{"id":5212,"date":"2023-09-04T11:57:47","date_gmt":"2023-09-04T11:57:47","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=5212"},"modified":"2023-12-06T00:35:11","modified_gmt":"2023-12-06T00:35:11","slug":"mengenal-unsur-unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-dalam-cerita-rakyat-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/mengenal-unsur-unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-dalam-cerita-rakyat-indonesia.html","title":{"rendered":"Mengenal Unsur-unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Cerita Rakyat Indonesia"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/mengenal-unsur-unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-dalam-cerita-rakyat-indonesia.html\/#Tema\" >Tema<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/mengenal-unsur-unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-dalam-cerita-rakyat-indonesia.html\/#Tokoh_dan_Penokohan\" >Tokoh dan Penokohan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/mengenal-unsur-unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-dalam-cerita-rakyat-indonesia.html\/#Alur\" >Alur<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/mengenal-unsur-unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-dalam-cerita-rakyat-indonesia.html\/#Latar\" >Latar<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/mengenal-unsur-unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-dalam-cerita-rakyat-indonesia.html\/#Amanat\" >Amanat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/mengenal-unsur-unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-dalam-cerita-rakyat-indonesia.html\/#Gaya_Bahasa\" >Gaya Bahasa<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/mengenal-unsur-unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-dalam-cerita-rakyat-indonesia.html\/#Nilai_Budaya\" >Nilai Budaya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/mengenal-unsur-unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-dalam-cerita-rakyat-indonesia.html\/#Unsur_Ekstrinsik\" >Unsur Ekstrinsik<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<div class=\"content\" tabindex=\"0\">\n<div class=\"ac-container ac-adaptiveCard\">\n<div class=\"ac-textBlock\">\n<p>Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dari lisan masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Cerita rakyat biasanya mengandung nilai-nilai moral, budaya, sejarah, atau kearifan lokal yang menjadi ciri khas suatu daerah atau bangsa. Cerita rakyat juga memiliki unsur-unsur intrinsik yang membangun struktur dan makna cerita. Unsur-unsur intrinsik cerita rakyat adalah sebagai berikut:<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tema\"><\/span>Tema<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Tema adalah gagasan pokok atau ide utama yang menjadi dasar cerita. Tema biasanya berkaitan dengan pesan moral, ajaran, atau hikmah yang ingin disampaikan oleh pengarang atau penutur cerita. Tema cerita rakyat seringkali menggambarkan kehidupan masyarakat, adat istiadat, kepercayaan, atau konflik antara baik dan buruk. Contoh tema cerita rakyat adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Tema persahabatan dalam cerita \u201cSi Kancil dan Buaya\u201d<\/li>\n<li>Tema kejujuran dalam cerita \u201cKeong Emas\u201d<\/li>\n<li>Tema kesetiaan dalam cerita \u201cMalin Kundang\u201d<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tokoh_dan_Penokohan\"><\/span>Tokoh dan Penokohan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Tokoh adalah pelaku atau karakter yang terlibat dalam cerita. Tokoh cerita rakyat bisa berupa manusia, binatang, tumbuhan, benda mati, atau makhluk gaib. Tokoh cerita rakyat biasanya memiliki sifat atau karakteristik yang khas dan mudah dikenali oleh pembaca atau pendengar. Penokohan adalah cara pengarang atau penutur cerita menggambarkan tokoh-tokoh dalam cerita. Penokohan bisa dilakukan dengan cara:<\/p>\n<ul>\n<li>Penokohan langsung, yaitu penggambaran tokoh secara eksplisit melalui kata-kata pengarang atau penutur cerita. Contoh: \u201cSi Kancil adalah binatang yang cerdik dan pandai berkelit.\u201d<\/li>\n<li>Penokohan tidak langsung, yaitu penggambaran tokoh secara implisit melalui perilaku, ucapan, pikiran, atau perasaan tokoh tersebut. Contoh: \u201cBuaya merasa lapar dan ingin memakan si Kancil yang sedang berjalan di tepi sungai.\u201d<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Alur\"><\/span>Alur<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Alur adalah rangkaian peristiwa yang membentuk jalinan cerita. Alur cerita rakyat biasanya sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca atau pendengar. Alur cerita rakyat bisa dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li>Alur awal, yaitu bagian yang memperkenalkan tokoh-tokoh, latar, dan konflik yang mendasari cerita.<\/li>\n<li>Alur tengah, yaitu bagian yang menampilkan perkembangan konflik dan usaha tokoh-tokoh untuk mengatasinya.<\/li>\n<li>Alur akhir, yaitu bagian yang menunjukkan penyelesaian konflik dan akibatnya bagi tokoh-tokoh.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Latar\"><\/span>Latar<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Latar adalah tempat, waktu, dan suasana yang menjadi latar belakang cerita. Latar cerita rakyat biasanya menggambarkan kondisi geografis, sosial, budaya, atau sejarah suatu daerah atau bangsa. Latar cerita rakyat bisa berpengaruh terhadap alur, tema, atau tokoh dalam cerita. Contoh latar cerita rakyat adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Latar tempat: hutan, gunung, laut, desa, kota, istana, dll.<\/li>\n<li>Latar waktu: masa lampau, masa kini, masa depan, musim hujan, musim kemarau, siang hari, malam hari, dll.<\/li>\n<li>Latar suasana: tenang, tegang, sedih, gembira, menakutkan, mengharukan, dll.