{"id":40988,"date":"2024-10-15T12:00:58","date_gmt":"2024-10-15T05:00:58","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=40988"},"modified":"2024-10-15T12:03:05","modified_gmt":"2024-10-15T05:03:05","slug":"berpikir-sinkronis-dan-diakronis-pengertian-ciri-ciri-dan-penerapannya-dalam-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/berpikir-sinkronis-dan-diakronis-pengertian-ciri-ciri-dan-penerapannya-dalam-sejarah.html","title":{"rendered":"Berpikir Sinkronis dan Diakronis, Pengertian, Ciri-ciri, dan Penerapannya dalam Sejarah"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_89 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/berpikir-sinkronis-dan-diakronis-pengertian-ciri-ciri-dan-penerapannya-dalam-sejarah.html\/#Pengertian_Berpikir_Sinkronis\" >Pengertian Berpikir Sinkronis<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/berpikir-sinkronis-dan-diakronis-pengertian-ciri-ciri-dan-penerapannya-dalam-sejarah.html\/#Ciri-ciri_Berpikir_Sinkronis\" >Ciri-ciri Berpikir Sinkronis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/berpikir-sinkronis-dan-diakronis-pengertian-ciri-ciri-dan-penerapannya-dalam-sejarah.html\/#Contoh_Penerapan_Berpikir_Sinkronis\" >Contoh Penerapan Berpikir Sinkronis<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/berpikir-sinkronis-dan-diakronis-pengertian-ciri-ciri-dan-penerapannya-dalam-sejarah.html\/#Pengertian_Berpikir_Diakronis\" >Pengertian Berpikir Diakronis<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/berpikir-sinkronis-dan-diakronis-pengertian-ciri-ciri-dan-penerapannya-dalam-sejarah.html\/#Ciri-ciri_Berpikir_Diakronis\" >Ciri-ciri Berpikir Diakronis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/berpikir-sinkronis-dan-diakronis-pengertian-ciri-ciri-dan-penerapannya-dalam-sejarah.html\/#Contoh_Penerapan_Berpikir_Diakronis\" >Contoh Penerapan Berpikir Diakronis<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/berpikir-sinkronis-dan-diakronis-pengertian-ciri-ciri-dan-penerapannya-dalam-sejarah.html\/#Perbedaan_Berpikir_Sinkronis_dan_Diakronis\" >Perbedaan Berpikir Sinkronis dan Diakronis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/berpikir-sinkronis-dan-diakronis-pengertian-ciri-ciri-dan-penerapannya-dalam-sejarah.html\/#Kelebihan_dan_Kelemahan\" >Kelebihan dan Kelemahan<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/berpikir-sinkronis-dan-diakronis-pengertian-ciri-ciri-dan-penerapannya-dalam-sejarah.html\/#Kelebihan_dan_Kelemahan_Berpikir_Sinkronis\" >Kelebihan dan Kelemahan Berpikir Sinkronis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/berpikir-sinkronis-dan-diakronis-pengertian-ciri-ciri-dan-penerapannya-dalam-sejarah.html\/#Kelebihan_dan_Kelemahan_Berpikir_Diakronis\" >Kelebihan dan Kelemahan Berpikir Diakronis<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/berpikir-sinkronis-dan-diakronis-pengertian-ciri-ciri-dan-penerapannya-dalam-sejarah.html\/#Kapan_Menggunakan_Pendekatan_Sinkronis_dan_Diakronis\" >Kapan Menggunakan Pendekatan Sinkronis dan Diakronis?<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-12\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/berpikir-sinkronis-dan-diakronis-pengertian-ciri-ciri-dan-penerapannya-dalam-sejarah.html\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Dalam mempelajari sejarah, ada dua pendekatan yang sering digunakan yaitu cara berpikir sinkronis dan diakronis. Keduanya merupakan metode analisis yang berbeda dalam memandang dan memahami peristiwa sejarah. Pendekatan ini digunakan untuk membantu memahami peristiwa sejarah secara komprehensif, baik dalam konteks waktu tertentu maupun dalam lintasan waktu yang panjang.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Berpikir_Sinkronis\"><\/span>Pengertian Berpikir Sinkronis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><strong>Berpikir sinkronis<\/strong> adalah cara pandang yang mempelajari suatu peristiwa pada satu titik waktu tertentu dengan menggali berbagai aspek yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Metode ini berfokus pada berbagai faktor atau gejala yang terjadi dalam satu rentang waktu yang relatif singkat. Dalam pendekatan ini, kajian sejarah dilakukan secara horizontal, artinya hanya memperhatikan kondisi dalam rentang waktu tertentu tanpa memperhatikan perkembangan dari waktu ke waktu.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ciri-ciri_Berpikir_Sinkronis\"><\/span>Ciri-ciri Berpikir Sinkronis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<ol>\n<li><strong>Rentang Waktu Pendek<\/strong>: Analisis sejarah dilakukan dalam jangka waktu yang pendek, misalnya hanya beberapa tahun atau satu periode tertentu.