{"id":4491,"date":"2023-08-27T01:31:19","date_gmt":"2023-08-27T01:31:19","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=4491"},"modified":"2023-08-27T01:31:19","modified_gmt":"2023-08-27T01:31:19","slug":"hubungan-kebudayaan-hoabin-bacson-dongson-dan-sahuynh-pada-masyarakat-awal-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hubungan-kebudayaan-hoabin-bacson-dongson-dan-sahuynh-pada-masyarakat-awal-di-indonesia.html","title":{"rendered":"Hubungan Kebudayaan Hoabin, Bacson, Dongson, dan Sahuynh pada Masyarakat Awal di Indonesia"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_82_2 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hubungan-kebudayaan-hoabin-bacson-dongson-dan-sahuynh-pada-masyarakat-awal-di-indonesia.html\/#Pendahuluan\" >Pendahuluan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hubungan-kebudayaan-hoabin-bacson-dongson-dan-sahuynh-pada-masyarakat-awal-di-indonesia.html\/#Penyebaran_Kebudayaan_Hoabin_Bacson_Dongson_dan_Sahuynh_di_Indonesia\" >Penyebaran Kebudayaan Hoabin, Bacson, Dongson, dan Sahuynh di Indonesia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hubungan-kebudayaan-hoabin-bacson-dongson-dan-sahuynh-pada-masyarakat-awal-di-indonesia.html\/#Ciri-ciri_Kebudayaan_Hoabin_Bacson_Dongson_dan_Sahuynh_di_Indonesia\" >Ciri-ciri Kebudayaan Hoabin, Bacson, Dongson, dan Sahuynh di Indonesia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hubungan-kebudayaan-hoabin-bacson-dongson-dan-sahuynh-pada-masyarakat-awal-di-indonesia.html\/#Pengaruh_Kebudayaan_Hoabin_Bacson_Dongson_dan_Sahuynh_di_Indonesia\" >Pengaruh Kebudayaan Hoabin, Bacson, Dongson, dan Sahuynh di Indonesia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/hubungan-kebudayaan-hoabin-bacson-dongson-dan-sahuynh-pada-masyarakat-awal-di-indonesia.html\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pendahuluan\"><\/span>Pendahuluan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya yang sangat kaya. Budaya-budaya tersebut tidak terbentuk secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari interaksi dan pengaruh antara berbagai kebudayaan dari dalam dan luar negeri. Salah satu periode penting dalam sejarah kebudayaan Indonesia adalah masa prasejarah, yaitu masa sebelum adanya catatan tertulis. Pada masa ini, terdapat beberapa kebudayaan yang berkembang di kawasan Asia Tenggara dan berpengaruh pada masyarakat awal di Indonesia. Empat di antaranya adalah kebudayaan Hoabin, Bacson, Dongson, dan Sahuynh.<\/p>\n<p>Kebudayaan Hoabin dan Bacson merupakan kebudayaan yang berasal dari Vietnam dan berpusat di lembah Sungai Mekong. Kebudayaan ini muncul sekitar 10.000 hingga 4.000 tahun yang lalu dan memiliki ciri khas pembuatan alat-alat dari batu yang dipangkas pada satu atau dua sisi. Kebudayaan Dongson juga berasal dari Vietnam, tetapi lebih muda daripada Hoabin dan Bacson. Kebudayaan ini muncul sekitar 700 hingga 200 SM dan memiliki ciri khas pembuatan alat-alat dari logam, terutama tembaga dan perunggu. Kebudayaan Sahuynh berasal dari Kamboja dan berpusat di pantai selatan Vietnam. Kebudayaan ini muncul sekitar 500 SM hingga 200 M dan memiliki ciri khas pembuatan tembikar dengan hiasan geometris.<\/p>\n<p>Kebudayaan-kebudayaan tersebut memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat awal di Indonesia, baik secara geografis maupun budaya. Hubungan tersebut dapat dilihat dari penyebaran, ciri-ciri, dan pengaruh kebudayaan-kebudayaan tersebut di wilayah Indonesia.