{"id":41901,"date":"2024-11-09T11:22:37","date_gmt":"2024-11-09T04:22:37","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=41901"},"modified":"2024-11-09T11:22:37","modified_gmt":"2024-11-09T04:22:37","slug":"perlawanan-sultan-nuku-terhadap-belanda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/perlawanan-sultan-nuku-terhadap-belanda.html","title":{"rendered":"Perlawanan Sultan Nuku terhadap Belanda"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/perlawanan-sultan-nuku-terhadap-belanda.html\/#Latar_Belakang_Perlawanan\" >Latar Belakang Perlawanan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/perlawanan-sultan-nuku-terhadap-belanda.html\/#Awal_Perlawanan\" >Awal Perlawanan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/perlawanan-sultan-nuku-terhadap-belanda.html\/#Strategi_dan_Aliansi\" >Strategi dan Aliansi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/perlawanan-sultan-nuku-terhadap-belanda.html\/#Puncak_Perlawanan\" >Puncak Perlawanan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/perlawanan-sultan-nuku-terhadap-belanda.html\/#Akhir_Perlawanan_dan_Warisan\" >Akhir Perlawanan dan Warisan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Sultan Nuku, yang bernama lengkap Sultan Muhammad Amiruddin Syah, adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang memimpin perlawanan gigih terhadap kolonialisme Belanda di Maluku Utara pada akhir abad ke-18. Lahir sekitar tahun 1738 di Soasiu, Tidore, ia merupakan putra dari Sultan Jamaluddin, penguasa Kesultanan Tidore. Perjuangannya melawan dominasi Belanda menjadi simbol keteguhan dan semangat kemerdekaan bagi rakyat Indonesia.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Latar_Belakang_Perlawanan\"><\/span>Latar Belakang Perlawanan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pada tahun 1779, Sultan Jamaluddin ditangkap dan diasingkan ke Batavia oleh Belanda karena menolak kerja sama dan pendirian kantor dagang Belanda di Tidore. Setelah pengasingan tersebut, terjadi kekosongan kepemimpinan di Kesultanan Tidore. Menurut tradisi, putra mahkota, yaitu Nuku, seharusnya menggantikan posisi ayahnya sebagai sultan. Namun, Belanda mengangkat Kaicil Gay Jira sebagai penguasa sementara, yang kemudian digantikan oleh putranya, Patra Alam. Pengangkatan ini ditentang oleh Nuku dan adiknya, Kamaluddin, karena dianggap melanggar tradisi dan merupakan bentuk intervensi Belanda dalam urusan internal kesultanan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Awal_Perlawanan\"><\/span>Awal Perlawanan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Ketidakpuasan Nuku terhadap campur tangan Belanda mendorongnya untuk memulai perlawanan. Ia membangun armada kora-kora di sekitar Pulau Seram dan Papua, serta mendirikan basis pertahanan di Seram Timur pada tahun 1781. Pada tahun 1783, pasukan Nuku berhasil menyerang pos Belanda di Halmahera, menewaskan komandan Belanda dan sebagian besar pasukannya. Meskipun Belanda berhasil merebut basis pertahanan Nuku di Seram Timur pada tahun 1787, Nuku berhasil melarikan diri dan membangun kekuatan baru di Pulau Gorong.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Strategi_dan_Aliansi\"><\/span>Strategi dan Aliansi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Untuk memperkuat perlawanan, Nuku menjalin aliansi dengan berbagai pihak. Ia berhasil mendapatkan dukungan dari kerajaan-kerajaan di Maluku, Papua, dan Sulawesi. Selain itu, Nuku juga menjalin hubungan dengan Inggris, yang saat itu bersaing dengan Belanda dalam perdagangan rempah-rempah. Melalui kerja sama ini, Nuku memperoleh persenjataan dan dukungan militer yang signifikan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Puncak_Perlawanan\"><\/span>Puncak Perlawanan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dengan kekuatan yang semakin besar, Nuku melancarkan serangan-serangan efektif terhadap Belanda. Pada tahun 1796, pasukannya berhasil merebut Pulau Banda. Setahun kemudian, pada 12 April 1797, Nuku dan armadanya yang terdiri dari 79 kora-kora serta satu kapal Inggris mengepung Tidore dan berhasil mengusir Belanda dari pulau tersebut. Sultan Kamaluddin melarikan diri ke Ternate, dan Nuku dinobatkan sebagai Sultan Tidore dengan gelar &#8220;Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Ma\u2019bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan&#8221;.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Akhir_Perlawanan_dan_Warisan\"><\/span>Akhir Perlawanan dan Warisan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Setelah merebut Tidore, Nuku melanjutkan perlawanan dengan menyerang Ternate. Pada tahun 1801, dengan bantuan Inggris, ia berhasil membebaskan Ternate dari cengkeraman Belanda. Namun, pada tahun 1803, Inggris menarik dukungannya dari Maluku, meninggalkan Nuku untuk berjuang sendiri. Meskipun demikian, Nuku terus melanjutkan perlawanan hingga akhir hayatnya pada 14 November 1805. Setelah kematiannya, perlawanan mulai melemah, dan Belanda kembali menguasai wilayah tersebut.<\/p>\n<p>Perjuangan Sultan Nuku menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya dalam melawan penjajahan. Atas jasa-jasanya, pada 7 Agustus 1995, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Nuku.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sultan Nuku, yang bernama lengkap Sultan Muhammad Amiruddin Syah, adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang memimpin perlawanan gigih terhadap&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45266,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[85],"tags":[],"class_list":["post-41901","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41901","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41901"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41901\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41901"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41901"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41901"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}