{"id":40971,"date":"2024-10-15T11:09:08","date_gmt":"2024-10-15T04:09:08","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=40971"},"modified":"2024-10-15T11:09:08","modified_gmt":"2024-10-15T04:09:08","slug":"penyebab-perilaku-menyimpang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-perilaku-menyimpang.html","title":{"rendered":"Penyebab Perilaku Menyimpang"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_82_2 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-perilaku-menyimpang.html\/#Pengertian_Perilaku_Menyimpang\" >Pengertian Perilaku Menyimpang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-perilaku-menyimpang.html\/#Faktor_Penyebab_Perilaku_Menyimpang\" >Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-perilaku-menyimpang.html\/#1_Faktor_Sosialisasi_yang_Tidak_Sempurna\" >1. Faktor Sosialisasi yang Tidak Sempurna<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-perilaku-menyimpang.html\/#2_Anomie_atau_Ketidaksesuaian_Norma\" >2. Anomie atau Ketidaksesuaian Norma<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-perilaku-menyimpang.html\/#3_Differential_Association\" >3. Differential Association<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-perilaku-menyimpang.html\/#4_Faktor_Internal\" >4. Faktor Internal<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-perilaku-menyimpang.html\/#5_Pengaruh_Lingkungan_dan_Keluarga\" >5. Pengaruh Lingkungan dan Keluarga<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-perilaku-menyimpang.html\/#6_Labeling_Pemberian_Cap\" >6. Labeling (Pemberian Cap)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-perilaku-menyimpang.html\/#7_Ketidaksanggupan_Menyerap_Norma_Budaya\" >7. Ketidaksanggupan Menyerap Norma Budaya<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Perilaku_Menyimpang\"><\/span>Pengertian Perilaku Menyimpang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Perilaku menyimpang adalah tindakan atau perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku dalam suatu masyarakat. Dalam sosiologi, perilaku menyimpang dipelajari untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan seseorang atau kelompok melakukan tindakan yang bertentangan dengan harapan sosial. Penyimpangan ini bisa bersifat positif atau negatif tergantung pada konteks sosial yang melingkupinya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Faktor_Penyebab_Perilaku_Menyimpang\"><\/span>Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Perilaku menyimpang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari individu maupun lingkungan sekitarnya. Berikut adalah beberapa penyebab utama perilaku menyimpang menurut kajian sosiologi:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Faktor_Sosialisasi_yang_Tidak_Sempurna\"><\/span>1. Faktor Sosialisasi yang Tidak Sempurna<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Salah satu penyebab perilaku menyimpang adalah sosialisasi yang tidak efektif. Ketika proses sosialisasi, yang melibatkan penanaman nilai dan norma masyarakat, tidak dilakukan dengan baik, individu dapat salah memahami norma yang berlaku. Hal ini seringkali terjadi ketika agen-agen sosialisasi seperti keluarga, sekolah, atau lingkungan tidak berfungsi dengan baik. Misalnya, seorang anak yang sering terpapar perilaku kekerasan di rumah dapat menganggap kekerasan sebagai hal yang wajar.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Anomie_atau_Ketidaksesuaian_Norma\"><\/span>2. Anomie atau Ketidaksesuaian Norma<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Konsep anomie, yang dikemukakan oleh Emile Durkheim, menggambarkan kondisi masyarakat yang kehilangan pegangan norma. Dalam masyarakat modern yang mengalami perubahan nilai secara cepat, sering kali terjadi kebingungan antara nilai yang diharapkan dengan kenyataan sosial yang ada. Hal ini menyebabkan individu merasa tidak memiliki panduan jelas, sehingga rentan melakukan perilaku menyimpang. Contoh fenomena anomie adalah masyarakat yang bingung menghadapi kebebasan berekspresi yang melampaui batas norma tradisional.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Differential_Association\"><\/span>3. Differential Association<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Teori ini, dikembangkan oleh Edwin H. Sutherland, menjelaskan bahwa perilaku menyimpang bisa muncul akibat interaksi dengan kelompok atau individu yang juga melakukan penyimpangan. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan perilaku menyimpang, semakin besar kemungkinan mereka terpengaruh untuk berperilaku serupa. Faktor seperti frekuensi, durasi, dan intensitas interaksi mempengaruhi sejauh mana seseorang bisa terpengaruh.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Faktor_Internal\"><\/span>4. Faktor Internal<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Faktor internal yang berasal dari individu itu sendiri, seperti gangguan mental atau emosional, juga bisa menjadi penyebab perilaku menyimpang. Individu yang memiliki masalah pengendalian emosi atau gangguan kejiwaan cenderung sulit menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku, sehingga mereka melakukan tindakan yang melawan aturan.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"5_Pengaruh_Lingkungan_dan_Keluarga\"><\/span>5. Pengaruh Lingkungan dan Keluarga<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Lingkungan sosial juga memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku seseorang. Individu yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang disfungsional, seperti keluarga yang broken home atau tidak memberikan perhatian cukup, berpotensi besar untuk melakukan tindakan menyimpang. Selain itu, lingkungan yang mendukung perilaku negatif, seperti kelompok teman sebaya yang terlibat dalam tindakan kriminal, dapat mendorong individu untuk ikut terlibat.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"6_Labeling_Pemberian_Cap\"><\/span>6. Labeling (Pemberian Cap)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Teori labeling menyatakan bahwa seseorang bisa melakukan perilaku menyimpang setelah mereka diberi label negatif oleh masyarakat. Misalnya, seseorang yang pernah melakukan kesalahan dan kemudian terus dilabeli sebagai &#8220;pelaku kejahatan&#8221; mungkin akan terus berperilaku menyimpang karena merasa tidak diterima di masyarakat.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"7_Ketidaksanggupan_Menyerap_Norma_Budaya\"><\/span>7. Ketidaksanggupan Menyerap Norma Budaya<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Dalam beberapa kasus, individu gagal menyerap norma-norma budaya yang berlaku dalam masyarakat. Ketidaksanggupan ini bisa disebabkan oleh minimnya pendidikan moral atau pengawasan keluarga. Akibatnya, individu tersebut tidak dapat membedakan mana tindakan yang pantas dan tidak pantas, dan berperilaku menyimpang sebagai hasilnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Perilaku Menyimpang Perilaku menyimpang adalah tindakan atau perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku dalam suatu masyarakat. Dalam sosiologi, perilaku menyimpang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2758],"tags":[],"class_list":["post-40971","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ilmu-sosial"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40971","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40971"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40971\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40971"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40971"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40971"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}