{"id":6977,"date":"2023-09-20T02:57:03","date_gmt":"2023-09-20T02:57:03","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=6977"},"modified":"2023-12-06T00:57:08","modified_gmt":"2023-12-06T00:57:08","slug":"kenapa-disebut-risol-ini-penjelasannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kenapa-disebut-risol-ini-penjelasannya.html","title":{"rendered":"Kenapa disebut Risol? Ini Penjelasannya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Daftar Isi:<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kenapa-disebut-risol-ini-penjelasannya.html\/#Asal-usul_Nama_Risol\" >Asal-usul Nama Risol<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kenapa-disebut-risol-ini-penjelasannya.html\/#Sejarah_Risol_di_Indonesia\" >Sejarah Risol di Indonesia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/kenapa-disebut-risol-ini-penjelasannya.html\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<div class=\"content\" tabindex=\"0\">\n<div class=\"ac-container ac-adaptiveCard\">\n<div class=\"ac-textBlock\">\n<p>Risol adalah salah satu makanan khas Indonesia yang terbuat dari kulit lumpia yang diisi dengan berbagai macam bahan, seperti sayuran, daging, keju, atau cokelat. Risol biasanya digoreng hingga berwarna kuning kecoklatan dan renyah, kemudian disajikan dengan saus sambal atau saus tomat. Risol sangat populer di Indonesia dan bisa ditemukan di berbagai tempat, mulai dari warung kaki lima hingga restoran mewah. Namun, tahukah Anda mengapa makanan ini disebut risol? Apa asal-usul dan sejarahnya? Mari kita simak penjelasannya di bawah ini.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Asal-usul_Nama_Risol\"><\/span>Asal-usul Nama Risol<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Nama risol berasal dari kata <strong>rissole<\/strong>, yang dalam bahasa Prancis berarti <strong>kue daging<\/strong>. Rissole adalah makanan yang terbuat dari daging cincang yang dibentuk menjadi bulat pipih, lalu dilapisi dengan tepung roti atau adonan dan digoreng. Rissole merupakan makanan yang populer di beberapa negara Eropa, seperti Prancis, Portugal, Spanyol, dan Inggris. Rissole juga dikenal di beberapa negara lain dengan nama yang berbeda, seperti <strong>croquette<\/strong> di Belanda dan Jepang, <strong>kroket<\/strong> di Indonesia, <strong>empanada<\/strong> di Amerika Latin, dan <strong>samosa<\/strong> di India.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sejarah_Risol_di_Indonesia\"><\/span>Sejarah Risol di Indonesia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Risol masuk ke Indonesia melalui pengaruh budaya kolonial Belanda pada abad ke-19. Pada saat itu, Belanda membawa berbagai makanan khas mereka ke Indonesia, termasuk rissole. Rissole Belanda biasanya berisi daging sapi atau ayam yang dicampur dengan bumbu-bumbu seperti peterseli, bawang putih, dan pala. Kulitnya terbuat dari adonan tepung terigu yang tipis dan lembut. Rissole Belanda sering disajikan sebagai hidangan pembuka atau camilan.<\/p>\n<p>Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan selera masyarakat Indonesia, rissole mengalami berbagai modifikasi dan adaptasi. Kulitnya menjadi lebih tebal dan renyah dengan menggunakan kulit lumpia yang terbuat dari tepung beras. Isinya juga menjadi lebih beragam dan kreatif dengan menambahkan sayuran, keju, cokelat, atau bahkan mie goreng. Sausnya juga berubah dari saus putih atau saus tomat menjadi saus sambal yang lebih pedas dan sesuai dengan lidah Indonesia. Dengan begitu, rissole menjadi risol, sebuah makanan khas Indonesia yang memiliki ciri khas tersendiri.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Risol adalah makanan khas Indonesia yang terbuat dari kulit lumpia yang diisi dengan berbagai macam bahan. Risol berasal dari kata rissole, yang dalam bahasa Prancis berarti kue daging. Risol masuk ke Indonesia melalui pengaruh budaya kolonial Belanda pada abad ke-19. Risol mengalami berbagai modifikasi dan adaptasi sesuai dengan perkembangan zaman dan selera masyarakat Indonesia. Risol menjadi salah satu makanan yang populer dan disukai oleh banyak orang.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Risol adalah salah satu makanan khas Indonesia yang terbuat dari kulit lumpia yang diisi dengan berbagai macam bahan, seperti sayuran,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45266,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[85],"tags":[],"class_list":["post-6977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6977"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6977\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}