{"id":41905,"date":"2024-11-09T11:24:30","date_gmt":"2024-11-09T04:24:30","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=41905"},"modified":"2024-11-09T11:24:30","modified_gmt":"2024-11-09T04:24:30","slug":"tradisi-adat-kesultanan-ternate","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/tradisi-adat-kesultanan-ternate.html","title":{"rendered":"Tradisi Adat Kesultanan Ternate"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/tradisi-adat-kesultanan-ternate.html\/#Adat_Segulaha_Inti_Tradisi_Kesultanan_Ternate\" >Adat Segulaha: Inti Tradisi Kesultanan Ternate<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/tradisi-adat-kesultanan-ternate.html\/#Upacara_Adat_Cerminan_Filosofi_Hidup\" >Upacara Adat: Cerminan Filosofi Hidup<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/tradisi-adat-kesultanan-ternate.html\/#Jou_Uci_Sabea_Se_Kabasarang_Tradisi_Menyambut_Lailatul_Qadar\" >Jou Uci Sabea Se Kabasarang: Tradisi Menyambut Lailatul Qadar<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/tradisi-adat-kesultanan-ternate.html\/#Pengaruh_Islam_dalam_Tradisi_Kesultanan_Ternate\" >Pengaruh Islam dalam Tradisi Kesultanan Ternate<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/tradisi-adat-kesultanan-ternate.html\/#Pelestarian_Tradisi_di_Era_Modern\" >Pelestarian Tradisi di Era Modern<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Kesultanan Ternate, yang didirikan pada tahun 1257 oleh Baab Mashur Malamo, merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Terletak di Maluku Utara, kesultanan ini memiliki tradisi adat yang kaya dan unik, mencerminkan perpaduan antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Adat_Segulaha_Inti_Tradisi_Kesultanan_Ternate\"><\/span>Adat Segulaha: Inti Tradisi Kesultanan Ternate<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Adat Segulaha adalah sistem adat yang menjadi landasan dalam kehidupan masyarakat Kesultanan Ternate. Istilah &#8220;Segulaha&#8221; berasal dari bahasa Ternate yang berarti &#8220;membuat&#8221; atau &#8220;melaksanakan.&#8221; Adat ini mencakup berbagai aturan dan tata cara yang diwariskan secara turun-temurun, mengintegrasikan nilai-nilai agama Islam dengan budaya lokal. Pelaksanaan Adat Segulaha didasarkan pada lima prinsip utama:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Adat Se Atorang<\/strong>: Aturan yang mengatur hubungan antarindividu dalam masyarakat.<\/li>\n<li><strong>Istiadat Se Kabasarang<\/strong>: Tata cara dan upacara adat yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.<\/li>\n<li><strong>Galib Se Lukudi<\/strong>: Kebiasaan dan tradisi yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat.<\/li>\n<li><strong>Ngare Se Cara Sere Se Doniru<\/strong>: Norma dan etika yang harus diikuti oleh setiap anggota masyarakat.<\/li>\n<li><strong>Cing Se Cingari<\/strong>: Sanksi atau hukuman bagi pelanggar adat.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Adat Segulaha diterapkan dalam berbagai upacara penting, seperti upacara Joko Kaha (injak tanah), pengangkatan putra mahkota, penobatan Sultan, dan upacara kematian Sultan. Melalui adat ini, masyarakat Ternate menjaga keseimbangan antara nilai-nilai agama dan budaya dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Upacara_Adat_Cerminan_Filosofi_Hidup\"><\/span>Upacara Adat: Cerminan Filosofi Hidup<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Upacara adat di Ternate tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga mencerminkan filosofi hidup masyarakat setempat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap prosesi memiliki makna mendalam dan menjadi sarana untuk memperkuat ikatan sosial serta menjaga harmoni dalam komunitas.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Jou_Uci_Sabea_Se_Kabasarang_Tradisi_Menyambut_Lailatul_Qadar\"><\/span>Jou Uci Sabea Se Kabasarang: Tradisi Menyambut Lailatul Qadar<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Salah satu tradisi yang khas adalah Jou Uci Sabea Se Kabasarang, yang dilaksanakan untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Tradisi ini melibatkan prosesi turunnya Sultan beserta benda-benda pusaka ke Masjid Sultan untuk melaksanakan salat Isya, Tarawih, dan Witir secara berjemaah. Setelah sempat vakum selama tujuh tahun, tradisi ini kembali digelar pada tahun 2024, menunjukkan komitmen masyarakat Ternate dalam melestarikan warisan budaya mereka.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengaruh_Islam_dalam_Tradisi_Kesultanan_Ternate\"><\/span>Pengaruh Islam dalam Tradisi Kesultanan Ternate<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Sejak abad ke-15, Islam menjadi agama resmi Kesultanan Ternate. Pengaruh Islam terlihat jelas dalam berbagai tradisi dan adat istiadat, seperti upacara penobatan Sultan yang dikenal dengan sebutan &#8220;Jou Khalifa Jou Kolano.&#8221; Selain itu, tradisi seperti &#8220;Ela-ela&#8221; dan &#8220;Kolano Uci Sabea&#8221; juga merupakan warisan budaya Islam yang khas dari Kesultanan Ternate.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pelestarian_Tradisi_di_Era_Modern\"><\/span>Pelestarian Tradisi di Era Modern<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Meskipun zaman terus berkembang, masyarakat Ternate tetap setia melaksanakan adat istiadat yang telah diwariskan oleh leluhur mereka. Upacara adat seperti pernikahan, kelahiran, dan kematian masih dilestarikan hingga saat ini. Salah satu tradisi yang terkenal adalah &#8220;Kololi Kie,&#8221; sebuah ritual penghormatan kepada gunung suci.<\/p>\n<p>Dengan menjaga dan melestarikan tradisi adat, Kesultanan Ternate tidak hanya mempertahankan identitas budaya mereka, tetapi juga memberikan kontribusi penting dalam memperkaya keragaman budaya Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kesultanan Ternate, yang didirikan pada tahun 1257 oleh Baab Mashur Malamo, merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Terletak&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45266,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[85],"tags":[],"class_list":["post-41905","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41905","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41905"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41905\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41905"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41905"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41905"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}