{"id":41336,"date":"2024-11-04T08:04:14","date_gmt":"2024-11-04T01:04:14","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=41336"},"modified":"2024-11-04T08:04:14","modified_gmt":"2024-11-04T01:04:14","slug":"peninggalan-prasasti-kerajaan-singasari-yang-mengungkap-sejarah-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/peninggalan-prasasti-kerajaan-singasari-yang-mengungkap-sejarah-nusantara.html","title":{"rendered":"Peninggalan Prasasti Kerajaan Singasari yang Mengungkap Sejarah Nusantara"},"content":{"rendered":"<p>Kerajaan Singasari, yang berdiri pada abad ke-13 di Jawa Timur, meninggalkan beberapa prasasti penting yang menjadi sumber informasi berharga tentang sejarah dan kebudayaannya. Berikut adalah beberapa prasasti utama peninggalan Kerajaan Singasari:<\/p>\n<p><strong>1. Prasasti Mula Malurung<\/strong><\/p>\n<p>Prasasti ini ditemukan di Kediri dan terdiri dari lempengan-lempengan tembaga berukuran panjang 29,5-32,5 cm dengan lebar sekitar 10 cm. Prasasti Mula Malurung dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana pada tahun 1255 Masehi. Isi prasasti ini mencatat pemberian anugerah kepada Desa Mula dan Malurung sebagai tanah perdikan atau bebas pajak.<\/p>\n<p><strong>2. Prasasti Maribong<\/strong><\/p>\n<p>Ditemukan di daerah Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, prasasti ini terbuat dari lempengan tembaga berukuran 40,1 x 11,8 cm. Prasasti Maribong bertarikh 1186 Saka atau 1264 Masehi, pada masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana. Isi prasasti ini menyatakan bahwa pada 28 Agustus 1264, Wisnuwardhana menganugerahi Desa Maribong sebagai tanah perdikan.<\/p>\n<p><strong>3. Prasasti Wurare<\/strong><\/p>\n<p>Prasasti Wurare ditulis dalam bahasa Sanskerta dan bertarikh 21 November 1289 Masehi. Prasasti ini memperingati penobatan arca Mahaksobhya di tempat bernama Wurare. Arca tersebut merupakan simbol penghormatan kepada Raja Kertanegara yang dianggap telah mencapai derajat Jina atau Buddha Agung. Prasasti ini juga mengisahkan tentang Arya Bharad yang membagi Pulau Jawa menjadi dua kerajaan, yaitu Jenggala dan Panjalu, untuk menghindari perang saudara.<\/p>\n<p><strong>4. Prasasti Camundi<\/strong><\/p>\n<p>Prasasti ini dibuat pada tahun 1292, sesaat sebelum runtuhnya Kerajaan Singasari akibat pemberontakan Jayakatwang. Prasasti Camundi terpahat pada bagian belakang arca Camundi yang ditemukan di Desa Ardimulyo, sekitar 2 kilometer dari Candi Singasari di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Isi prasasti ini menyatakan bahwa Sri Maharaja Kertanegara telah menaklukkan seluruh dwipantara atau Nusantara.<\/p>\n<p><strong>5. Prasasti Rameswarapura<\/strong><\/p>\n<p>Ditemukan di Desa Sapi Kerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, prasasti ini kerap disebut juga sebagai Prasasti Sapi Kerep. Prasasti Rameswarapura merupakan salah satu peninggalan penting dari Kerajaan Singasari yang memberikan informasi tentang struktur pemerintahan dan kehidupan sosial pada masa itu.<\/p>\n<p>Prasasti-prasasti tersebut memberikan gambaran mendalam tentang sejarah, politik, dan budaya Kerajaan Singasari, serta peran pentingnya dalam perkembangan Nusantara pada masa lampau.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kerajaan Singasari, yang berdiri pada abad ke-13 di Jawa Timur, meninggalkan beberapa prasasti penting yang menjadi sumber informasi berharga tentang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45263,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4003],"tags":[],"class_list":["post-41336","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sejarah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41336","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41336"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41336\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45263"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41336"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41336"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41336"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}