{"id":45435,"date":"2026-09-15T18:45:59","date_gmt":"2026-09-15T11:45:59","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pragmatik-dalam-komunikasi-linguistik-menafsirkan-maksud-di-balik-tuturan.html"},"modified":"2026-09-15T18:45:59","modified_gmt":"2026-09-15T11:45:59","slug":"pragmatik-dalam-komunikasi-linguistik-menafsirkan-maksud-di-balik-tuturan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pragmatik-dalam-komunikasi-linguistik-menafsirkan-maksud-di-balik-tuturan.html","title":{"rendered":"Pragmatik dalam Komunikasi Linguistik: Menafsirkan Maksud di Balik Tuturan"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pragmatik-dalam-komunikasi-linguistik-menafsirkan-maksud-di-balik-tuturan.html\/#Tiga_Dimensi_Tindak_Tutur_Lokusi_Ilokusi_dan_Perlokusi\" >Tiga Dimensi Tindak Tutur: Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pragmatik-dalam-komunikasi-linguistik-menafsirkan-maksud-di-balik-tuturan.html\/#Prinsip_Kerja_Sama_Paul_Grice_dan_Empat_Maksim_Percakapan\" >Prinsip Kerja Sama Paul Grice dan Empat Maksim Percakapan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pragmatik-dalam-komunikasi-linguistik-menafsirkan-maksud-di-balik-tuturan.html\/#Implikatur_Percakapan_Ketika_Maksim_Dilanggar_secara_Sengaja\" >Implikatur Percakapan: Ketika Maksim Dilanggar secara Sengaja<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pragmatik-dalam-komunikasi-linguistik-menafsirkan-maksud-di-balik-tuturan.html\/#Prinsip_Kesantunan_Geoffrey_Leech_dan_Konteks_Budaya_Indonesia\" >Prinsip Kesantunan Geoffrey Leech dan Konteks Budaya Indonesia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/pragmatik-dalam-komunikasi-linguistik-menafsirkan-maksud-di-balik-tuturan.html\/#Urgensi_Literasi_Pragmatik_di_Ruang_Publik_Digital\" >Urgensi Literasi Pragmatik di Ruang Publik Digital<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang menelaah bagaimana konteks situasi, latar belakang pengetahuan bersama, dan inferensi penutur berinteraksi untuk membentuk makna ujaran melampaui batas arti harfiah semantiknya. Dalam interaksi sosial sehari-hari, manusia jarang sekali bertutur secara murni literal. Pernyataan sederhana seperti <em>&#8220;Udara di ruangan ini cukup dingin&#8221;<\/em> kerap kali bukan sekadar laporan suhu meteorologis, melainkan sebuah permintaan tak langsung (<em>indirect speech act<\/em>) agar seseorang menutup jendela atau mengecilkan pendingin udara.<\/p>\n<p>Bila semantik berfokus pada makna stabil kata dan kalimat dalam kamus, pragmatik menyelidiki makna yang dinegosiasikan antara penutur dan mitra tutur dalam konteks sosiokultural tertentu. Sebagaimana dirumuskan dalam teori fundamental John Langshaw Austin (1962) dan diperluas oleh John Searle (1969) serta Paul Grice (1975), tuturan manusia pada hakikatnya bukan sekadar rangkaian bunyi berwujud kata-kata, melainkan sebuah tindakan sosial yang memiliki daya pengaruh nyata di dunia nyata.<\/p>\n<div class=\"kajian-terkait-kampus\" style=\"background-color: #F8FAFC;border-left: 4px solid #D4AF37;padding: 16px 20px;margin: 28px 0;border-radius: 0 8px 8px 0\">\n<p style=\"margin-top: 0;margin-bottom: 8px;font-weight: bold;color: #0F172A\">Kajian Linguistik dan Komunikasi Terkait:<\/p>\n<ul style=\"margin-bottom: 0;padding-left: 20px;color: #334155\">\n<li><a href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/perkembangan-bahasa-gaul-siber-morfologi-dan-adaptasi-leksikal-generas.html\" title=\"Bahasa Gaul Siber\">Morfologi dan Adaptasi Leksikal Bahasa Gaul Generasi Digital<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/peran-bahasa-indonesia-sebagai-bahasa-ilmiah-dan-instrumen-pemersatu-bangsa.html\" title=\"Bahasa Indonesia Ilmiah\">Peran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmiah