{"id":41688,"date":"2024-11-07T09:55:18","date_gmt":"2024-11-07T02:55:18","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=41688"},"modified":"2024-11-07T09:55:18","modified_gmt":"2024-11-07T02:55:18","slug":"penyebab-terjadinya-perang-antara-kerajaan-pajang-dan-mataram-di-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-terjadinya-perang-antara-kerajaan-pajang-dan-mataram-di-jawa.html","title":{"rendered":"Penyebab Terjadinya Perang Antara Kerajaan Pajang dan Mataram di Jawa"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-terjadinya-perang-antara-kerajaan-pajang-dan-mataram-di-jawa.html\/#Latar_Belakang_Kerajaan_Pajang_dan_Mataram\" >Latar Belakang Kerajaan Pajang dan Mataram<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-terjadinya-perang-antara-kerajaan-pajang-dan-mataram-di-jawa.html\/#Penyebab_Utama_Konflik\" >Penyebab Utama Konflik<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-terjadinya-perang-antara-kerajaan-pajang-dan-mataram-di-jawa.html\/#Hukuman_terhadap_Tumenggung_Mayang\" >Hukuman terhadap Tumenggung Mayang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-terjadinya-perang-antara-kerajaan-pajang-dan-mataram-di-jawa.html\/#Ambisi_Sutawijaya\" >Ambisi Sutawijaya<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-terjadinya-perang-antara-kerajaan-pajang-dan-mataram-di-jawa.html\/#Jalannya_Perang\" >Jalannya Perang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-terjadinya-perang-antara-kerajaan-pajang-dan-mataram-di-jawa.html\/#Dampak_Setelah_Perang\" >Dampak Setelah Perang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/penyebab-terjadinya-perang-antara-kerajaan-pajang-dan-mataram-di-jawa.html\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Pada akhir abad ke-16, Pulau Jawa menjadi saksi konflik antara dua kerajaan besar: Kerajaan Pajang dan Kerajaan Mataram. Perang antara keduanya dipicu oleh serangkaian peristiwa politik dan personal yang kompleks.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Latar_Belakang_Kerajaan_Pajang_dan_Mataram\"><\/span>Latar Belakang Kerajaan Pajang dan Mataram<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kerajaan Pajang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) pada tahun 1568 setelah runtuhnya Kesultanan Demak. Pajang berpusat di daerah yang kini dikenal sebagai Surakarta, Jawa Tengah. Sementara itu, Kerajaan Mataram mulai berkembang di bawah kepemimpinan Sutawijaya, putra angkat Ki Ageng Pamanahan, yang diberikan wilayah Mataram sebagai hadiah atas jasanya membantu Hadiwijaya mengalahkan Arya Penangsang.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penyebab_Utama_Konflik\"><\/span>Penyebab Utama Konflik<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hukuman_terhadap_Tumenggung_Mayang\"><\/span>Hukuman terhadap Tumenggung Mayang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Pada tahun 1582, Sultan Hadiwijaya menjatuhkan hukuman buang ke Semarang kepada Tumenggung Mayang, yang merupakan adik ipar Sutawijaya. Sutawijaya tidak menerima keputusan ini dan memutuskan untuk membela adik iparnya. Tindakan ini memicu ketegangan antara Pajang dan Mataram, yang akhirnya berujung pada perang terbuka.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ambisi_Sutawijaya\"><\/span>Ambisi Sutawijaya<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Selain membela keluarga, Sutawijaya memiliki ambisi untuk memperluas kekuasaannya. Mataram di bawah kepemimpinannya semakin kuat dan berpengaruh, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi Pajang. Ramalan Sunan Prapen yang menyatakan bahwa Mataram akan menjadi kerajaan besar melebihi Pajang juga menambah ketegangan antara kedua kerajaan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Jalannya_Perang\"><\/span>Jalannya Perang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Meskipun pasukan Pajang lebih besar, Mataram berhasil memenangkan pertempuran tersebut. Kemenangan ini menegaskan posisi Mataram sebagai kekuatan baru di Jawa dan melemahkan dominasi Pajang.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dampak_Setelah_Perang\"><\/span>Dampak Setelah Perang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Setelah kekalahan Pajang, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Sepeninggalnya, terjadi perebutan kekuasaan antara putranya, Pangeran Benawa, dan menantunya, Arya Pangiri. Arya Pangiri berhasil naik takhta pada tahun 1583, namun pemerintahannya tidak stabil dan diwarnai konflik internal. Pada tahun 1586, Pangeran Benawa dengan bantuan Sutawijaya berhasil merebut kembali Pajang, namun memilih menyerahkan kekuasaan kepada Mataram, menandai berakhirnya dominasi Pajang dan awal kejayaan Mataram.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Perang antara Kerajaan Pajang dan Mataram disebabkan oleh kombinasi faktor personal dan politik, termasuk hukuman terhadap Tumenggung Mayang dan ambisi Sutawijaya untuk memperluas kekuasaan. Kemenangan Mataram dalam konflik ini menandai pergeseran kekuasaan di Jawa dan awal dominasi Mataram di wilayah tersebut.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada akhir abad ke-16, Pulau Jawa menjadi saksi konflik antara dua kerajaan besar: Kerajaan Pajang dan Kerajaan Mataram. Perang antara&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45263,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4003],"tags":[],"class_list":["post-41688","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sejarah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41688","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41688"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41688\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45263"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41688"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41688"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41688"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}