{"id":41712,"date":"2024-11-07T11:14:07","date_gmt":"2024-11-07T04:14:07","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=41712"},"modified":"2024-11-07T11:14:07","modified_gmt":"2024-11-07T04:14:07","slug":"peninggalan-mataram-islam-jejak-sejarah-yang-masih-terjaga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/peninggalan-mataram-islam-jejak-sejarah-yang-masih-terjaga.html","title":{"rendered":"Peninggalan Mataram Islam: Jejak Sejarah yang Masih Terjaga"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/peninggalan-mataram-islam-jejak-sejarah-yang-masih-terjaga.html\/#1_Keraton_Kesultanan_Yogyakarta\" >1. Keraton Kesultanan Yogyakarta<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/peninggalan-mataram-islam-jejak-sejarah-yang-masih-terjaga.html\/#2_Keraton_Kasunanan_Surakarta\" >2. Keraton Kasunanan Surakarta<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/peninggalan-mataram-islam-jejak-sejarah-yang-masih-terjaga.html\/#3_Masjid_Agung_Gedhe_Kauman\" >3. Masjid Agung Gedhe Kauman<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/peninggalan-mataram-islam-jejak-sejarah-yang-masih-terjaga.html\/#4_Masjid_Agung_Surakarta\" >4. Masjid Agung Surakarta<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/peninggalan-mataram-islam-jejak-sejarah-yang-masih-terjaga.html\/#5_Kompleks_Makam_Raja_Imogiri\" >5. Kompleks Makam Raja Imogiri<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/peninggalan-mataram-islam-jejak-sejarah-yang-masih-terjaga.html\/#6_Masjid_Kotagede\" >6. Masjid Kotagede<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/peninggalan-mataram-islam-jejak-sejarah-yang-masih-terjaga.html\/#7_Taman_Sari\" >7. Taman Sari<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/peninggalan-mataram-islam-jejak-sejarah-yang-masih-terjaga.html\/#8_Pasar_Kotagede\" >8. Pasar Kotagede<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/peninggalan-mataram-islam-jejak-sejarah-yang-masih-terjaga.html\/#9_Kerajinan_Perak_Kotagede\" >9. Kerajinan Perak Kotagede<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/peninggalan-mataram-islam-jejak-sejarah-yang-masih-terjaga.html\/#10_Kitab_Serat_Sastra_Gendhing\" >10. Kitab Serat Sastra Gendhing<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Kerajaan Mataram Islam, yang berdiri pada abad ke-16 di Pulau Jawa, meninggalkan berbagai peninggalan bersejarah yang masih dapat kita saksikan hingga kini. Peninggalan-penginggalan ini mencerminkan kejayaan dan kekayaan budaya yang dimiliki oleh kerajaan tersebut. Berikut adalah beberapa peninggalan penting dari Kerajaan Mataram Islam:<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Keraton_Kesultanan_Yogyakarta\"><\/span>1. Keraton Kesultanan Yogyakarta<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Keraton Kesultanan Yogyakarta dibangun pada tahun 1755 oleh Sultan Hamengkubuwono I setelah Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua. Keraton ini menjadi pusat pemerintahan dan budaya, serta simbol kekuasaan Kesultanan Yogyakarta. Arsitektur keraton mencerminkan perpaduan antara budaya Jawa dan Islam, dengan tata ruang yang sarat makna filosofis. Hingga kini, keraton masih berfungsi sebagai tempat tinggal Sultan dan keluarganya, serta menjadi destinasi wisata budaya yang populer.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Keraton_Kasunanan_Surakarta\"><\/span>2. Keraton Kasunanan Surakarta<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Setelah Perjanjian Giyanti, bagian lain dari Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta. Keraton Kasunanan Surakarta dibangun pada tahun 1745 oleh Sunan Pakubuwono II. Seperti Keraton Yogyakarta, keraton ini juga menjadi pusat kebudayaan dan pemerintahan, dengan arsitektur yang megah dan kaya akan simbolisme Jawa. Saat ini, keraton berfungsi sebagai museum yang menyimpan berbagai artefak bersejarah dan menjadi pusat pelestarian budaya Jawa.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Masjid_Agung_Gedhe_Kauman\"><\/span>3. Masjid Agung Gedhe Kauman<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Masjid Agung Gedhe Kauman terletak di sebelah barat Alun-Alun Utara Yogyakarta. Dibangun pada tahun 1773 oleh Sultan Hamengkubuwono I, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan Kesultanan Yogyakarta. Arsitektur masjid mencerminkan gaya tradisional Jawa dengan atap tumpang tiga dan ornamen khas. Masjid ini masih aktif digunakan untuk ibadah dan menjadi salah satu situs bersejarah yang penting di Yogyakarta.