dan Pemersatu Bangsa<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/tantangan-demokrasi-deliberatif-di-ruang-publik-digital-yang-terpolarisasi.html\" title=\"Demokrasi Deliberatif\">Tantangan Dialog Deliberatif di Ruang Publik Digital<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tiga_Dimensi_Tindak_Tutur_Lokusi_Ilokusi_dan_Perlokusi\"><\/span>Tiga Dimensi Tindak Tutur: Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dalam karyanya <em>How to Do Things with Words<\/em> (1962), Austin mengklasifikasikan setiap ujaran ke dalam tiga tingkatan tindakan simultan:<\/p>\n<div class=\"table-responsive\">\n<table class=\"table table-bordered table-striped\" style=\"width: 100%;border-collapse: collapse;margin: 24px 0\">\n<thead>\n<tr style=\"background-color: #0F172A;color: #FFFFFF\">\n<th style=\"padding: 12px;border: 1px solid #CBD5E1\">Dimensi Tindak Tutur<\/th>\n<th style=\"padding: 12px;border: 1px solid #CBD5E1\">Hakikat Pengertian<\/th>\n<th style=\"padding: 12px;border: 1px solid #CBD5E1\">Ilustrasi Kasus di Lapangan<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><strong>Tindak Lokusi (Locutionary Act)<\/strong><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Aktivitas mengucapkan bunyi bahasa dengan makna leksikal dan gramatikal harfiah.<\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Pengucapan kalimat: <em>&#8220;Ada anjing galak di depan gerbang.&#8221;<\/em><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><strong>Tindak Ilokusi (Illocutionary Act)<\/strong><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Daya atau maksud komunikatif yang hendak dicapai penutur di balik ucapannya.<\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Fungsi peringatan atau larangan agar mitra tutur tidak membuka gerbang secara sembrono.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\"><strong>Tindak Perlokusi (Perlocutionary Act)<\/strong><\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Efek psikologis atau reaksi perilaku nyata yang ditimbulkan pada diri mitra tutur.<\/td>\n<td style=\"padding: 10px;border: 1px solid #CBD5E1\">Mitra tutur merasa waspada, menghentikan langkah, atau memutuskan mencari jalur lain.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Prinsip_Kerja_Sama_Paul_Grice_dan_Empat_Maksim_Percakapan\"><\/span>Prinsip Kerja Sama Paul Grice dan Empat Maksim Percakapan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Komunikasi manusia dapat berjalan lancar karena penutur dan pendengar diasumsikan mematuhi <strong>Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle)<\/strong> yang dirumuskan oleh Herbert Paul Grice (1975). Grice menjabarkan prinsip ini ke dalam empat maksim percakapan utama:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Maksim Kuantitas (Quantity):<\/strong> Berikan kontribusi informasi yang cukup sesuai kebutuhan pertukaran tutur, jangan memberi informasi berlebihan yang tidak diminta atau terlalu sedikit hingga membingungkan.<\/li>\n<li><strong>Maksim Kualitas (Quality):<\/strong> Katakan hanya hal yang diyakini kebenarannya dan didukung oleh bukti memadai; hindari menyampaikan kepalsuan atau informasi tanpa dasar fakta.<\/li>\n<li><strong>Maksim Relevansi (Relation):<\/strong> Pastikan setiap ujaran memiliki hubungan logis yang bertautan dengan topik pembicaraan yang sedang berlangsung.<\/li>\n<li><strong>Maksim Cara (Manner):<\/strong> Bertuturlah secara jelas, ringkas, teratur, serta hindari ketaksaan (ambiguitas) dan kerumitan struktur yang mengaburkan pesan inti.