusia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Ada banyak sifat yang diwariskan pada manusia, baik yang bersifat monohibrid (dikendalikan oleh satu pasang alel) maupun polihibrid (dikendalikan oleh lebih dari satu pasang alel). Beberapa contoh sifat yang diwariskan pada manusia adalah:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Warna kulit.<\/strong> Warna kulit manusia dipengaruhi oleh tiga pasang alel, yaitu A, B, dan C yang mengkodekan pembentukan pigmen melanin. Pigmen melanin berfungsi untuk melindungi kulit dari sinar ultraviolet dan memberikan warna gelap pada kulit. Semakin banyak pigmen melanin yang diproduksi, semakin gelap warna kulit. Variasi warna kulit manusia dapat dilihat dari kombinasi alel berikut:<\/li>\n<\/ul>\n<table>\n<thead>\n<tr>\n<th>Kombinasi alel<\/th>\n<th>Warna kulit<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td scope=\"row\">AABBCC<\/td>\n<td>Sangat gelap<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td scope=\"row\">AaBbCc<\/td>\n<td>Sawo matang<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td scope=\"row\">aabbcc<\/td>\n<td>Sangat terang<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<ul>\n<li><strong>Bentuk rambut.<\/strong> Bentuk rambut manusia dipengaruhi oleh satu pasang alel, yaitu C dan s. Alel C adalah alel dominan untuk rambut keriting, sedangkan alel s adalah alel resesif untuk rambut lurus. Jika ada campuran antara alel C dan s, maka rambut akan menjadi berombak. Variasi bentuk rambut manusia dapat dilihat dari kombinasi alel berikut:<\/li>\n<\/ul>\n<table>\n<thead>\n<tr>\n<th>Kombinasi alel<\/th>\n<th>Bentuk rambut<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td scope=\"row\">CC<\/td>\n<td>Keriting<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td scope=\"row\">Cs<\/td>\n<td>Berombak<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td scope=\"row\">ss<\/td>\n<td>Lurus<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<ul>\n<li><strong>Cuping telinga.<\/strong> Cuping telinga manusia dipengaruhi oleh satu pasang alel, yaitu G dan g. Alel G adalah alel dominan untuk cuping telinga terpisah, sedangkan alel g adalah alel resesif untuk cuping telinga melekat. Jika ada campuran antara alel G dan g, maka cuping telinga akan terpisah. Variasi cuping telinga manusia dapat dilihat dari kombinasi alel berikut:<\/li>\n<\/ul>\n<table>\n<thead>\n<tr>\n<th>Kombinasi alel<\/th>\n<th>Cuping telinga<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td scope=\"row\">GG<\/td>\n<td>Terpisah<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td scope=\"row\">Gg<\/td>\n<td>Terpisah<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td scope=\"row\">gg<\/td>\n<td>Melekat<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kelainan_Sifat_yang_Diturunkan_pada_Manusia\"><\/span>Kelainan Sifat yang Diturunkan pada Manusia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Selain sifat normal, ada juga beberapa sifat yang bersifat abnormal atau kelainan yang dapat diturunkan dari orang tua ke anak. Kelainan sifat ini dapat disebabkan oleh mutasi gen, kromosom abnormal, atau faktor lingkungan. Beberapa contoh kelainan sifat yang diturunkan pada manusia adalah:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Albino.<\/strong> Albino adalah kelainan yang disebabkan oleh tidak adanya pigmen melanin pada kulit, rambut, dan mata. Albino diturunkan secara resesif oleh satu pasang alel, yaitu A dan a. Alel A adalah alel normal untuk pembentukan melanin, sedangkan alel a adalah alel abnormal yang menghambat pembentukan melanin. Jika seseorang memiliki genotipe aa, maka ia akan menjadi albino. Albino memiliki kulit dan rambut yang sangat putih, serta mata yang merah atau biru. Albino juga lebih rentan terkena kanker kulit dan gangguan penglihatan.<\/li>\n<li><strong>Buta warna.<\/strong> Buta warna adalah kelainan yang disebabkan oleh ketidakmampuan mata untuk membedakan warna tertentu. Buta warna diturunkan secara resesif oleh satu pasang alel yang terletak pada kromosom X, yaitu X<sup>N<\/sup> dan X<sup>n<\/sup>. Alel X<sup>N<\/sup> adalah alel normal untuk penglihatan warna, sedangkan alel X<sup>n<\/sup> adalah alel abnormal yang menyebabkan buta warna. Jika seorang laki-laki memiliki genotipe X<sup>n<\/sup>Y, maka ia akan menjadi buta warna. Jika seorang perempuan memiliki genotipe X<sup>n<\/sup>X<sup>n<\/sup>, maka ia juga akan menjadi buta warna. Namun, jika seorang perempuan memiliki genotipe X<sup>N<\/sup>X<sup>n<\/sup>, maka ia akan menjadi pembawa sifat buta warna tanpa menunjukkan gejalanya. Buta warna dapat berupa buta warna merah-hijau, biru-kuning, atau total.<\/li>\n<li><strong>Hemofilia.