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Amanat\"><\/span>Amanat<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Amanat adalah pesan moral, ajaran, atau hikmah yang ingin disampaikan oleh pengarang atau penutur cerita kepada pembaca atau pendengar. Amanat cerita rakyat biasanya bersifat universal dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Amanat cerita rakyat bisa disampaikan secara langsung atau tidak langsung oleh pengarang atau penutur cerita. Contoh amanat cerita rakyat adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Amanat langsung: \u201cDari cerita ini kita dapat belajar bahwa kita harus bersikap jujur dan tidak boleh berbohong.\u201d<\/li>\n<li>Amanat tidak langsung: \u201cDari cerita ini kita dapat menyimpulkan bahwa kebohongan akan terbongkar pada akhirnya dan menimbulkan akibat yang buruk.\u201d<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Gaya_Bahasa\"><\/span>Gaya Bahasa<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Gaya bahasa adalah cara pengarang atau penutur cerita menggunakan bahasa untuk menyampaikan maksud dan tujuan cerita. Gaya bahasa cerita rakyat biasanya sederhana, lugas, dan mudah dimengerti oleh pembaca atau pendengar. Gaya bahasa cerita rakyat bisa meliputi:<\/p>\n<ul>\n<li>Pilihan kata, yaitu pemilihan kata-kata yang sesuai dengan tema, tokoh, latar, dan amanat cerita. Pilihan kata cerita rakyat biasanya menggunakan bahasa sehari-hari, bahasa daerah, atau bahasa klasik tergantung pada sumber dan asal cerita.<\/li>\n<li>Kalimat, yaitu penyusunan kata-kata menjadi kalimat yang bermakna dan berfungsi dalam cerita. Kalimat cerita rakyat biasanya menggunakan pola kalimat sederhana, majemuk, atau campuran tergantung pada alur dan gaya penuturan cerita.<\/li>\n<li>Paragraf, yaitu pengelompokan kalimat-kalimat yang membahas satu pokok pikiran dalam cerita. Paragraf cerita rakyat biasanya terdiri dari kalimat utama dan kalimat penjelas yang mendukung ide pokok paragraf.<\/li>\n<li>Alinea, yaitu pengelompokan paragraf-paragraf yang membentuk satu bagian dalam cerita. Alinea cerita rakyat biasanya menandai perubahan alur, tokoh, latar, atau tema dalam cerita.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Nilai_Budaya\"><\/span>Nilai Budaya<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Nilai budaya adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan kebudayaan suatu daerah atau bangsa yang terkandung dalam cerita. Nilai budaya cerita rakyat biasanya mencerminkan kearifan lokal, adat istiadat, kepercayaan, norma, atau etika masyarakat. Nilai budaya cerita rakyat bisa berupa:<\/p>\n<ul>\n<li>Nilai religius, yaitu nilai-nilai yang berkaitan dengan agama atau kepercayaan masyarakat. Contoh: \u201cCerita Sangkuriang mengandung nilai religius tentang larangan menikah dengan saudara kandung.\u201d<\/li>\n<li>Nilai sosial, yaitu nilai-nilai yang berkaitan dengan hubungan antara individu atau kelompok dalam masyarakat. Contoh: \u201cCerita Lutung Kasarung mengandung nilai sosial tentang pentingnya menghormati orang tua dan saudara.\u201d<\/li>\n<li>Nilai moral, yaitu nilai-nilai yang berkaitan dengan perilaku baik atau buruk dalam masyarakat. Contoh: \u201cCerita Timun Mas mengandung nilai moral tentang akibat buruk dari keserakahan dan kejahatan.\u201d<\/li>\n<li>Nilai estetis, yaitu nilai-nilai yang berkaitan dengan keindahan atau kesenian dalam masyarakat. Contoh: \u201cCerita Roro Jonggrang mengandung nilai estetis tentang keajaiban arsitektur candi Prambanan.\u201d<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Unsur_Ekstrinsik\"><\/span>Unsur Ekstrinsik<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berasal dari luar cerita, tetapi mempengaruhi pembentukan dan pemaknaan cerita. Unsur ekstrinsik cerita rakyat biasanya berkaitan dengan latar belakang pengarang atau penutur cerita, konteks sejarah atau sosial, atau tujuan dan fungsi cerita. Unsur ekstrinsik cerita rakyat bisa berupa:<\/p>\n<ul>\n<li>Latar belakang pengarang atau penutur cerita, yaitu asal usul, identitas, pendidikan, pengalaman, atau pandangan hidup pengarang atau penutur cerita. Latar belakang pengarang atau penutur cerita bisa mempengaruhi pilihan tema, tokoh, alur, latar, amanat, atau gaya bahasa dalam cerita. Contoh: \u201cCerita Sangkuriang berasal dari Jawa Barat dan ditulis oleh Ajip Rosidi, seorang sastrawan yang lahir dan besar di daerah tersebut.\u201d<\/li>\n<li>Konteks sejarah atau sosial, yaitu keadaan politik, ekonomi, budaya, atau agama yang sedang berlangsung pada saat cerita dibuat atau diceritakan. Konteks sejarah atau sosial bisa mempengaruhi latar, konflik, nilai budaya, atau pesan yang ingin disampaikan dalam cerita. Contoh: \u201cCerita Bawang Merah dan Bawang Putih mencerminkan kondisi masyarakat feodal yang masih mengenal sistem kasta dan perbudakan.\u201d<\/li>\n<li>Tujuan dan fungsi cerita, yaitu alasan atau maksud pengarang atau penutur cerita membuat atau menceritakan cerita tersebut. Tujuan dan fungsi cerita bisa berupa menghibur, mendidik, melestarikan budaya, mengkritik keadaan, atau menyampaikan aspirasi. Contoh: \u201cCerita Loro Jonggrang dibuat untuk melestarikan budaya Jawa dan menghormati leluhur yang telah membangun candi Prambanan.\u201d<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dari lisan masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Cerita rakyat biasanya&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45266,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[85],"tags":[],"class_list":["post-5212","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5212","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5212"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5212\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5212"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5212"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5212"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}