<\/li>\n<li><strong>Fokus pada Pola dan Gejala<\/strong>: Berpikir sinkronis lebih menitikberatkan pada pola-pola peristiwa yang terjadi dalam satu waktu dan bagaimana gejala-gejala itu berkembang.<\/li>\n<li><strong>Bersifat Horizontal<\/strong>: Pendekatan ini bersifat horizontal, artinya mempelajari berbagai aspek pada satu masa tanpa melihat perkembangan sejarah yang lebih luas.<\/li>\n<li><strong>Tanpa Perbandingan Waktu Lain<\/strong>: Tidak ada perbandingan dengan periode sejarah lainnya. Fokus utama adalah pada satu peristiwa di satu waktu.<\/li>\n<li><strong>Kajian Mendalam<\/strong>: Kajian dalam berpikir sinkronis dilakukan dengan mendalam, menganalisis berbagai aspek ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang mempengaruhi peristiwa tersebut.<\/li>\n<\/ol>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Contoh_Penerapan_Berpikir_Sinkronis\"><\/span>Contoh Penerapan Berpikir Sinkronis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Contoh penerapan berpikir sinkronis adalah ketika kita mengkaji <strong>masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Aceh<\/strong> pada periode 1607-1636. Dalam studi ini, kita hanya akan menelaah peristiwa yang terjadi dalam masa pemerintahan tersebut tanpa melihat pengaruh atau perbandingan dengan masa sebelumnya atau sesudahnya. Fokusnya lebih pada karakteristik kepemimpinan Sultan Iskandar Muda dan pengaruhnya terhadap perkembangan budaya, ekonomi, dan politik di Aceh pada masa itu.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Berpikir_Diakronis\"><\/span>Pengertian Berpikir Diakronis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><strong>Berpikir diakronis<\/strong> adalah cara pandang yang mempelajari sejarah melalui lintasan waktu, melihat bagaimana peristiwa-peristiwa saling berkaitan dari masa lalu hingga masa kini. Pendekatan ini menekankan pada hubungan sebab-akibat antar peristiwa dalam kurun waktu yang panjang dan memperhatikan perubahan serta kontinuitas yang terjadi.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ciri-ciri_Berpikir_Diakronis\"><\/span>Ciri-ciri Berpikir Diakronis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<ol>\n<li><strong>Melintasi Waktu<\/strong>: Pendekatan ini melihat peristiwa sejarah dalam rangkaian waktu yang panjang, dari masa lalu hingga masa sekarang.<\/li>\n<li><strong>Menekankan Kronologi<\/strong>: Berpikir diakronis menekankan urutan waktu yang runtut dan hubungan sebab-akibat antara satu peristiwa dengan peristiwa lain.<\/li>\n<li><strong>Bersifat Vertikal<\/strong>: Pendekatan ini bersifat vertikal, artinya melihat perkembangan sejarah dari waktu ke waktu, sehingga bisa memahami perubahan yang terjadi.<\/li>\n<li><strong>Menyusun Periodisasi<\/strong>: Dalam berpikir diakronis, sejarah dibagi dalam periode-periode tertentu yang memudahkan dalam memahami perkembangan sejarah.<\/li>\n<li><strong>Hubungan Sebab Akibat<\/strong>: Fokus utama adalah pada bagaimana satu peristiwa mempengaruhi peristiwa lainnya dalam sejarah.<\/li>\n<\/ol>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Contoh_Penerapan_Berpikir_Diakronis\"><\/span>Contoh Penerapan Berpikir Diakronis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Contoh berpikir diakronis adalah mempelajari <strong>Perang Dunia II<\/strong> dari awal hingga akhir, menganalisis bagaimana peristiwa yang terjadi pada 1939 mempengaruhi perkembangan konflik hingga berakhirnya perang pada 1945. Pendekatan ini juga mempelajari dampaknya terhadap tatanan dunia modern, seperti berdirinya PBB, Perang Dingin, dan perubahan peta politik dunia.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perbedaan_Berpikir_Sinkronis_dan_Diakronis\"><\/span>Perbedaan Berpikir Sinkronis dan Diakronis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Walaupun keduanya digunakan untuk mempelajari sejarah, ada perbedaan mendasar antara berpikir sinkronis dan diakronis. Berikut adalah perbedaan utama antara kedua pendekatan:<\/p>\n<table>\n<thead>\n<tr>\n<th><strong>Aspek<\/strong><\/th>\n<th><strong>Sinkronis<\/strong><\/th>\n<th><strong>Diakronis<\/strong><\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td>Fokus Waktu<\/td>\n<td>Pada satu titik waktu tertentu<\/td>\n<td>Melalui lintasan waktu<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Rentang Waktu<\/td>\n<td>Singkat<\/td>\n<td>Panjang<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Sifat Kajian<\/td>\n<td>Horizontal (meluas dalam satu waktu)<\/td>\n<td>Vertikal (berurutan dari masa ke masa)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Pendalaman Kajian<\/td>\n<td>Mendalam, spesifik pada satu peristiwa<\/td>\n<td>Meluas, melihat hubungan antar peristiwa<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Contoh<\/td>\n<td>Studi tentang ekonomi suatu negara pada satu tahun<\/td>\n<td>Kajian tentang perkembangan politik di Eropa dari abad ke-19 hingga sekarang<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kelebihan_dan_Kelemahan\"><\/span>Kelebihan dan Kelemahan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kelebihan_dan_Kelemahan_Berpikir_Sinkronis\"><\/span>Kelebihan dan Kelemahan Berpikir Sinkronis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p><strong>Kelebihan<\/strong>:<\/p>\n<ul>\n<li>Memberikan analisis mendalam terhadap suatu peristiwa.