{"id":41541,"date":"2024-11-05T08:36:48","date_gmt":"2024-11-05T01:36:48","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=41541"},"modified":"2024-12-27T14:23:30","modified_gmt":"2024-12-27T07:23:30","slug":"alasan-utama-aceh-menyerang-malaka-di-abad-ke-16","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/alasan-utama-aceh-menyerang-malaka-di-abad-ke-16.html","title":{"rendered":"Alasan Utama Aceh Menyerang Malaka di Abad ke-16"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/alasan-utama-aceh-menyerang-malaka-di-abad-ke-16.html\/#Ambisi_Aceh_Menguasai_Jalur_Perdagangan_di_Selat_Malaka\" >Ambisi Aceh Menguasai Jalur Perdagangan di Selat Malaka<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/alasan-utama-aceh-menyerang-malaka-di-abad-ke-16.html\/#Monopoli_Perdagangan_oleh_Portugis\" >Monopoli Perdagangan oleh Portugis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/alasan-utama-aceh-menyerang-malaka-di-abad-ke-16.html\/#Konflik_Agama_dan_Penyebaran_Islam\" >Konflik Agama dan Penyebaran Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/alasan-utama-aceh-menyerang-malaka-di-abad-ke-16.html\/#Upaya_Aceh_Mengusir_Portugis_dari_Malaka\" >Upaya Aceh Mengusir Portugis dari Malaka<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/alasan-utama-aceh-menyerang-malaka-di-abad-ke-16.html\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Pada abad ke-16, Kesultanan Aceh Darussalam dan Portugis terlibat dalam serangkaian konflik sengit di wilayah Selat Malaka. Pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa Aceh menyerang Malaka yang saat itu dikuasai oleh Portugis? Untuk memahami latar belakang serangan tersebut, penting untuk menelusuri faktor-faktor politik, ekonomi, dan agama yang melatarbelakanginya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ambisi_Aceh_Menguasai_Jalur_Perdagangan_di_Selat_Malaka\"><\/span>Ambisi Aceh Menguasai Jalur Perdagangan di Selat Malaka<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Selat Malaka merupakan jalur perdagangan strategis yang menghubungkan dunia Barat dan Timur. Penguasaan atas jalur ini berarti kontrol atas arus perdagangan rempah-rempah dan komoditas lainnya. Kesultanan Aceh, di bawah kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah (1514\u20131528), berambisi untuk mendominasi perdagangan di kawasan tersebut. Namun, kehadiran Portugis di Malaka setelah penaklukan tahun 1511 menjadi hambatan utama bagi cita-cita Aceh.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Monopoli_Perdagangan_oleh_Portugis\"><\/span>Monopoli Perdagangan oleh Portugis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Setelah menguasai Malaka, Portugis menerapkan kebijakan monopoli perdagangan yang ketat. Mereka melarang pedagang-pedagang Aceh untuk berlayar dan berdagang melalui Laut Merah, serta menangkap kapal-kapal dagang Aceh. Tindakan ini tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga dianggap sebagai ancaman terhadap kedaulatan Aceh.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Konflik_Agama_dan_Penyebaran_Islam\"><\/span>Konflik Agama dan Penyebaran Islam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Selain faktor ekonomi dan politik, terdapat juga dimensi keagamaan dalam konflik ini. Aceh, sebagai kerajaan Islam yang kuat, melihat Portugis sebagai ancaman terhadap penyebaran Islam di Nusantara. Portugis, yang membawa misi penyebaran agama Kristen, dianggap berupaya menghambat perkembangan Islam di wilayah tersebut.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Upaya_Aceh_Mengusir_Portugis_dari_Malaka\"><\/span>Upaya Aceh Mengusir Portugis dari Malaka<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Untuk menghadapi dominasi Portugis, Aceh melakukan berbagai upaya, antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Membangun Aliansi dengan Kekaisaran Ottoman<\/strong>: Aceh menjalin hubungan diplomatik dengan Turki Utsmani dan menerima bantuan berupa persenjataan, tentara, dan tenaga ahli.<\/li>\n<li><strong>Memperkuat Armada Laut<\/strong>: Aceh membangun armada laut yang kuat, dilengkapi dengan persenjataan modern, untuk menantang kekuatan maritim Portugis.<\/li>\n<li><strong>Melakukan Serangan Militer<\/strong>: Pada tahun 1568 dan 1629, Aceh melancarkan serangan besar-besaran ke Malaka. Meskipun serangan ini belum berhasil mengusir Portugis, namun menunjukkan tekad Aceh dalam mempertahankan kedaulatannya.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Serangan Aceh terhadap Malaka yang dikuasai Portugis didorong oleh kombinasi faktor ekonomi, politik, dan agama. Ambisi untuk menguasai jalur perdagangan strategis, perlawanan terhadap monopoli Portugis, serta upaya mempertahankan dan menyebarkan Islam menjadi pendorong utama konflik tersebut. Meskipun tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, perlawanan Aceh mencerminkan semangat juang dalam mempertahankan kedaulatan dan identitasnya.<\/p>\n<p>Sumber:<\/p>\n<ul>\n<li>Tirto.id. (2024). <em>Sejarah Perlawanan Rakyat Aceh Terhadap Portugis: Sebab &amp; Kronologi<\/em>. Diakses dari https:\/\/tirto.id\/sejarah-perlawanan-rakyat-aceh-terhadap-portugis-sebab-kronologi-ggqz<\/li>\n<li>Kompas.com. (2024). <em>Latar Belakang Konflik antara Portugis dan Aceh<\/em>. Diakses dari https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2024\/10\/01\/140000679\/latar-belakang-konflik-antara-portugis-dan-aceh<\/li>\n<li>Intisari.grid.id. (2024). <em>Bagaimana Sebab-sebab dan Akibat dari Konflik Aceh dan Portugis<\/em>. Diakses dari https:\/\/intisari.grid.id\/read\/033981681\/bagaimana-sebab-sebab-dan-akibat-dari-konflik-aceh-dan-portugis<\/li>\n<li>An-nur.ac.id. (2024). <em>Perjuangan dan Kejayaan Aceh dalam Menghadapi Portugis dan VOC<\/em>. Diakses dari https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/perjuangan-dan-kejayaan-aceh-dalam-menghadapi-portugis-dan-voc.html<\/li>\n<li>Guruips.com. (2024). <em>Perlawanan Aceh terhadap Portugis &amp; Raja Aceh yang Terlibat<\/em>. Diakses dari https:\/\/www.guruips.com\/2016\/09\/perlawanan-aceh-terhadap-portugis-raja.html<\/li>\n<li>Wikipedia. (2024). <em>Pengepungan Malaka (1568)<\/em>. Diakses dari https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pengepungan_Malaka_(1568)<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada abad ke-16, Kesultanan Aceh Darussalam dan Portugis terlibat dalam serangkaian konflik sengit di wilayah Selat Malaka. Pertanyaan yang sering&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45263,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4003],"tags":[],"class_list":["post-41541","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sejarah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41541","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41541"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41541\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":44940,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41541\/revisions\/44940"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45263"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41541"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41541"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41541"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}