{"id":5222,"date":"2023-09-04T12:00:03","date_gmt":"2023-09-04T12:00:03","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=5222"},"modified":"2023-09-04T12:00:03","modified_gmt":"2023-09-04T12:00:03","slug":"ciri-kebahasaan-cerita-rakyat-bahasa-fantasi-struktur-dan-ungkapan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/ciri-kebahasaan-cerita-rakyat-bahasa-fantasi-struktur-dan-ungkapan.html","title":{"rendered":"Ciri Kebahasaan Cerita Rakyat: Bahasa, Fantasi, Struktur, dan Ungkapan"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_82_2 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/ciri-kebahasaan-cerita-rakyat-bahasa-fantasi-struktur-dan-ungkapan.html\/#1_Menggunakan_Bahasa_Sederhana_dan_Mudah_Dimengerti\" >1. Menggunakan Bahasa Sederhana dan Mudah Dimengerti<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/ciri-kebahasaan-cerita-rakyat-bahasa-fantasi-struktur-dan-ungkapan.html\/#2_Menggunakan_Unsur-unsur_Fantasi_dan_Khayalan\" >2. Menggunakan Unsur-unsur Fantasi dan Khayalan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/ciri-kebahasaan-cerita-rakyat-bahasa-fantasi-struktur-dan-ungkapan.html\/#3_Menggunakan_Struktur_Cerita_yang_Sama\" >3. Menggunakan Struktur Cerita yang Sama<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/ciri-kebahasaan-cerita-rakyat-bahasa-fantasi-struktur-dan-ungkapan.html\/#4_Menggunakan_Ungkapan-ungkapan_Khas\" >4. Menggunakan Ungkapan-ungkapan Khas<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<div class=\"content\" tabindex=\"0\">\n<div class=\"ac-container ac-adaptiveCard\">\n<div class=\"ac-textBlock\">\n<p>Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dari lisan atau tradisi masyarakat di suatu daerah. Cerita rakyat biasanya mengandung nilai-nilai moral, budaya, sejarah, atau kearifan lokal yang ingin disampaikan kepada generasi berikutnya. Cerita rakyat memiliki beberapa ciri kebahasaan yang membedakannya dari jenis cerita lain, antara lain:<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Menggunakan_Bahasa_Sederhana_dan_Mudah_Dimengerti\"><\/span>1. Menggunakan Bahasa Sederhana dan Mudah Dimengerti<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Cerita rakyat menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh masyarakat luas, karena cerita rakyat ditujukan untuk semua kalangan. Bahasa yang digunakan juga sesuai dengan latar belakang sosial budaya masyarakat asal cerita. Misalnya, cerita rakyat dari Jawa menggunakan bahasa Jawa, cerita rakyat dari Sumatera menggunakan bahasa Melayu, dan seterusnya. Bahasa yang digunakan juga tidak terlalu formal atau kaku, melainkan lebih santai dan bersahabat.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Menggunakan_Unsur-unsur_Fantasi_dan_Khayalan\"><\/span>2. Menggunakan Unsur-unsur Fantasi dan Khayalan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Cerita rakyat sering menggunakan unsur-unsur fantasi dan khayalan yang tidak masuk akal atau tidak sesuai dengan kenyataan. Hal ini karena cerita rakyat ingin menarik perhatian pembaca atau pendengar dengan cara menghadirkan tokoh-tokoh atau peristiwa-peristiwa yang luar biasa dan menakjubkan. Misalnya, cerita rakyat tentang Sangkuriang yang bisa memindahkan gunung, cerita rakyat tentang Timun Mas yang bisa melawan raksasa dengan sayuran, atau cerita rakyat tentang Malin Kundang yang menjadi batu karena durhaka.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Menggunakan_Struktur_Cerita_yang_Sama\"><\/span>3. Menggunakan Struktur Cerita yang Sama<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Cerita rakyat memiliki struktur cerita yang sama, yaitu terdiri dari orientasi, komplikasi, dan resolusi. Orientasi adalah bagian awal cerita yang memperkenalkan tokoh-tokoh, latar tempat dan waktu, serta alur cerita. Komplikasi adalah bagian tengah cerita yang menampilkan konflik atau masalah yang dihadapi oleh tokoh-tokoh. Resolusi adalah bagian akhir cerita yang menampilkan penyelesaian konflik atau masalah tersebut. Struktur cerita ini membantu pembaca atau pendengar untuk mengikuti alur cerita dengan mudah dan mengetahui pesan moral yang ingin disampaikan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Menggunakan_Ungkapan-ungkapan_Khas\"><\/span>4. Menggunakan Ungkapan-ungkapan Khas<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Cerita rakyat juga menggunakan unggkapan-ungkapan khas yang menjadi ciri khas dari cerita tersebut. Ungkapan-ungkapan ini biasanya berupa kata-kata pembuka atau penutup cerita, kata-kata penghubung antara bagian-bagian cerita, atau kata-kata penegasan atau penjelasan. Misalnya, ungkapan \u201cAlkisah pada zaman dahulu kala\u2026\u201d sebagai pembuka cerita, ungkapan \u201cLalu\u2026\u201d atau \u201cKemudian\u2026\u201d sebagai penghubung antara bagian-bagian cerita, atau ungkapan \u201cKonon\u2026\u201d atau \u201cKatanya\u2026\u201d sebagai penegasan atau penjelasan.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dari lisan atau tradisi masyarakat di suatu daerah. Cerita rakyat biasanya mengandung nilai-nilai moral, budaya, sejarah, atau kearifan lokal&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[85],"tags":[],"class_list":["post-5222","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5222","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5222"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5222\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5222"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5222"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5222"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}