<\/li>\n<li>Memungkinkan untuk memahami berbagai aspek dari satu periode sejarah secara detail.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Kelemahan<\/strong>:<\/p>\n<ul>\n<li>Kurang memberikan konteks sejarah yang lebih luas.<\/li>\n<li>Tidak memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi sebelum atau sesudah peristiwa.<\/li>\n<\/ul>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kelebihan_dan_Kelemahan_Berpikir_Diakronis\"><\/span>Kelebihan dan Kelemahan Berpikir Diakronis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p><strong>Kelebihan<\/strong>:<\/p>\n<ul>\n<li>Mampu menjelaskan perkembangan suatu peristiwa dalam jangka waktu panjang.<\/li>\n<li>Menyediakan pemahaman mengenai hubungan sebab-akibat antar peristiwa dalam sejarah.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Kelemahan<\/strong>:<\/p>\n<ul>\n<li>Analisisnya mungkin kurang mendalam karena harus mencakup waktu yang panjang.<\/li>\n<li>Terkadang mengabaikan detail penting dari satu periode sejarah.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kapan_Menggunakan_Pendekatan_Sinkronis_dan_Diakronis\"><\/span>Kapan Menggunakan Pendekatan Sinkronis dan Diakronis?<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pemilihan antara berpikir sinkronis atau diakronis tergantung pada tujuan studi sejarah yang dilakukan. Jika fokus penelitian adalah untuk menganalisis suatu peristiwa secara spesifik dan mendalam dalam satu periode waktu tertentu, pendekatan sinkronis lebih sesuai. Sebaliknya, jika tujuan penelitian adalah untuk melihat perkembangan dan perubahan suatu peristiwa dalam jangka waktu panjang, maka berpikir diakronis lebih tepat.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, dalam mempelajari <strong>sejarah kolonialisme di Indonesia<\/strong>, pendekatan diakronis bisa digunakan untuk melihat bagaimana kolonialisme berkembang dari awal masuknya bangsa Eropa hingga kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, jika kita ingin mempelajari <strong>strategi ekonomi VOC di Batavia<\/strong> pada abad ke-17, maka pendekatan sinkronis akan lebih tepat.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Berpikir sinkronis dan diakronis adalah dua metode penting dalam studi sejarah yang memberikan perspektif berbeda terhadap suatu peristiwa. Sinkronis menekankan pada analisis mendalam dalam satu periode waktu, sedangkan diakronis lebih berfokus pada hubungan dan perkembangan peristiwa dalam lintasan waktu. Keduanya saling melengkapi dalam memahami sejarah secara lebih komprehensif.<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<ul>\n<li>Modul Sejarah Kelas X KD 3.5 dan 4.5. (2020). Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Repositori Kemdikbud RI. Diakses dari https:\/\/repositori.kemdikbud.go.id<\/li>\n<li>Hadi, Abdul. (2020). <em>Cara Berpikir Diakronik dan Sinkronik dalam Mempelajari Sejarah.<\/em> Tirto.id. Diakses dari https:\/\/tirto.id<\/li>\n<li>Studiobelajar.com. (2020). <em>Berpikir Sinkronik dan Diakronik dalam Sejarah: Pengertian, Contoh, dll.<\/em> Diakses dari https:\/\/www.studiobelajar.com]<\/li>\n<li>Brainacademy.id. (2021). <em>Cara Berpikir Diakronik, Sinkronik, dan Periodesasi dalam Sejarah.<\/em> Brain Academy. Diakses dari https:\/\/www.brainacademy.id<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam mempelajari sejarah, ada dua pendekatan yang sering digunakan yaitu cara berpikir sinkronis dan diakronis. Keduanya merupakan metode analisis yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45264,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2758],"tags":[],"class_list":["post-40988","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ilmu-sosial"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40988","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40988"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40988\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45264"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40988"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40988"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40988"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}