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Masjid_Agung_Surakarta\"><\/span>4. Masjid Agung Surakarta<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Masjid Agung Surakarta dibangun pada tahun 1749 pada masa pemerintahan Paku Buwono III. Masjid ini terletak di sekitar Alun-Alun Utara Keraton Surakarta dan memiliki desain arsitektur yang memadukan budaya Jawa Kuno dan arsitektur kolonial. Meskipun telah mengalami beberapa renovasi, masjid ini masih mempertahankan unsur sejarah dan digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"5_Kompleks_Makam_Raja_Imogiri\"><\/span>5. Kompleks Makam Raja Imogiri<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kompleks Makam Raja Imogiri terletak di Dusun Pajimatan, Girirejo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Dibangun pada tahun 1632 oleh Sultan Agung, kompleks ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi raja-raja Mataram dan keturunannya. Arsitektur makam mencerminkan perpaduan antara budaya Jawa dan Islam, dengan ornamen dan ukiran yang indah. Hingga kini, kompleks makam ini menjadi situs ziarah dan wisata sejarah yang penting.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"6_Masjid_Kotagede\"><\/span>6. Masjid Kotagede<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Masjid Kotagede, yang juga dikenal sebagai Masjid Agung Mataram, dibangun pada tahun 1640 pada masa pemerintahan Sultan Agung. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia dan memiliki arsitektur unik yang memadukan unsur Hindu-Buddha dan Islam. Gapura masjid menyerupai candi, mencerminkan akulturasi budaya yang terjadi pada masa itu. Masjid ini masih aktif digunakan untuk ibadah dan menjadi salah satu situs bersejarah yang penting di Yogyakarta.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"7_Taman_Sari\"><\/span>7. Taman Sari<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Taman Sari adalah bekas taman istana milik Keraton Ngayogyakarta yang dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwono I antara tahun 1758-1765. Awalnya, Taman Sari berfungsi sebagai tempat istirahat, area meditasi, dan tempat persembunyian bagi keluarga kerajaan. Kompleks ini terdiri dari kolam pemandian, kanal air, dan berbagai bangunan dengan arsitektur yang indah. Saat ini, Taman Sari menjadi salah satu destinasi wisata populer di Yogyakarta.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"8_Pasar_Kotagede\"><\/span>8. Pasar Kotagede<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pasar Kotagede didirikan pada abad ke-16 oleh Ki Gede Pemanahan. Pasar ini merupakan salah satu pasar tertua di Yogyakarta dan menjadi pusat perdagangan pada masa Kerajaan Mataram Islam. Hingga kini, Pasar Kotagede masih berfungsi sebagai tempat perdagangan dan menjadi salah satu destinasi wisata belanja yang menawarkan berbagai kerajinan perak khas Kotagede.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"9_Kerajinan_Perak_Kotagede\"><\/span>9. Kerajinan Perak Kotagede<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kerajinan perak di Kotagede merupakan warisan dari Kerajaan Mataram Islam. Pada masa itu, Kotagede menjadi pusat kerajinan perak yang menghasilkan berbagai perhiasan dan peralatan rumah tangga dari perak. Hingga kini, tradisi kerajinan perak masih dilestarikan dan menjadi salah satu daya tarik wisata di Kotagede.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"10_Kitab_Serat_Sastra_Gendhing\"><\/span>10. Kitab Serat Sastra Gendhing<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kitab Serat Sastra Gendhing adalah karya sastra yang ditulis oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Kitab ini berisi ajaran-ajaran kebijakan yang mencakup ajaran mistis, sosial, politik, tasawuf, dan filsafat. Kitab ini menjadi salah satu peninggalan penting yang mencerminkan pemikiran dan kebudayaan pada masa Kerajaan Mataram Islam.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kerajaan Mataram Islam, yang berdiri pada abad ke-16 di Pulau Jawa, meninggalkan berbagai peninggalan bersejarah yang masih dapat kita saksikan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45266,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[85],"tags":[],"class_list":["post-41712","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41712","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41712"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41712\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41712"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41712"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41712"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}