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penyebaran_Kebudayaan_Hoabin_Bacson_Dongson_dan_Sahuynh_di_Indonesia\"><\/span>Penyebaran Kebudayaan Hoabin, Bacson, Dongson, dan Sahuynh di Indonesia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kebudayaan Hoabin dan Bacson menyebar ke Indonesia melalui dua jalur, yaitu jalur barat dan jalur timur. Jalur barat meliputi Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaya, hingga Indonesia bagian barat. Jalur timur meliputi Vietnam, Taiwan, Filipina, hingga Indonesia bagian timur.\u00a0Penyebaran ini terjadi sekitar 2.000 SM bersamaan dengan perpindahan ras Papua Melanesoid yang merupakan pendukung utama kebudayaan Hoabin dan Bacson\u00a0<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>.<\/p>\n<p>Kebudayaan Dongson menyebar ke Indonesia melalui jalur laut dengan menggunakan perahu-perahu besar yang dilengkapi dengan layar dan dayung. Jalur ini meliputi Vietnam, Filipina, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Maluku.\u00a0Penyebaran ini terjadi sekitar 300 SM bersamaan dengan perpindahan ras Melayu Deutero yang merupakan pendukung utama kebudayaan Dongson\u00a0<sup>1<\/sup><sup>3<\/sup>.<\/p>\n<p>Kebudayaan Sahuynh menyebar ke Indonesia melalui jalur laut yang sama dengan Dongson. Namun, penyebarannya lebih terbatas dan hanya mencapai Jawa Timur dan Bali.\u00a0Penyebaran ini terjadi sekitar 200 SM bersamaan dengan perpindahan ras Melayu Deutero yang juga merupakan pendukung utama kebudayaan Sahuynh\u00a0<sup>1<\/sup><sup>4<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ciri-ciri_Kebudayaan_Hoabin_Bacson_Dongson_dan_Sahuynh_di_Indonesia\"><\/span>Ciri-ciri Kebudayaan Hoabin, Bacson, Dongson, dan Sahuynh di Indonesia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kebudayaan Hoabin dan Bacson memiliki ciri-ciri yang berkaitan dengan pembuatan alat-alat dari batu yang disesuaikan dengan kegunaannya. Alat-alat tersebut antara lain adalah kapak persegi, kapak lonjong, kapak pendek, alat serpih, dan alat-alat dari tulang.\u00a0Alat-alat tersebut ditemukan di berbagai tempat di Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua\u00a0<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>.<\/p>\n<p>Kebudayaan Dongson memiliki ciri-ciri yang berkaitan dengan pembuatan alat-alat dari logam, terutama tembaga dan perunggu. Alat-alat tersebut antara lain adalah kapak corong, beliung persegi, nekara (gendang perunggu), moko (lonceng perunggu), pedang, tombak, dan perhiasan.\u00a0Alat-alat tersebut ditemukan di berbagai tempat di Indonesia, seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku\u00a0<sup>1<\/sup><sup>3<\/sup>.<\/p>\n<p>Kebudayaan Sahuynh memiliki ciri-ciri yang berkaitan dengan pembuatan tembikar dengan hiasan geometris. Tembikar-tembikar tersebut antara lain adalah guci, mangkuk, piring, dan tempayan.\u00a0Tembikar-tembikar tersebut ditemukan di beberapa tempat di Indonesia, seperti Jawa Timur dan Bali\u00a0<sup>1<\/sup><sup>4<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengaruh_Kebudayaan_Hoabin_Bacson_Dongson_dan_Sahuynh_di_Indonesia\"><\/span>Pengaruh Kebudayaan Hoabin, Bacson, Dongson, dan Sahuynh di Indonesia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kebudayaan Hoabin dan Bacson memberikan pengaruh yang berkaitan dengan pola hidup dan kegiatan ekonomi masyarakat awal di Indonesia. Masyarakat awal di Indonesia yang menerima pengaruh kebudayaan Hoabin dan Bacson hidup sebagai pemburu dan pengumpul makanan.