<\/strong>\u00a0Hemofilia adalah kelainan yang disebabkan oleh gangguan pembekuan darah. Hemofilia diturunkan secara resesif oleh satu pasang alel yang terletak pada kromosom X, yaitu X<sup>N<\/sup>\u00a0dan X<sup>n<\/sup>. Alel X<sup>N<\/sup>\u00a0adalah alel normal untuk pembekuan darah, sedangkan alel X<sup>n<\/sup>\u00a0adalah alel abnormal yang menyebabkan hemofilia. Jika seorang laki-laki memiliki genotipe X<sup>n<\/sup>Y, maka ia akan menjadi hemofilik. Jika seorang perempuan memiliki genotipe X<sup>n<\/sup>X<sup>n<\/sup>, maka ia juga akan menjadi hemofilik. Namun, jika seorang perempuan memiliki genotipe X<sup>N<\/sup>X<sup>n<\/sup>, maka ia akan menjadi pembawa sifat hemofilia tanpa menunjukkan gejalanya.\u00a0Hemofilia dapat berupa hemofilia tipe A (kekurangan faktor pembekuan VIII) atau hemofilia tipe B (kekurangan faktor pembekuan IX)<sup class=\"citation-sup\">1<\/sup><sup class=\"citation-sup\">2<\/sup><sup class=\"citation-sup\">3<\/sup><sup class=\"citation-sup\">4<\/sup>.\u00a0Gejala hemofilia antara lain adalah perdarahan yang sulit berhenti, memar, nyeri dan bengkak pada sendi, perdarahan di dalam otak, dan anemia<sup class=\"citation-sup\">1<\/sup><sup class=\"citation-sup\">2<\/sup><sup class=\"citation-sup\">3<\/sup><sup class=\"citation-sup\">4<\/sup>.\u00a0Pengobatan hemofilia meliputi pemberian faktor pembekuan darah yang hilang, transfusi darah, obat-obatan, dan fisioterapi<sup class=\"citation-sup\">1<\/sup><sup class=\"citation-sup\">2<\/sup><sup class=\"citation-sup\">3<\/sup><sup class=\"citation-sup\">4<\/sup>.<\/li>\n<li><strong>Sindrom Down.<\/strong>\u00a0Sindrom Down adalah kelainan yang disebabkan oleh adanya kromosom 21 ekstra pada sel tubuh. Sindrom Down dapat diturunkan dari orang tua atau terjadi secara acak saat pembelahan sel.\u00a0Sindrom Down dapat dideteksi sejak dalam kandungan melalui pemeriksaan USG, tes darah, atau biopsi plasenta<sup class=\"citation-sup\">5<\/sup>.\u00a0Gejala sindrom Down antara lain adalah wajah datar, mata sipit, hidung pesek, lidah menonjol, telinga rendah, tangan dan kaki pendek, dan jantung bocor<sup class=\"citation-sup\">5<\/sup>.\u00a0Sindrom Down juga dapat menyebabkan gangguan belajar, perkembangan, dan kesehatan lainnya<sup class=\"citation-sup\">5<\/sup>.\u00a0Pengobatan sindrom Down meliputi terapi, pendidikan khusus, dan pembedahan jika diperlukan<sup class=\"citation-sup\">5<\/sup>.<\/li>\n<li><strong>Siklema.<\/strong>\u00a0Siklema adalah kelainan yang disebabkan oleh adanya bentuk sel darah merah yang abnormal. Sel darah merah normal berbentuk bulat dan lentur, sedangkan sel darah merah siklema berbentuk sabit dan kaku. Siklema diturunkan secara resesif oleh satu pasang alel, yaitu H dan h. Alel H adalah alel normal untuk bentuk sel darah merah, sedangkan alel h adalah alel abnormal yang menyebabkan siklema. Jika seseorang memiliki genotipe hh, maka ia akan menjadi siklemik. Jika seseorang memiliki genotipe Hh, maka ia akan menjadi pembawa sifat siklema tanpa menunjukkan gejalanya. Siklema dapat menyebabkan anemia, nyeri, infeksi, stroke, dan kerusakan organ. Pengobatan siklema meliputi transfusi darah, obat-obatan, dan transplantasi sumsum tulang.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Proses Pewarisan Sifat: Pengertian dan Komponen Utamanya. https:\/\/kumparan.com\/berita-hari-ini\/proses-pewarisan-sifat-pengertian-dan-komponen-utamanya-1uwHUTYQfrV.<br \/>\n(2) Konsep Pewarisan Sifat pada Makhluk Hidup | Biologi Kelas 9 &#8211; Ruangguru. https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/konsep-pewarisan-sifat-pada-makhluk-hidup.<br \/>\n(3) Pewaris Sifat dan Kelainan Sifat pada Manusia &#8211; Kompas.com. https:\/\/www.kompas.com\/skola\/read\/2020\/01\/28\/080000569\/pewaris-sifat-dan-kelainan-sifat-pada-manusia?page=all.<br \/>\n(4) Pengertian Pewarisan Sifat, Komponen, serta Prosesnya &#8211; Media Indonesia. https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/620324\/pengertian-pewarisan-sifat-komponen-serta-prosesnya.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pewarisan sifat atau hereditas adalah penurunan sifat dari induk (parental) ke anak (filial). Sifat yang dimaksud di sini dapat berupa&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45262,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2759],"tags":[],"class_list":["post-40173","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-saintek"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40173","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40173"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40173\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45262"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40173"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40173"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40173"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}