{"id":41306,"date":"2024-11-03T08:10:33","date_gmt":"2024-11-03T01:10:33","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=41306"},"modified":"2024-11-03T08:10:33","modified_gmt":"2024-11-03T01:10:33","slug":"sumber-sejarah-kerajaan-sriwijaya-prasasti-catatan-asing-dan-bukti-arkeologis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/sumber-sejarah-kerajaan-sriwijaya-prasasti-catatan-asing-dan-bukti-arkeologis.html","title":{"rendered":"Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya: Prasasti, Catatan Asing, dan Bukti Arkeologis&#8221;"},"content":{"rendered":"<p>Kerajaan Sriwijaya, yang berdiri sejak abad ke-7 Masehi, merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. Keberadaannya dibuktikan melalui berbagai sumber sejarah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai sumber-sumber tersebut:<\/p>\n<p><strong>1. Prasasti-Prasasti di Dalam Negeri<\/strong><\/p>\n<p>Prasasti merupakan sumber primer yang memberikan informasi langsung tentang Kerajaan Sriwijaya. Beberapa prasasti penting antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Prasasti Kedukan Bukit (683 Masehi):<\/strong> Ditemukan di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang, prasasti ini menceritakan perjalanan suci (siddhayatra) Dapunta Hyang yang membawa 20.000 tentara dari Minanga Tamwan dan berhasil menaklukkan beberapa daerah.<\/li>\n<li><strong>Prasasti Talang Tuo (684 Masehi):<\/strong> Ditemukan di sebelah barat Palembang, prasasti ini berisi tentang pembuatan Taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa untuk kemakmuran semua makhluk.<\/li>\n<li><strong>Prasasti Kota Kapur (686 Masehi):<\/strong> Ditemukan di Pulau Bangka, prasasti ini mencatat permintaan kepada para dewa untuk menjaga kesatuan Sriwijaya dan menghukum siapa saja yang bermaksud jahat.<\/li>\n<li><strong>Prasasti Karang Berahi (686 Masehi):<\/strong> Ditemukan di Jambi, prasasti ini menegaskan kekuasaan Sriwijaya atas wilayah tersebut.<\/li>\n<li><strong>Prasasti Telaga Batu (tanpa tahun):<\/strong> Ditemukan di Palembang, prasasti ini berisi kutukan terhadap siapa saja yang tidak setia kepada raja.<\/li>\n<li><strong>Prasasti Palas Pasemah (tanpa tahun):<\/strong> Ditemukan di Lampung Selatan, prasasti ini menunjukkan ekspansi Sriwijaya ke wilayah Lampung.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>2. Prasasti-Prasasti di Luar Negeri<\/strong><\/p>\n<p>Ekspansi dan pengaruh Sriwijaya juga tercermin dalam prasasti yang ditemukan di luar Indonesia:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Prasasti Ligor (775 Masehi):<\/strong> Ditemukan di Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan, prasasti ini menyebutkan raja Sriwijaya yang berkuasa di wilayah tersebut.<\/li>\n<li><strong>Prasasti Nalanda (860 Masehi):<\/strong> Ditemukan di India, prasasti ini mencatat pembangunan biara oleh Raja Balaputradewa untuk para pelajar dari Sriwijaya.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>3. Catatan dari Sumber Asing<\/strong><\/p>\n<p>Selain prasasti, keberadaan Sriwijaya juga didokumentasikan dalam catatan para penjelajah dan sejarawan asing:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Catatan I-Tsing (671-695 Masehi):<\/strong> Biksu Buddha dari Tiongkok ini mencatat bahwa Sriwijaya adalah pusat pembelajaran Buddha yang penting, dengan banyak biksu dan sarjana yang belajar di sana.<\/li>\n<li><strong>Catatan Arab dan Persia:<\/strong> Para pedagang Arab menyebut Sriwijaya sebagai &#8220;Zabag&#8221; atau &#8220;Sribuza&#8221;, menggambarkannya sebagai kerajaan kaya yang menghasilkan barang-barang seperti kapur barus, cengkih, dan pala.<\/li>\n<li><strong>Catatan India:<\/strong> Prasasti Tanjore di India Selatan mencatat penaklukan Sriwijaya oleh Raja Rajendra Chola I pada abad ke-11, menunjukkan interaksi dan konflik antara kedua kerajaan.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>4. Bukti Arkeologis dan Peninggalan Lainnya<\/strong><\/p>\n<p>Selain prasasti dan catatan tertulis, bukti arkeologis seperti reruntuhan candi, artefak, dan struktur bangunan di sekitar Palembang dan wilayah lain di Sumatera Selatan memberikan gambaran tentang kemegahan dan peradaban Sriwijaya.<\/p>\n<p>Melalui berbagai sumber tersebut, kita dapat memahami peran penting Kerajaan Sriwijaya dalam sejarah maritim dan penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kerajaan Sriwijaya, yang berdiri sejak abad ke-7 Masehi, merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. Keberadaannya dibuktikan melalui&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45263,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4003],"tags":[],"class_list":["post-41306","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sejarah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41306","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41306"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41306\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45263"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}