\u00a0Mereka juga tinggal di gua-gua atau abri sous roche (tempat perlindungan di bawah tebing) dan meninggalkan bukit-bukit kerang atau sampah dapur (kitchen midden) sebagai sisa-sisa aktivitas mereka\u00a0<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>.<\/p>\n<p>Kebudayaan Dongson memberikan pengaruh yang berkaitan dengan kemajuan teknologi dan kebudayaan masyarakat awal di Indonesia. Masyarakat awal di Indonesia yang menerima pengaruh kebudayaan Dongson mampu membuat alat-alat dari logam yang lebih tahan lama dan efisien daripada batu. Mereka juga mengembangkan kebudayaan megalitikum yang ditandai dengan pembuatan arca-arca batu raksasa (menhir), batu berundak (dolmen), batu berlubang (sarkofagus), dan batu bertulis (prasasti).\u00a0Selain itu, mereka juga mengenal sistem pertanian sawah dengan menggunakan bajak dan irigasi\u00a0<sup>1<\/sup><sup>3<\/sup>.<\/p>\n<p>Kebudayaan Sahuynh memberikan pengaruh yang berkaitan dengan perkembangan seni keramik masyarakat awal di Indonesia. Masyarakat awal di Indonesia yang menerima pengaruh kebudayaan Sahuynh mampu membuat tembikar dengan hiasan geometris yang indah dan bermakna.\u00a0Mereka juga menggunakan tembikar sebagai wadah untuk menyimpan benda-benda berharga atau abu jenazah\u00a0<sup>1<\/sup><sup>4<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kebudayaan Hoabin, Bacson, Dongson, dan Sahuynh merupakan empat kebudayaan yang berasal dari kawasan Indocina dan berpengaruh pada masyarakat awal di Indonesia. Kebudayaan-kebudayaan tersebut memiliki hubungan yang erat dengan Indonesia dalam hal penyebaran, ciri-ciri, dan pengaruhnya. Kebudayaan-kebudayaan tersebut memberikan kontribusi yang besar dalam perkembangan budaya Indonesia hingga saat ini.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Kebudayaan Bacson-Hoabinh: Persebaran, Ciri-ciri, dan Pengaruh &#8211; Kompas.com. https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2021\/12\/07\/080000179\/kebudayaan-bacson-hoabinh&#8211;persebaran-ciri-ciri-dan-pengaruh.<br \/>\n(2) Masyarakat Prasejarah: Kebudayaan Bacson-Hoabinh &#8211; Kompas.com. https:\/\/www.kompas.com\/skola\/read\/2020\/12\/07\/141840169\/masyarakat-prasejarah-kebudayaan-bacson-hoabinh.<br \/>\n(3) Pengaruh budaya Bachson Hoabinh, Dongson dan Sa Hy&#8230; &#8211; Roboguru. https:\/\/roboguru.ruangguru.com\/question\/pengaruh-budaya-bachson-hoabinh-dongson-dan-sa-hyunh-pada-masyarakat-awal-indonesia_QU-F5HGX0UI.<br \/>\n(4) Pengaruh kebudayaan bacson-hoabinh Dongson dan sa &#8230; &#8211; Roboguru. https:\/\/roboguru.ruangguru.com\/forum\/pengaruh-kebudayaan-bacson-hoabinh-dongson-dan-sa-hyunh-ke-wilayah-indonesia-menjadi_FRM-2IYP1BG4.<br \/>\n(5) Hubungan Kebudayaan Hoabin, Bacson, Dongson, dan Sa-huynh pa. https:\/\/prezi.com\/tmh3onbg3e8q\/hubungan-kebudayaan-hoabin-bacson-dongson-dan-sa-huynh-pa\/.<br \/>\n(6) undefined. https:\/\/t.me\/kompascomupdate.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendahuluan Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya yang sangat kaya. Budaya-budaya tersebut tidak terbentuk secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari interaksi dan pengaruh&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[85],"tags":[],"class_list":["post-4491","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4491","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4491"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4491\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4491"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4491"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4491"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}