<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Implikatur_Percakapan_Ketika_Maksim_Dilanggar_secara_Sengaja\"><\/span>Implikatur Percakapan: Ketika Maksim Dilanggar secara Sengaja<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Keunikan bahasa manusia terlihat ketika seorang penutur sengaja melanggar (<em>flouting<\/em>) maksim Grice demi memunculkan <strong>implikatur percakapan<\/strong> (makna tersirat). Sebagai contoh, ketika seorang dosen ditanya mengenai kinerja akademik seorang mahasiswa yang bermasalah dan menjawab: <em>&#8220;Tulisannya sangat rapi dan dia selalu memakai sepatu bersih&#8221;<\/em>, dosen tersebut sengaja melanggar maksim kuantitas dan relevansi.<\/p>\n<p>Alih-alih dianggap tidak paham pertanyaan, mitra tutur menyimpulkan pesan tersirat bahwa mahasiswa tersebut tidak memiliki keunggulan akademik yang menonjol. Implikatur menjadi sarana diplomasi sosial yang elegan untuk menyampaikan kritik tanpa melukai perasaan pihak lain secara frontal.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Prinsip_Kesantunan_Geoffrey_Leech_dan_Konteks_Budaya_Indonesia\"><\/span>Prinsip Kesantunan Geoffrey Leech dan Konteks Budaya Indonesia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dalam konteks komunikasi lintas budaya\u2014khususnya masyarakat tutur Indonesia\u2014kepatuhan terhadap efisiensi informasi sering kali dikalahkan oleh <strong>Prinsip Kesantunan (Politeness Principle)<\/strong> sebagaimana dikaji oleh Geoffrey Leech (1983). Budaya ketimuran sangat menjunjung tinggi maksim kearifan, maksim kemurahan, dan maksim kerendahan hati.<\/p>\n<p>Penelitian Akhmad Saifudin (2019) mengenai implikatur dan kesantunan dalam wacana bahasa Indonesia menegaskan bahwa penutur Indonesia cenderung menggunakan tindak tutur tidak langsung (<em>indirect speech<\/em>) sebagai bentuk penghormatan status sosial dan penjagaan muka (<em>face-saving mechanism<\/em>). Menolak tawaran secara implisit lebih dipilih ketimbang mengucapkan kata &#8220;tidak&#8221; secara tegas, demi memelihara keharmonisan relasi sosial.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Urgensi_Literasi_Pragmatik_di_Ruang_Publik_Digital\"><\/span>Urgensi Literasi Pragmatik di Ruang Publik Digital<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Di era komunikasi berbasis teks di media sosial, hilangnya kontak visual, intonasi vokal, dan bahasa tubuh kerap memicu salah paham pragmatik (<em>pragmatic failure<\/em>). Komentar ironi atau candaan sarkastis sering kali ditafsirkan sebagai ancaman atau penghinaan harfiah, yang berujung pada sengketa hukum di ruang siber.<\/p>\n<p>Mengembangkan kecakapan pragmatik melatih individu untuk peka terhadap konteks, terampil menafsirkan maksud tersembunyi di balik tuturan, serta bijak dalam memproduksi pesan yang santun, tertib, dan berkeadaban di tengah kemajemukan ruang publik modern.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang menelaah bagaimana konteks situasi, latar belakang pengetahuan bersama, dan inferensi penutur berinteraksi untuk membentuk&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45436,"comment_status":"","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13654],"tags":[13768,13650,13722,13933,13934],"class_list":["post-45435","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahasa-dan-sastra","tag-bahasa-indonesia","tag-komunikasi","tag-linguistik","tag-pragmatik","tag-tindak-tutur"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45435","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45435"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45435\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45436"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45435"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45435"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45435"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}