{"id":41815,"date":"2024-11-09T08:39:03","date_gmt":"2024-11-09T01:39:03","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=41815"},"modified":"2024-11-09T08:39:03","modified_gmt":"2024-11-09T01:39:03","slug":"kerajaan-makassar-sejarah-kejayaan-dan-peninggalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-makassar-sejarah-kejayaan-dan-peninggalan.html","title":{"rendered":"Kerajaan Makassar: Sejarah, Kejayaan, dan Peninggalan"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-makassar-sejarah-kejayaan-dan-peninggalan.html\/#Asal_Usul_dan_Pembentukan_Kerajaan_Makassar\" >Asal Usul dan Pembentukan Kerajaan Makassar<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-makassar-sejarah-kejayaan-dan-peninggalan.html\/#Masuknya_Islam_dan_Perkembangan_Awal\" >Masuknya Islam dan Perkembangan Awal<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-makassar-sejarah-kejayaan-dan-peninggalan.html\/#Masa_Kejayaan_di_Bawah_Sultan_Hasanuddin\" >Masa Kejayaan di Bawah Sultan Hasanuddin<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-makassar-sejarah-kejayaan-dan-peninggalan.html\/#Perang_Makassar_dan_Perjanjian_Bongaya\" >Perang Makassar dan Perjanjian Bongaya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-makassar-sejarah-kejayaan-dan-peninggalan.html\/#Keruntuhan_dan_Peninggalan_Sejarah\" >Keruntuhan dan Peninggalan Sejarah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kerajaan-makassar-sejarah-kejayaan-dan-peninggalan.html\/#Warisan_Budaya_dan_Pengaruh\" >Warisan Budaya dan Pengaruh<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Kerajaan Makassar, juga dikenal sebagai Kesultanan Gowa-Tallo, merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar di Indonesia bagian timur. Berdiri pada abad ke-16, kerajaan ini memainkan peran penting dalam sejarah Nusantara, terutama dalam bidang perdagangan dan penyebaran Islam di wilayah Sulawesi Selatan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Asal_Usul_dan_Pembentukan_Kerajaan_Makassar\"><\/span>Asal Usul dan Pembentukan Kerajaan Makassar<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kerajaan Makassar terbentuk dari penyatuan dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan, yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Pada awalnya, kedua kerajaan ini sering terlibat persaingan dan konflik. Namun, pada tahun 1528, di bawah kepemimpinan Raja Gowa ke-9, Tumapa&#8217;risi&#8217; Kallonna, dan Raja Tallo ke-6, Karaeng Matoaya, kedua kerajaan tersebut sepakat untuk bersatu demi memperkuat posisi mereka dalam menghadapi ancaman eksternal. Penyatuan ini dikenal dengan istilah &#8220;Rua Karaeng se&#8217;re ata&#8221; yang berarti &#8220;dua raja, satu rakyat&#8221;.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Masuknya_Islam_dan_Perkembangan_Awal\"><\/span>Masuknya Islam dan Perkembangan Awal<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Masuknya Islam ke Kerajaan Makassar dimulai pada awal abad ke-17 melalui dakwah yang dilakukan oleh ulama dari Minangkabau, seperti Dato&#8217; Ri Bandang dan Dato&#8217; Sulaiman. Pada tahun 1605, Raja Gowa, I Manga&#8217;rangi Daeng Manrabbia, memeluk Islam dan mengambil gelar Sultan Alauddin. Sementara itu, Karaeng Matoaya dari Tallo juga memeluk Islam dan bergelar Sultan Abdullah. Sejak saat itu, Islam menjadi agama resmi kerajaan dan menyebar luas di wilayah Sulawesi Selatan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Masa_Kejayaan_di_Bawah_Sultan_Hasanuddin\"><\/span>Masa Kejayaan di Bawah Sultan Hasanuddin<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Puncak kejayaan Kerajaan Makassar terjadi pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1653-1669). Di bawah kepemimpinannya, Makassar berkembang menjadi pusat perdagangan yang strategis dan menguasai jalur pelayaran di Indonesia bagian timur. Sultan Hasanuddin dikenal karena keberaniannya melawan dominasi VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di wilayah tersebut. Atas keberaniannya, ia dijuluki &#8220;Ayam Jantan dari Timur&#8221;.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perang_Makassar_dan_Perjanjian_Bongaya\"><\/span>Perang Makassar dan Perjanjian Bongaya<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Konflik antara Kerajaan Makassar dan VOC memuncak dalam Perang Makassar (1666-1669). VOC, yang bersekutu dengan Aru Palaka dari Kerajaan Bone, berhasil menekan Makassar hingga akhirnya Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada tahun 1667. Perjanjian ini sangat merugikan Makassar, antara lain memberikan hak monopoli perdagangan kepada VOC dan melepaskan wilayah-wilayah kekuasaannya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Keruntuhan_dan_Peninggalan_Sejarah\"><\/span>Keruntuhan dan Peninggalan Sejarah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Setelah Perjanjian Bongaya, kekuatan Kerajaan Makassar menurun drastis. Meskipun demikian, peninggalan sejarahnya masih dapat ditemukan hingga kini, antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Benteng Fort Rotterdam: Dibangun pada masa Sultan Alauddin dan direnovasi oleh VOC setelah penaklukan Makassar. Benteng ini kini menjadi salah satu ikon sejarah di Kota Makassar.<\/li>\n<li>Masjid Katangka: Masjid tertua di Sulawesi Selatan yang dibangun pada masa Sultan Alauddin sebagai simbol masuknya Islam ke Kerajaan Makassar.<\/li>\n<li>Istana Balla Lompoa: Istana kerajaan yang kini difungsikan sebagai museum, menyimpan berbagai artefak dan peninggalan Kerajaan Gowa.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Warisan_Budaya_dan_Pengaruh\"><\/span>Warisan Budaya dan Pengaruh<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kerajaan Makassar meninggalkan warisan budaya yang kaya, termasuk tradisi maritim yang kuat, seni ukir, musik tradisional, dan kuliner khas seperti Coto Makassar. Pengaruhnya juga terlihat dalam penyebaran Islam di Indonesia bagian timur dan kontribusinya dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme.<\/p>\n<p>Dengan memahami sejarah Kerajaan Makassar, kita dapat menghargai peran pentingnya dalam membentuk identitas budaya dan sejarah Indonesia, khususnya di wilayah timur Nusantara.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kerajaan Makassar, juga dikenal sebagai Kesultanan Gowa-Tallo, merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar di Indonesia bagian timur. Berdiri pada abad&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45266,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[85],"tags":[],"class_list":["post-41815","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41815","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41815"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41815\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41815"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41815"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41815"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}